Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Turun ke Bawah, Rangkul Anak Muda

Tim Redaksi, Editor: Sholahuddin
Selasa, 16 Juni 2026 14:42 WIB
Turun ke Bawah, Rangkul Anak Muda
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Simbol Muhammadiyah (Muhammadiyah.or.id).

Proses pengaderan Persyarikatan di arus bawah, di Cabang dan Ranting, masih menjadi persoalan serius, khususnya di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Umumnya, pengurus di tingkat Cabang dan Ranting didominasi kalangan sepuh. Anak muda menjadi minoritas. Pengurus Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) maupun Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) mengeluhkan sulitnya mengajak kader muda untuk aktif di Cabang maupun Ranting.

Keluhan itu, salah satunya, mengemuka pada Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh redaksi majalah Langkah Baru, Jumat (1/5/2026) malam, di SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Banyuanyar, Banjarsari. FGD bertema “Saatnya Majelis dan Lembaga Turun ke Cabang-Ranting” ini mengundang pimpinan Majelis, pimpinan Lembaga dan pimpinan organisasi otonom di lingkungan PDM Kota Solo. Sejujurnya, minimnya kader muda di kepengurusan Cabang dan Ranting ini menjadi problem klasik yang menjadi keprihatinan kita bersama.

Bagaimana pun, Cabang-Ranting memegang posisi penting dalam struktur organisasi di Muhammadiyah. Dua entitas ini merupakan ujung tombak dakwah Persyarikatan di akar rumput. Merekalah yang berhubungan langsung dengan umat. Maka, sangat dibutuhkan kader muda yang akan melengkapi kepengurusan para kader senior di Muhammadiyah. Kaum muda ini diharapkan mampu mendinamisasi gerakan dakwah di Cabang-Ranting dengan pendekatan yang lebih kreatif dan menarik.

Selama ini kader-kader muda lebih tertarik aktif di organisasi otonom yang diperuntukkan bagi anak muda Persyarikatan, seperti di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah (NA). Aktivitas pengaderan di ortom tersebut memang dirancang khas anak muda. Sehingga mereka tertarik untuk aktif di dalamnya. Namun, yang perlu diingat, setelah mereka berproses di organisasi pengaderan, mestinya mereka tidak lupa untuk kembali ke akar dengan menggerakkan dakwah di Cabang-Ranting.

Masa Depan Persyarikatan

Jika para kader muda tidak mau aktif di Cabang-Ranting, tentu ini menjadi pekerjaan rumah bersama, baik bagi pimpinan di ortom Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), bagi Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI). Pimpinan AMM maupun pimpinan MPKSDI perlu membuat strategi pengaderan sehingga bisa mendorong mereka untuk terjun ke bawah. Bila persoalan pengaderan di akar rumput dibiarkan tanpa penanganan yang serius, kita khawatir akan menjadi bom waktu bagi masa depan Persyarikatan. Muhammadiyah hanya akan kuat di tingkat pusat, namun, begitu turun ke bawah, kekuatan strukturnya mulai melemah. Padahal, idealnya, pada tingkatan akar rumput ini juga harus kuat karena merekalah yang menjadi ujung tombak Muhammadiyah.

Dalam konteks PDM Kota Solo, problem pengaderan di tingkat Cabang-Ranting ini menjadi tanggung jawab bersama pimpinan Majelis maupun Lembaga sebagai unit pembantu pimpinan (UPP). Antar-unsur UPP ini harus bersinergi, berkolaborasi untuk penguatan Cabang-Ranting sesuai tugas pokoknya masing-masing. Penguatan Cabang-Ranting bukan hanya menjadi tanggung jawab Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) melainkan menjadi program bersama. Dengan kolaborasi yang baik, aktivitas Persyarikatan di Kota Solo tidak hanya terpusat di Balai Muhammadiyah yang menjadi kantor PDM Kota Solo, melainkan bisa menyebar ke Cabang-Ranting secara menyeluruh. PDM juga perlu memikirkan bagaimana kegiatan PDM bisa digelar secara bergilir dari Cabang ke Cabang maupun dari Ranting ke Ranting sebagai ikhtiar untuk memakmurkan Cabang, Ranting maupun masjid Persyarikatan.

Yang tidak kalah penting, Cabang-Ranting juga perlu kreatif, inovatif dalam menyusun program dan aktivitas dakwahnya agar bisa menarik kader muda Persyarikatan.

Semoga…

Sumber: Tajuk Langkah Baru edisi Mei-Agustus 2026

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Jangan Antikritik

Pesan jangan antikritik ini sampaikan Pak Marpuji Ali saat acara “Silaturahim dan Buka Bersama” yang diikuti oleh seluru GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Perguruan Muhammadiyah...

Kompak Menyongsong Kemajuan

Memasuki abad kedua perjalanannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa awal kelahirannya. Pada era Kiai Haji Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah kebodohan, kemiskinan, dan...

Selamat Datang SMP Muhammadiyah PKBS Kota Solo

Dalam AD/ART Persyarikatan Muhammadiyah tentang identitas organisasi disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan...

Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah

Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk...

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...