Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Arif Yudistira, Editor: Sholahuddin
Jumat, 13 Februari 2026 17:01 WIB
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Arif Yudistira

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis pengaderan dan juga ihwal kemandirian Muhammadiyah di tingkat bawah (Cabang dan Ranting).

Dua persoalan ini langsung dijawab dengan masuknya “darah segar” Muhammadiyah yang menduduki tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, baik di bidang kader sendiri maupun bidang yang lain. Selain itu, program yang menonjol lainnya adalah penguatan kader baik ideologi maupun dari sisi sistem dengan masifikasi Baitul Arqam baik dari Pimpinan Pusat, Wilayah, Daerah hingga Cabang dan Ranting.

Selain problem pengaderan, Muhammadiyah juga mengalami problem krusial, yakni perihal kemandirian ekonomi terutama di tingkat basis (Cabang dan Ranting).  Terkadang kita lupa, bahwa Muhammadiyah yang besar seperti sekarang ini, tidak akan berhasil bila tidak ditopang oleh Cabang dan Ranting yang maju, mandiri dan juga efektif dalam menyuarakan gerakan Islam. Denyut nadi Muhammadiyah di akar rumput itulah yang menjadi cermin bagaimana roda dan gerakan Persyarikatan itu tumbuh. Ranting dan Cabang Muhammadiyah terbaik adalah Ranting dan Cabang yang mampu menghidupkan dua ciri gerakan.

Muhammadiyah adalah gerakan kesukarelawanan dan amal sosial. Dari segi gerakan kesukarelawanan, sejak awal berdiri, Muhammadiyah sudah mencontohkan bahwa masuk ke Persyarikatan itu gerakan yang menggembirakan, menyenangkan. Faktor utama munculnya gerakan kesukarelawanan ini adalah kesadaran masuk atau menjalankan agama Islam itu sendiri. Kedua, karena pada masa itu, Kiai Ahmad Dahlan, selain karismatik dan teguh dalam beragama, juga dikenal sebagai kiai yang dekat dan sayang kepada muridnya. Maka tidak heran, murid-muridnya menganggap pelajaran Kiai Dahlan adalah rasional, mudah dicerna dan terbuka.

Dari cerita tersebut, kita dapati bahwa pemimpin Ranting yang amanah, serta mampu membawa pada gerakan kesukarelawanan, akan lebih cepat berkembang.  Kunci sukses perkembangan dakwah di tingkat Cabang dan Ranting adalah amal sosial. Bila berbicara aspek ini, tentu kita bisa merujuk pada cerita Kiai Dahlan. Kiai Dahlan sendiri bukan cuma rela, tetapi mengikhlaskan diri dan rumahnya menjadi tempat dakwah dan amal sosial. Kelak kita tahu, rumah Kiai Dahlan menjadi bibliotek (perpustakaan) terbesar Muhammadiyah kala itu. Dahlan juga menjadi teladan dalam amal sosial.

Dakwah Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai dakwah yang luwes. Prof. Ahmad Najib Burhani menyebut “memurnikan tanpa memusnahkan”. Gerakan purifikasi Muhammadiyah dilandasi pada konsep penyadaran dan pengetahuan. Bukan didasarkan pada “pokoke melu“, atau dalam adagium yang populer di masyarakat Jawa, “swargo nunut, neroko katut“. Itulah mengapa Muhammadiyah melarang taklid.

Dalam dakwah kultural Muhammadiyah di akar rumput seperti Ranting dan Cabang, Muhammadiyah harus mampu membawa prinsip dakwah yang tegas tapi santun. Sebab, kita juga perlu memandang masyarakat dakwah kita. Bila dulu Kiai Dahlan bisa luwes saat berdakwah dengan ulama keraton, Kiai Dahlan juga pandai menempatkan diri saat berhadapan dengan muridnya yang masih awam.

Dalam dakwah yang semakin maju dan banyak tantangan, maka diperlukan da’i Muhammadiyah yang mumpuni, luwes dan juga ulama-intelektual yang cerdas. Artinya, jika umat atau jemaah membutuhkan rujukan otoritatif Al-Qur’an dan sunah, maka masyarakat tidak bingung.

Tata Kelola dan Manajemen

Mendiang Rosyad Saleh yang merupakan organisatoris tulen Muhammadiyah memberi catatan penting tentang masih lemahnya tata kelola dan manajemen dalam internal organisasi Muhammadiyah. Dalam tata kelola keuangan, tata kelola administratif dan tata kelola kelembagaan, Muhammadiyah masih harus terus menerus mengevaluasi diri.

Muhammadiyah memang bukan gerakan yang gondal-gandul, kata Pak A.R. Fachrudin, yang hanya mengekor ke sana ke mari. Justru Muhammadiyah adalah gerakan yang kontributif, dan mencerahkan umat dan bangsa. Untuk itulah, tata kelola dan manajemen organisasi di Muhammadiyah adalah hal penting. Meminjam kata-kata dari mendiang Buya Syafii Maarif, “Jika kiamat masih kurang satu hari, maka Muhammadiyah akan tetap rapat sebelum hari itu tiba”. Artinya, Muhammadiyah akan terus memikirkan umat dan masyarakat.

M.T. Arifin dalam bukunya Potret Muhammadiyah yang Berubah (2016), memotret perbedaan karakter pimpinan Muhammadiyah dan juga kadernya. Bila dulu kalangan kiai maupun pengusaha yang jadi pimpinan, kini banyak kalangan profesional seperti pegawai negeri. Implikasinya adalah corak keputusan dan kebijakannya menjadi turut berubah. M.T. Arifin menyebut tantangannya adalah meruwat dan merawat dakwah di kalangan akar rumput harus tetap dijalankan meski semakin berkurang.

Menata Ranting dan Cabang Muhammadiyah memang membutuhkan strategi. Pasca-Muktamar ke-48 di Solo pada 2022 lalu, pengembangan dakwah Cabang dan Ranting menjadi perhatian Muhammadiyah. Salah satunya adalah pengembangan masjid.

Kita tidak boleh lupa, Kiai Dahlan dengan langgarnya yang ikonik adalah simbol bahwa Muhammadiyah tidak pernah meninggalkan masjid. Basis jemaah yang ada di Muhammadiyah adalah para penggerak dan aktivis masjid.

Muhammadiyah tidak hanya harus menggerakkan jemaahnya dan anggotanya memakmurkan masjid, tetapi juga menjadikan masjid sebagai sentral berbagai gerakan; intelektual dan ekonomi umat.

Adanya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), pengajian remaja dan pengajian Ranting-Cabang di masjid. Tetapi juga pemikiran ekonomi yang mandiri dengan adanya TokoMu, dan produk lokal lainnya juga lahir dari masjid. Termasuk pengembangan amal usaha di pendidikan, sosial dan lain sebagainya.

Ranting dan Cabang Muhammadiyah perlu menggerakkan dan peduli terhadap nasib aset Muhammadiyah melalui badan wakaf. Setelah itu, perlu memikirkan bagaimana aset tersebut dapat digerakkan untuk menghasilkan keuntungan yang turut menggerakkan dakwah Muhammadiyah baik melalui unit ekonomi maupun unit lainnya seperti peternakan dan perikanan yang menopang aspek ketercukupan pangan dan ekonomi.

Membangun Ranting unggulan tidak semata hanya menekankan kemandirian, tetapi juga memperhatikan aspek pengaderan. Ranting dan Cabang Muhammadiyah harus membangun kanal peran lintas usia: TPA/Hizbul Wathan (anak-anak), IPM/NA/IMM (remaja), majelis taklim (dewasa), serta forum lansia. Setiap kader mendapat kesempatan “magang kepemimpinan” (MC, penulis laporan, bendahara).

Selain itu, pimpinan Ranting dan Cabang juga dituntut untuk memanfaatkan teknologi digital seperti,WhatsApp group, formulir online untuk iuran dan pelaporan, template poster kajian dan lain lain sebagai alat dakwah berkemajuan.

Akhirnya, Ranting Muhammadiyah dan Cabang Muhammadiyah unggulan bukan sekadar mampu berdiri secara finansial, tetapi juga mampu menginisiasi program, merekrut kader, dan mengelola organisasi dengan visioner dan berkelanjutan. Dengan fondasi kultural, manajerial, dan jejaring sosial, Ranting mampu menjadi lokomotif lokal yang melahirkan kader masa depan dan respon nyata terhadap kebutuhan umat.

Penulis Adalah aktivis JIMM, Ketua MPKSDI Muhammadiyah Cabang Gantiwarno, Pegiat Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah

Sumber: Majalah Langkah Baru edisi 23/Januari-April 2026 

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...