Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Ummu Kalsum S, Editor: Sholahuddin
Rabu, 15 April 2026 13:33 WIB
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ummu Kalsum S.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan menyasar jutaan anak sekolah, ibu hamil, serta ibu menyusui di seluruh Indonesia. Dengan alokasi anggaran Rp71 triliun pada tahun pertama dan proyeksi hingga Rp400 triliun jika diperluas menjangkau 82,9 juta penerima manfaat (Transparency International Indonesia, 2025). MBG adalah salah satu program sosial terbesar dalam sejarah Indonesia.

Namun, dalam perjalanannya, program ini justru menemui berbagai persoalan serius yang menggerus kepercayaan publik. Mulai dari dugaan pemangkasan anggaran per porsi, penunjukan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sarat konflik kepentingan, hingga rentetan kasus keracunan massal yang menimpa ribuan anak di berbagai daerah—semua ini menjadi bukti nyata bahwa niat mulia tidak cukup tanpa sistem tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Fakta di Lapangan Kecurangan yang Terdata

A. Dugaan Pemangkasan Anggaran Per Porsi

Salah satu temuan paling mengejutkan datang langsung dari Ketua KPK Setyo Budiyanto pada 5 Maret 2025. Dalam kunjungan Badan Gizi Nasional ke Gedung Merah Putih KPK, Setyo mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima laporan adanya pengurangan harga per porsi makanan bergizi—dari yang seharusnya Rp 10.000 menjadi hanya Rp 8.000. Pemotongan sebesar Rp 2.000 per porsi ini, jika dikalikan dengan jutaan penerima manfaat setiap harinya, berpotensi menghasilkan kerugian negara senilai miliaran bahkan triliunan rupiah.

B. Rentetan Keracunan Massal

Tabel berikut merangkum beberapa kasus keracunan yang terdokumentasi di berbagai daerah:

LokasiTanggalKeterangan
Sukoharjo, Jawa Tengah16 Januari 202510 siswa SD Negeri Dukuh 03 mengalami sakit perut dan mual.
NTT (SD Katolik Andaluri)18 Februari 202529 siswa keracunan ringan dan dilarikan ke fasilitas kesehatan.
Sulawesi Tenggara (Konawe)11 Mei 2025210 siswa dari TK hingga SMP keracunan; 22 siswa dirawat di RS.
Lebong, Bengkulu27 Agustus 2025427 siswa dari PAUD hingga SD mengalami mual, muntah, dan lemas.
Garut, Jawa Barat17 September 2025150 siswa SMA Siti Aisyah dilarikan ke RS akibat sakit perut massal.
Cipongkor, Bandung Barat23 September 2025364 siswa keracunan; pemerintah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB).
Ketapang, Kalimantan Barat24 September 202520 murid dan guru SD Negeri 12 Benua Kayong keracunan ikan hiu dalam menu MBG.
Tulungagung, Jawa Timur13–15 Oktober 202568 siswa SMPN 1 Boyolangu keracunan pada hari pertama penggantian SPPG baru.
Banggai Kepulauan, Sulawesi TengahOktober 2025251 siswa diduga keracunan setelah mengonsumsi menu MBG.

Tabel 1. Kasus Keracunan MBG di Berbagai Daerah (Januari–Oktober 2025)

s1. Asimetri Hak: Mengambil Lebih, Memberi Kurang

Inti dari pesan QS. Al-Mutaffifin adalah asimetri yang disengaja: pelaku tathfif meminta haknya secara penuh bahkan berlebih tetapi memberikan kepada orang lain jauh di bawah apa yang seharusnya. Pola ini persis tergambar dalam skandal MBG. Para pengelola dan mitra SPPG menerima dana publik berdasarkan nilai pagu penuh, tetapi makanan yang sampai ke piring anak-anak bernilai jauh lebih rendah baik dari sisi nominal anggaran maupun kualitas gizinya. Menurut Quraish Shihab (2002)

2. Dimensi Eskatologis: Tidak Ada yang Tersembunyi dari Allah

Salah satu keistimewaan pendekatan Al-Qur’an dalam memberantas kecurangan adalah menghubungkannya dengan pertanggungjawaban akhirat. QS. Al-Mutaffifin tidak hanya mengecam perbuatan curang di dunia, tetapi juga menggambarkan catatan amal yang tak pernah terlewatkan dalam kitab Sijjin (bagi pelaku kejahatan) dan Illiyyin (bagi orang-orang yang beriman dan berbuat baik). Wahbah al-Zuhaili (2013)

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...

Self-Love dan Konsep Syukur dalam Islam: Mencintai Diri sebagai Amanah Ilahi

Di era media sosial yang serba kompetitif, istilah self-love sering kali disalahpahami sebagai bentuk narsisme atau pemanjaan diri yang berlebihan. Namun, jika kita menggali lebih...

Child Grooming: Kejahatan Tersembunyi di Era Digital dan Tantangan terhadap Perlindungan Anak

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam etika berkomunikasi (Nurrohim, 2024). Internet dan media sosial memungkinkan interaksi tanpa batas ruang...

Valid Nggak Nih? Menguji Keaslian Konten Lewat Kacamata Langit

Daftar IsiSiapa “Si Fasiq” sekarang?Kenapa Otak Kita Gampang Termakan?Panduan Tabayyun dalam 60 DetikMenjadi kritis tidak harus menjadi jurnalis investigasi. Sebelum jempolmu menyentuh tombol share, luangkan 60...

Diam-Diam Menghancurkan: Krisis Kesehatan Mental yang Kita Abaikan di Era Modern

Ada seseorang di kantor Anda yang datang setiap hari, mengerjakan tugasnya, tertawa di saat yang tepat, dan tampak baik-baik saja. Tapi malam harinya, ia berbaring...