Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Fitria Latifah, Editor: Sholahuddin
Kamis, 16 April 2026 10:27 WIB
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi Meta AI

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar bagi mereka yang tidak memperhatikan pendidikan agama anak. Hal ini dapat menjelaskan bahwa pendidikan anak adalah kewajiban bersama, ibu dan ayah. Karena peran ibu dan ayah sama-sama penting bagi kehidupan anak, termasuk dalam perkembangan pendidikan anak (Febrianingsih dan Sari 2020).

Dalam kehidupan seorang anak perempuan, ayah bukan sekadar sosok pencari nafkah, tetapi juga figur penting yang membentuk karakter, kepercayaan diri, dan arah masa depannya. Bahkan,  Al-Qur’an menggambarkan secara jelas terkait peran ayah melalui kisah-kisah dalam Al-Qur’an, seperti Nabi Ibrahim. Nabi Ya’qub, dan Luqman al-Hakim. Mereka bukan hanya menjadi pemimpin keluarga, tetapi juga pendidik, teladan, dan pembimbing spiritual bagi anak-anaknya. Ayah tidak hanya bertugas memberikan nafkah, tetapi juga membina, menasihati, dan melindungi anak-anaknya secara menyeluruh. Hal ini menunjukkan bahwa kasih sayang ayah bukan sekadar perasaan, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata dalam mendidik dan membimbing (Ilham 2021).

Kehadiran ayah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan identitas diri. Anak perempuan yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ayah cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi serta mampu membangun relasi sosial yang sehat. Sebaliknya, kurangnya perhatian ayah dapat memunculkan rasa kurang percaya diri dan kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal.

Perkembangan Sosial dan Emosional Anak

Dari sisi psikologis, peran ayah sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial dan emosional anak. Ayah tidak hanya menjadi figur otoritas, tetapi juga sumber dukungan emosional yang membantu anak memahami perasaan dan lingkungan sosialnya. Keterlibatan ayah dalam kehidupan anak terbukti berkontribusi pada perkembangan kognitif, motorik, dan sosial yang lebih optimal. Bahkan, pengalaman interaksi dengan ayah dapat menjadi dasar dalam pembentukan struktur otak anak yang berkaitan dengan emosi dan perilaku. Namun, kenyataan yang terjadi di masyarakat peran ayah masih sering terabaikan. Banyak ayah yang belum terlibat secara aktif dalam pengasuhan anak karena kesibukan atau anggapan bahwa pengasuhan adalah tugas ibu, hanya sebagian kecil ayah yang benar-benar terlibat dalam proses pengasuhan sehari-hari. Padahal, keterlibatan ayah justru menjadi kunci dalam membentuk kepribadian anak yang seimbang. (Shelomita dan Wahyuni 2023).

Selain itu, dalam konteks pendidikan, dukungan ayah juga sangat menentukan. Masih terdapat sebagian masyarakat yang memandang pendidikan tinggi bagi anak perempuan tidak terlalu penting. Pandangan ini sering kali memengaruhi keputusan orang tua dalam menentukan masa depan anak perempuan (Tismini dan Susilawati 2022). Padahal, dalam perspektif Islam, pendidikan merupakan hak sekaligus kewajiban bagi setiap individu, termasuk perempuan. Pendidikan bertujuan membentuk pribadi yang berakhlak mulia, cerdas, dan bermartabat (Ainiyah 2017). Di usia 21-25 tahun saat ini, anak  perempuan memerlukan peran ayah terkait  eksplorasi karir maupun pendidikan dikarenakan ayah sebagai figur kepala rumah  tangga menjadi acuan bagi anak untuk  menentukan arah hidupnya. Ayah yang memberikan dukungan terhadap pendidikan anak perempuan akan membantu membuka peluang bagi mereka untuk berkembang secara intelektual dan sosial. Dengan dukungan tersebut, anak perempuan tidak hanya mampu meraih prestasi, tetapi juga berkontribusi bagi keluarga dan masyarakat. Pendidikan anak tidak hanya dimulai setelah lahir, tetapi  sejak dalam kandungan. Kisah Maryam dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa pendidikan anak perempuan melibatkan peran orang tua, termasuk ayah, sejak tahap awal kehidupan hingga dewasa (Alwi dan Arsyad 2019). Hal ini menegaskan bahwa kasih sayang dan perhatian orang tua, termasuk ayah, merupakan bagian integral dari proses pendidikan yang berkelanjutan.

Al-Qur’an melalui tokoh-tokoh ayah yang dikisahkannya; yaitu  Nabi Ibrahim, Syaikh Madyan, Nabi Nuh, Nabi Ya’kub dan Lukman,  menggambarkan bahwa ayah terlibat secara langsung dengan  kehidupan anak-anaknya. Meskipun berperan sebagai pencari nafkah,  ayah tetap terlibat dengan perkembangan anaknya (Rahmi 2015). Kasih sayang ayah bukan hanya sekadar bentuk afeksi, tetapi merupakan fondasi utama dalam membentuk masa depan anak perempuan. Ayah yang hadir, peduli, dan terlibat aktif akan melahirkan generasi perempuan yang kuat, mandiri, dan berdaya. Sebaliknya, ketidakhadiran ayah dapat meninggalkan kekosongan emosional yang berdampak jangka panjang. Membangun hubungan yang hangat antara ayah dan anak perempuan bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan. Oleh karena itu, sudah saatnya peran ayah tidak lagi dipandang sebelah mata, tetapi ditempatkan sebagai pilar utama dalam tumbuh kembang anak perempuan.

Fitria Latifah

Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

Daftar Pustaka

Ainiyah, Qurrotul. 2017. “Urgensi Pendidikan Perempuan Dalam Menghadapi Masyarakat Modern.” Halaqa: Islamic Education Journal 1(2): 97–109. doi:10.21070/halaqa.v1i2.1240.

Alwi, Sri Wahyuni, dan M Husni Arsyad. 2019. “Metode Pendidikan Anak Perempuan Perspektif Islam dan Psikologis dalam Q.S. Ali Imran Ayat 35-37.” At-Turats 13(1): 104–20. doi:10.24260/at-turats.v13i1.1184.

Febrianingsih, Dian, dan Putri Nur Indah Sari. 2020. “Peran Ayah dalam Pendidikan Islam Anak Perempuan.” AL-MURABBI: Jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman 6(2): 156–71. doi:10.53627/jam.v6i2.3791.

Ilham, M. Yemmardotillah, Eka Eramahi,. 2021. “Peranan Ayah Dalam Mendidik Anak Menurut Al-Qur’an.” Continuous Education: Journal of Science and Research 2(1): 30–46. doi:10.51178/ce.v2i1.179.

Rahmi, Rahmi. 2015. “TOKOH AYAH DALAM AL-QURAN DAN KETERLIBATANNYA DALAM PEMBINAAN ANAK.” Kafa`ah: Journal of Gender Studies 5(2): 202. doi:10.15548/jk.v5i2.108.

Shelomita, Kireyna, dan Desvi Wahyuni. 2023. “Pentingnya Peran Ayah dalam Mendidik Anak pada Aspek Perkembangan Sosial Emosional.” ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol.3, No.1, Desember 2023 doi: https://doi.org/10.56799/jim.v3i1.2594

Tismini, Tismini, dan Nora Susilawati. 2022. “Persepsi Orang Tua Terhadap Pendidikan Tinggi bagi Anak Perempuan.” Jurnal Sikola: Jurnal Kajian Pendidikan dan Pembelajaran 4(2): 79–89. doi:10.24036/sikola.v4i2.203.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...

Self-Love dan Konsep Syukur dalam Islam: Mencintai Diri sebagai Amanah Ilahi

Di era media sosial yang serba kompetitif, istilah self-love sering kali disalahpahami sebagai bentuk narsisme atau pemanjaan diri yang berlebihan. Namun, jika kita menggali lebih...

Child Grooming: Kejahatan Tersembunyi di Era Digital dan Tantangan terhadap Perlindungan Anak

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam etika berkomunikasi (Nurrohim, 2024). Internet dan media sosial memungkinkan interaksi tanpa batas ruang...

Valid Nggak Nih? Menguji Keaslian Konten Lewat Kacamata Langit

Daftar IsiSiapa “Si Fasiq” sekarang?Kenapa Otak Kita Gampang Termakan?Panduan Tabayyun dalam 60 DetikMenjadi kritis tidak harus menjadi jurnalis investigasi. Sebelum jempolmu menyentuh tombol share, luangkan 60...

Diam-Diam Menghancurkan: Krisis Kesehatan Mental yang Kita Abaikan di Era Modern

Ada seseorang di kantor Anda yang datang setiap hari, mengerjakan tugasnya, tertawa di saat yang tepat, dan tampak baik-baik saja. Tapi malam harinya, ia berbaring...