Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis pengaderan dan juga ihwal kemandirian Muhammadiyah di tingkat bawah (Cabang dan Ranting).
Dua persoalan ini langsung dijawab dengan masuknya “darah segar” Muhammadiyah yang menduduki tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, baik di bidang kader sendiri maupun bidang yang lain. Selain itu, program yang menonjol lainnya adalah penguatan kader baik ideologi maupun dari sisi sistem dengan masifikasi Baitul Arqam baik dari Pimpinan Pusat, Wilayah, Daerah hingga Cabang dan Ranting.
Selain problem pengaderan, Muhammadiyah juga mengalami problem krusial, yakni perihal kemandirian ekonomi terutama di tingkat basis (Cabang dan Ranting). Terkadang kita lupa, bahwa Muhammadiyah yang besar seperti sekarang ini, tidak akan berhasil bila tidak ditopang oleh Cabang dan Ranting yang maju, mandiri dan juga efektif dalam menyuarakan gerakan Islam. Denyut nadi Muhammadiyah di akar rumput itulah yang menjadi cermin bagaimana roda dan gerakan Persyarikatan itu tumbuh. Ranting dan Cabang Muhammadiyah terbaik adalah Ranting dan Cabang yang mampu menghidupkan dua ciri gerakan.
Muhammadiyah adalah gerakan kesukarelawanan dan amal sosial. Dari segi gerakan kesukarelawanan, sejak awal berdiri, Muhammadiyah sudah mencontohkan bahwa masuk ke Persyarikatan itu gerakan yang menggembirakan, menyenangkan. Faktor utama munculnya gerakan kesukarelawanan ini adalah kesadaran masuk atau menjalankan agama Islam itu sendiri. Kedua, karena pada masa itu, Kiai Ahmad Dahlan, selain karismatik dan teguh dalam beragama, juga dikenal sebagai kiai yang dekat dan sayang kepada muridnya. Maka tidak heran, murid-muridnya menganggap pelajaran Kiai Dahlan adalah rasional, mudah dicerna dan terbuka.
Dari cerita tersebut, kita dapati bahwa pemimpin Ranting yang amanah, serta mampu membawa pada gerakan kesukarelawanan, akan lebih cepat berkembang. Kunci sukses perkembangan dakwah di tingkat Cabang dan Ranting adalah amal sosial. Bila berbicara aspek ini, tentu kita bisa merujuk pada cerita Kiai Dahlan. Kiai Dahlan sendiri bukan cuma rela, tetapi mengikhlaskan diri dan rumahnya menjadi tempat dakwah dan amal sosial. Kelak kita tahu, rumah Kiai Dahlan menjadi bibliotek (perpustakaan) terbesar Muhammadiyah kala itu. Dahlan juga menjadi teladan dalam amal sosial.
Dakwah Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai dakwah yang luwes. Prof. Ahmad Najib Burhani menyebut “memurnikan tanpa memusnahkan”. Gerakan purifikasi Muhammadiyah dilandasi pada konsep penyadaran dan pengetahuan. Bukan didasarkan pada “pokoke melu“, atau dalam adagium yang populer di masyarakat Jawa, “swargo nunut, neroko katut“. Itulah mengapa Muhammadiyah melarang taklid.
Dalam dakwah kultural Muhammadiyah di akar rumput seperti Ranting dan Cabang, Muhammadiyah harus mampu membawa prinsip dakwah yang tegas tapi santun. Sebab, kita juga perlu memandang masyarakat dakwah kita. Bila dulu Kiai Dahlan bisa luwes saat berdakwah dengan ulama keraton, Kiai Dahlan juga pandai menempatkan diri saat berhadapan dengan muridnya yang masih awam.
Dalam dakwah yang semakin maju dan banyak tantangan, maka diperlukan da’i Muhammadiyah yang mumpuni, luwes dan juga ulama-intelektual yang cerdas. Artinya, jika umat atau jemaah membutuhkan rujukan otoritatif Al-Qur’an dan sunah, maka masyarakat tidak bingung.
Tata Kelola dan Manajemen
Mendiang Rosyad Saleh yang merupakan organisatoris tulen Muhammadiyah memberi catatan penting tentang masih lemahnya tata kelola dan manajemen dalam internal organisasi Muhammadiyah. Dalam tata kelola keuangan, tata kelola administratif dan tata kelola kelembagaan, Muhammadiyah masih harus terus menerus mengevaluasi diri.
Muhammadiyah memang bukan gerakan yang gondal-gandul, kata Pak A.R. Fachrudin, yang hanya mengekor ke sana ke mari. Justru Muhammadiyah adalah gerakan yang kontributif, dan mencerahkan umat dan bangsa. Untuk itulah, tata kelola dan manajemen organisasi di Muhammadiyah adalah hal penting. Meminjam kata-kata dari mendiang Buya Syafii Maarif, “Jika kiamat masih kurang satu hari, maka Muhammadiyah akan tetap rapat sebelum hari itu tiba”. Artinya, Muhammadiyah akan terus memikirkan umat dan masyarakat.
M.T. Arifin dalam bukunya Potret Muhammadiyah yang Berubah (2016), memotret perbedaan karakter pimpinan Muhammadiyah dan juga kadernya. Bila dulu kalangan kiai maupun pengusaha yang jadi pimpinan, kini banyak kalangan profesional seperti pegawai negeri. Implikasinya adalah corak keputusan dan kebijakannya menjadi turut berubah. M.T. Arifin menyebut tantangannya adalah meruwat dan merawat dakwah di kalangan akar rumput harus tetap dijalankan meski semakin berkurang.
Menata Ranting dan Cabang Muhammadiyah memang membutuhkan strategi. Pasca-Muktamar ke-48 di Solo pada 2022 lalu, pengembangan dakwah Cabang dan Ranting menjadi perhatian Muhammadiyah. Salah satunya adalah pengembangan masjid.
Kita tidak boleh lupa, Kiai Dahlan dengan langgarnya yang ikonik adalah simbol bahwa Muhammadiyah tidak pernah meninggalkan masjid. Basis jemaah yang ada di Muhammadiyah adalah para penggerak dan aktivis masjid.
Muhammadiyah tidak hanya harus menggerakkan jemaahnya dan anggotanya memakmurkan masjid, tetapi juga menjadikan masjid sebagai sentral berbagai gerakan; intelektual dan ekonomi umat.
Adanya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), pengajian remaja dan pengajian Ranting-Cabang di masjid. Tetapi juga pemikiran ekonomi yang mandiri dengan adanya TokoMu, dan produk lokal lainnya juga lahir dari masjid. Termasuk pengembangan amal usaha di pendidikan, sosial dan lain sebagainya.
Ranting dan Cabang Muhammadiyah perlu menggerakkan dan peduli terhadap nasib aset Muhammadiyah melalui badan wakaf. Setelah itu, perlu memikirkan bagaimana aset tersebut dapat digerakkan untuk menghasilkan keuntungan yang turut menggerakkan dakwah Muhammadiyah baik melalui unit ekonomi maupun unit lainnya seperti peternakan dan perikanan yang menopang aspek ketercukupan pangan dan ekonomi.
Membangun Ranting unggulan tidak semata hanya menekankan kemandirian, tetapi juga memperhatikan aspek pengaderan. Ranting dan Cabang Muhammadiyah harus membangun kanal peran lintas usia: TPA/Hizbul Wathan (anak-anak), IPM/NA/IMM (remaja), majelis taklim (dewasa), serta forum lansia. Setiap kader mendapat kesempatan “magang kepemimpinan” (MC, penulis laporan, bendahara).
Selain itu, pimpinan Ranting dan Cabang juga dituntut untuk memanfaatkan teknologi digital seperti,WhatsApp group, formulir online untuk iuran dan pelaporan, template poster kajian dan lain lain sebagai alat dakwah berkemajuan.
Akhirnya, Ranting Muhammadiyah dan Cabang Muhammadiyah unggulan bukan sekadar mampu berdiri secara finansial, tetapi juga mampu menginisiasi program, merekrut kader, dan mengelola organisasi dengan visioner dan berkelanjutan. Dengan fondasi kultural, manajerial, dan jejaring sosial, Ranting mampu menjadi lokomotif lokal yang melahirkan kader masa depan dan respon nyata terhadap kebutuhan umat.
Penulis Adalah aktivis JIMM, Ketua MPKSDI Muhammadiyah Cabang Gantiwarno, Pegiat Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah
Sumber: Majalah Langkah Baru edisi 23/Januari-April 2026
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...
Sepucuk Surat untuk Raja Juli Antoni
Pernahkah kita bertanya, dari mana datangnya gelondongan kayu raksasa yang terbawa arus banjir di Aceh hingga Sumatera Barat? Mengapa setiap hujan besar selalu berujung pada...






