Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara tersebut mendidik rakyatnya dan menetapkan standar bagi para pemimpinnya.
Salah satu perbedaan mencolok antara Indonesia dan Iran terlihat pada syarat menjadi anggota legislatif. Di Iran, calon anggota parlemen umumnya harus memiliki pendidikan tinggi serta melalui seleksi administratif dan ideologis yang ketat. Sebaliknya, di Indonesia syarat formal pendidikan anggota DPR cukup lulusan SMA/sederajat. Perbedaan ini menunjukkan dua paradigma berbeda: Iran lebih menekankan kompetensi dan ideologi, sedangkan Indonesia menekankan keterwakilan politik dalam sistem demokrasi.
Perdebatan ini bukan semata soal ijazah, melainkan kualitas pengambilan keputusan. Dalam berbagai diskusi publik, muncul kritik terhadap rendahnya kapasitas sebagian elite politik yang berdampak pada kualitas legislasi, lemahnya argumentasi kebijakan, dan minimnya penggunaan riset sebagai dasar pengambilan keputusan. Sebaliknya, banyak elite Iran berasal dari latar pendidikan tinggi, termasuk doktoral, sehingga kompetensi akademik menjadi salah satu faktor penting dalam kepemimpinan nasional.
Keberhasilan Iran bertahan di tengah embargo dan tekanan internasional juga menarik untuk dicermati. Sejak Revolusi Iran 1979, negara tersebut menghadapi berbagai sanksi, namun tetap mampu berkembang dalam bidang sains, teknologi, dan industri strategis. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang terarah dapat menjadi instrumen penting dalam membangun ketahanan nasional.
Dalam perspektif Émile Durkheim, pendidikan berfungsi membentuk nilai bersama yang menjaga kohesi sosial. Sementara Paulo Freire memandang pendidikan sebagai proses membangun kesadaran kritis. Iran menggabungkan keduanya dengan menjadikan pendidikan sebagai sarana pembentukan identitas nasional sekaligus pengembangan ilmu pengetahuan modern. Hasilnya adalah generasi yang memiliki kemampuan teknis sekaligus daya tahan ideologis.
Dikotomi Pendidikan dan Agama
Indonesia sering terjebak dalam dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan modern. Padahal keduanya dapat berjalan beriringan. Persoalan utama bukan kurangnya kurikulum, melainkan belum jelasnya arah besar pendidikan nasional dalam membentuk karakter, kompetensi, dan kepemimpinan bangsa.
Sejarah Indonesia sendiri membuktikan pentingnya kekuatan mental. Pada masa perjuangan kemerdekaan, rakyat mampu melawan penjajah meski dengan keterbatasan senjata. Namun, tantangan abad ke-21 berbeda. Persaingan kini ditentukan oleh penguasaan teknologi, ekonomi, data, dan inovasi. Semangat tetap penting, tetapi harus ditopang oleh pendidikan berkualitas dan kemampuan nyata.
Dalam konteks pendidikan nasional, Indonesia memiliki keunggulan berupa sistem yang terbuka dan demokratis. Namun, berbagai persoalan masih muncul, seperti kesenjangan kualitas pendidikan, perubahan kurikulum yang terlalu sering, serta lemahnya hubungan antara dunia pendidikan dan kebutuhan kepemimpinan nasional. Akibatnya, pendidikan belum sepenuhnya menjadi jalur strategis dalam mencetak pemimpin yang kompeten.
Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah demokrasi harus mengorbankan kualitas? Demokrasi memang menjamin keterwakilan rakyat, tetapi tanpa standar kompetensi yang memadai, demokrasi berpotensi menghasilkan pemimpin yang populer namun kurang kapabel. Karena itu, demokrasi idealnya dipadukan dengan meritokrasi agar keterwakilan dan kualitas dapat berjalan seimbang.
Pelajaran serupa juga terlihat dalam bidang pertahanan. Iran mengembangkan strategi asimetris melalui rudal presisi dan drone berbiaya rendah yang diproduksi massal. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kekuatan modern tidak selalu bergantung pada alutsista mahal, tetapi pada inovasi, efisiensi, dan kemampuan teknologi. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari investasi jangka panjang pada pendidikan, riset, dan industri dalam negeri.
Jika dibandingkan dengan negara seperti China, tantangan Indonesia semakin jelas. Pada awal 1990-an pendapatan per kapita Indonesia pernah lebih tinggi daripada China. Namun, saat ini China melesat jauh melalui investasi besar pada pendidikan, teknologi, dan industri. Sementara Indonesia masih menghadapi persoalan konsistensi kebijakan dan ketergantungan teknologi.
Refleksi berikutnya adalah arah pendidikan Indonesia. Kita sering mengagumi model pendidikan Skandinavia yang menekankan kreativitas, sekaligus model Asia Timur yang menonjolkan disiplin tinggi. Indonesia belum memiliki desain yang benar-benar tegas. Akibatnya, banyak siswa menyelesaikan pendidikan tanpa arah karier yang jelas, baik menuju dunia kerja maupun pendidikan tinggi.
Padahal Indonesia telah mengalokasikan minimal 20% APBN untuk pendidikan. Persoalannya bukan lagi besar kecilnya anggaran, melainkan efektivitas penggunaannya. Anggaran yang besar belum otomatis menghasilkan kualitas pendidikan yang tinggi apabila tata kelola, pemerataan, pelatihan guru, riset, dan inovasi belum berjalan optimal.
Tantangan lain datang dari era digital. Kehadiran platform global seperti TikTok, Facebook, dan berbagai media sosial telah mengubah perilaku generasi muda. Fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai bentuk soft power digital daripada serangan langsung. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar pembatasan, melainkan penguatan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta pembangunan karakter agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan jati diri.
Indonesia tidak harus menjadi Iran. Sebagai bangsa yang majemuk dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, ada pelajaran penting yang dapat dipetik, yaitu pentingnya arah yang jelas, konsistensi kebijakan, serta keberanian menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara tetap relevan hingga hari ini. Filosofi Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani menegaskan bahwa pendidikan harus membentuk karakter, memberi teladan, membangun semangat, dan mendorong kemandirian. Pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan manusia yang mampu berkarya, berinovasi, dan memimpin.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: apakah pendidikan Indonesia sudah benar-benar menjadi alat pembentuk kekuatan bangsa, atau masih sebatas rutinitas administratif? Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi oleh kualitas pendidikan yang mampu melahirkan generasi cerdas, berkarakter, tangguh, dan siap menghadapi tantangan global
Penulis adalah dosen Politeknik Assalaam Surakarta
Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?
Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...






