
Membuat acara pelepasan siswa yang meriah memang penting. Menata panggung, menyusun susunan acara, mengundang tamu, hingga mendokumentasikan kegiatan bisa dilakukan dalam hitungan hari atau minggu. Namun ada pekerjaan yang jauh lebih berat sekaligus lebih menentukan masa depan sekolah, yaitu mencari murid baru.
Banyak guru pandai berbicara saat rapat. Ide-idenya hebat, gagasannya menarik, bahkan sangat idealis. Namun sekolah tidak akan maju hanya dengan wacana. Sekolah membutuhkan aksi nyata. Terlebih bagi sekolah swasta yang sebagian besar biaya operasional dan pengembangannya ditopang oleh keberadaan murid.
Murid adalah nyawa sekolah. Sebaik apa pun kualitas guru, secanggih apa pun fasilitas yang dimiliki, jika murid tidak ada maka sekolah akan kehilangan denyut kehidupannya. Karena itu, kepedulian terhadap PPDB bukan hanya tugas kepala sekolah atau panitia penerimaan murid baru, melainkan tugas moral seluruh guru dan karyawan.
Ada prinsip sederhana yang perlu dipahami bersama: jika tahun ini sekolah melepas 25 siswa, maka minimal PPDB juga harus mendapatkan 25 siswa agar posisi sekolah tetap seimbang (balance). Jika yang masuk hanya 15 siswa, berarti sekolah mengalami minus 10 siswa. Jika kondisi ini terus berulang setiap tahun, jumlah murid akan semakin menyusut dan lambat laun sekolah akan menghadapi kesulitan yang serius.
Karena itu, jangan hanya bangga dengan suksesnya acara pelepasan. Yang lebih penting adalah memastikan bangku yang ditinggalkan lulusan segera terisi oleh peserta didik baru. Pelepasan yang meriah tidak akan mampu menutupi kenyataan jika jumlah murid terus berkurang.
Contoh nyata telah ditunjukkan oleh Ustaz Sahid sebagai kepala sekolah baru SMP Muhammadiyah Sambi. Beliau tidak hanya menyusun program di ruang rapat, tetapi turun langsung melakukan pendekatan door to door dengan memanfaatkan data lulusan SD Muhammadiyah PK Sambi. Dari ikhtiar tersebut berhasil diperoleh tiga murid baru. Ini membuktikan bahwa hasil tidak datang dari menunggu, melainkan dari usaha yang sungguh-sungguh.
Bayangkan jika setiap guru memiliki semangat yang sama. Jika satu orang bisa mendapatkan tiga murid, bagaimana jika sepuluh guru bergerak bersama? Tentu hasilnya akan jauh lebih besar. Sekolah tidak membutuhkan penonton yang hanya mengamati. Sekolah membutuhkan pejuang yang mau turun ke lapangan.
Saatnya mengubah budaya banyak bicara menjadi budaya banyak bekerja. Saatnya setiap guru menjadi marketing sekolah, menjadi duta yang memperkenalkan keunggulan sekolah kepada masyarakat. Jangan menunggu calon murid datang sendiri. Jemput mereka dengan pelayanan, komunikasi, dan keteladanan.
Ingat, sekolah yang sehat bukan hanya yang mampu melepas banyak lulusan, tetapi juga yang mampu menggantinya dengan jumlah murid baru yang minimal seimbang, bahkan lebih banyak. Jangan sampai pelepasan 25 siswa tetapi PPDB hanya memperoleh 10 atau 15 siswa. Itu bukan keseimbangan, melainkan kemunduran.
Maka pertanyaannya, jika hari ini sudah ada guru yang bergerak mencari murid, apakah kita masih akan diam, atau ikut berjuang menjaga nyawa sekolah? Karena masa depan sekolah tidak ditentukan oleh banyaknya rapat, tetapi oleh banyaknya langkah nyata yang dilakukan untuk menghadirkan murid baru.
Pendidikan, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa: Refleksi dari Indonesia dan Iran
Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara...
Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?
Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...





