Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar bagi mereka yang tidak memperhatikan pendidikan agama anak. Hal ini dapat menjelaskan bahwa pendidikan anak adalah kewajiban bersama, ibu dan ayah. Karena peran ibu dan ayah sama-sama penting bagi kehidupan anak, termasuk dalam perkembangan pendidikan anak (Febrianingsih dan Sari 2020).
Dalam kehidupan seorang anak perempuan, ayah bukan sekadar sosok pencari nafkah, tetapi juga figur penting yang membentuk karakter, kepercayaan diri, dan arah masa depannya. Bahkan, Al-Qur’an menggambarkan secara jelas terkait peran ayah melalui kisah-kisah dalam Al-Qur’an, seperti Nabi Ibrahim. Nabi Ya’qub, dan Luqman al-Hakim. Mereka bukan hanya menjadi pemimpin keluarga, tetapi juga pendidik, teladan, dan pembimbing spiritual bagi anak-anaknya. Ayah tidak hanya bertugas memberikan nafkah, tetapi juga membina, menasihati, dan melindungi anak-anaknya secara menyeluruh. Hal ini menunjukkan bahwa kasih sayang ayah bukan sekadar perasaan, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata dalam mendidik dan membimbing (Ilham 2021).
Kehadiran ayah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan identitas diri. Anak perempuan yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ayah cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi serta mampu membangun relasi sosial yang sehat. Sebaliknya, kurangnya perhatian ayah dapat memunculkan rasa kurang percaya diri dan kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal.
Perkembangan Sosial dan Emosional Anak
Dari sisi psikologis, peran ayah sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial dan emosional anak. Ayah tidak hanya menjadi figur otoritas, tetapi juga sumber dukungan emosional yang membantu anak memahami perasaan dan lingkungan sosialnya. Keterlibatan ayah dalam kehidupan anak terbukti berkontribusi pada perkembangan kognitif, motorik, dan sosial yang lebih optimal. Bahkan, pengalaman interaksi dengan ayah dapat menjadi dasar dalam pembentukan struktur otak anak yang berkaitan dengan emosi dan perilaku. Namun, kenyataan yang terjadi di masyarakat peran ayah masih sering terabaikan. Banyak ayah yang belum terlibat secara aktif dalam pengasuhan anak karena kesibukan atau anggapan bahwa pengasuhan adalah tugas ibu, hanya sebagian kecil ayah yang benar-benar terlibat dalam proses pengasuhan sehari-hari. Padahal, keterlibatan ayah justru menjadi kunci dalam membentuk kepribadian anak yang seimbang. (Shelomita dan Wahyuni 2023).
Selain itu, dalam konteks pendidikan, dukungan ayah juga sangat menentukan. Masih terdapat sebagian masyarakat yang memandang pendidikan tinggi bagi anak perempuan tidak terlalu penting. Pandangan ini sering kali memengaruhi keputusan orang tua dalam menentukan masa depan anak perempuan (Tismini dan Susilawati 2022). Padahal, dalam perspektif Islam, pendidikan merupakan hak sekaligus kewajiban bagi setiap individu, termasuk perempuan. Pendidikan bertujuan membentuk pribadi yang berakhlak mulia, cerdas, dan bermartabat (Ainiyah 2017). Di usia 21-25 tahun saat ini, anak perempuan memerlukan peran ayah terkait eksplorasi karir maupun pendidikan dikarenakan ayah sebagai figur kepala rumah tangga menjadi acuan bagi anak untuk menentukan arah hidupnya. Ayah yang memberikan dukungan terhadap pendidikan anak perempuan akan membantu membuka peluang bagi mereka untuk berkembang secara intelektual dan sosial. Dengan dukungan tersebut, anak perempuan tidak hanya mampu meraih prestasi, tetapi juga berkontribusi bagi keluarga dan masyarakat. Pendidikan anak tidak hanya dimulai setelah lahir, tetapi sejak dalam kandungan. Kisah Maryam dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa pendidikan anak perempuan melibatkan peran orang tua, termasuk ayah, sejak tahap awal kehidupan hingga dewasa (Alwi dan Arsyad 2019). Hal ini menegaskan bahwa kasih sayang dan perhatian orang tua, termasuk ayah, merupakan bagian integral dari proses pendidikan yang berkelanjutan.
Al-Qur’an melalui tokoh-tokoh ayah yang dikisahkannya; yaitu Nabi Ibrahim, Syaikh Madyan, Nabi Nuh, Nabi Ya’kub dan Lukman, menggambarkan bahwa ayah terlibat secara langsung dengan kehidupan anak-anaknya. Meskipun berperan sebagai pencari nafkah, ayah tetap terlibat dengan perkembangan anaknya (Rahmi 2015). Kasih sayang ayah bukan hanya sekadar bentuk afeksi, tetapi merupakan fondasi utama dalam membentuk masa depan anak perempuan. Ayah yang hadir, peduli, dan terlibat aktif akan melahirkan generasi perempuan yang kuat, mandiri, dan berdaya. Sebaliknya, ketidakhadiran ayah dapat meninggalkan kekosongan emosional yang berdampak jangka panjang. Membangun hubungan yang hangat antara ayah dan anak perempuan bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan. Oleh karena itu, sudah saatnya peran ayah tidak lagi dipandang sebelah mata, tetapi ditempatkan sebagai pilar utama dalam tumbuh kembang anak perempuan.
Fitria Latifah
Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta
Daftar Pustaka
Ainiyah, Qurrotul. 2017. “Urgensi Pendidikan Perempuan Dalam Menghadapi Masyarakat Modern.” Halaqa: Islamic Education Journal 1(2): 97–109. doi:10.21070/halaqa.v1i2.1240.
Alwi, Sri Wahyuni, dan M Husni Arsyad. 2019. “Metode Pendidikan Anak Perempuan Perspektif Islam dan Psikologis dalam Q.S. Ali Imran Ayat 35-37.” At-Turats 13(1): 104–20. doi:10.24260/at-turats.v13i1.1184.
Febrianingsih, Dian, dan Putri Nur Indah Sari. 2020. “Peran Ayah dalam Pendidikan Islam Anak Perempuan.” AL-MURABBI: Jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman 6(2): 156–71. doi:10.53627/jam.v6i2.3791.
Ilham, M. Yemmardotillah, Eka Eramahi,. 2021. “Peranan Ayah Dalam Mendidik Anak Menurut Al-Qur’an.” Continuous Education: Journal of Science and Research 2(1): 30–46. doi:10.51178/ce.v2i1.179.
Rahmi, Rahmi. 2015. “TOKOH AYAH DALAM AL-QURAN DAN KETERLIBATANNYA DALAM PEMBINAAN ANAK.” Kafa`ah: Journal of Gender Studies 5(2): 202. doi:10.15548/jk.v5i2.108.
Shelomita, Kireyna, dan Desvi Wahyuni. 2023. “Pentingnya Peran Ayah dalam Mendidik Anak pada Aspek Perkembangan Sosial Emosional.” ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol.3, No.1, Desember 2023 doi: https://doi.org/10.56799/jim.v3i1.2594
Tismini, Tismini, dan Nora Susilawati. 2022. “Persepsi Orang Tua Terhadap Pendidikan Tinggi bagi Anak Perempuan.” Jurnal Sikola: Jurnal Kajian Pendidikan dan Pembelajaran 4(2): 79–89. doi:10.24036/sikola.v4i2.203.
Mendesain Pelepasan dan Mendesain Cari Murid
Membuat acara pelepasan siswa yang meriah memang penting. Menata panggung, menyusun susunan acara, mengundang tamu, hingga mendokumentasikan kegiatan bisa dilakukan dalam hitungan hari atau minggu....
Pendidikan, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa: Refleksi dari Indonesia dan Iran
Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara...
Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?
Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...






