Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Rivaldi Tamapedung, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 16 April 2026 17:59 WIB
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi biaya kuliah.

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket menuju masa depan yang lebih cerah. Tangis haru, sujud syukur, dan pelukan keluarga menjadi pemandangan yang berulang. Namun, di balik euforia itu, ada cerita lain yang jarang disorot: mereka yang lulus, tetapi tidak benar-benar bisa melangkah masuk.

Masalahnya sederhana, tetapi kejam biaya. Setelah dinyatakan lulus, mahasiswa baru dihadapkan pada realitas administratif yang tidak selalu ramah. Uang pangkal, UKT, biaya hidup, hingga kebutuhan akademik lainnya menjadi tembok baru yang harus dilewati. Dan tidak semua mampu menembusnya.

Ironi ini semakin terasa ketika kita menyadari bahwa seleksi akademik yang ketat ternyata belum cukup. Lulus ujian bukan berarti lulus dari sistem. Ada tahap kedua yang lebih sunyi, tetapi jauh lebih menentukan: kemampuan membayar. Di titik ini, pendidikan tinggi tidak lagi sepenuhnya soal kecerdasan, tetapi juga soal ekonomi.

Fenomena ini bukan kasus satu dua orang. Ia berulang, diam-diam, dan sering kali berakhir tragis. Dari mahasiswa yang mengundurkan diri, hingga kisah memilukan seperti Riska, mahasiswa Fisika UNY yang meninggal dunia dan membuka mata publik tentang kerasnya realitas biaya pendidikan. Pendidikan yang seharusnya menjadi jalan keluar, justru berubah menjadi beban yang mematikan harapan.

Seleksi Ketat, Tapi Tak Menjamin Akses

Masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia bukan perkara mudah. Jalur seperti SNBP, SNBT, hingga seleksi mandiri dirancang untuk menjaring mahasiswa terbaik. Kompetisi berlangsung sengit, menuntut kemampuan akademik, konsistensi belajar, dan strategi yang matang. Banyak siswa dari pelosok negeri berjuang keras untuk bisa menembus gerbang ini.

Namun, perjuangan itu sering kali berhenti di satu titik yang tak terduga. Setelah dinyatakan lulus, mereka baru menyadari bahwa perjalanan belum selesai. Justru di sinilah ujian yang sesungguhnya dimulai. Bukan lagi soal nilai, tetapi soal kemampuan finansial.

Beberapa laporan media, termasuk kasus-kasus yang pernah diangkat oleh iNews, menunjukkan bagaimana mahasiswa terpaksa mengundurkan diri meski sudah diterima. Alasannya klasik, tetapi terus berulang: tidak mampu membayar biaya awal. Ini menjadi bukti bahwa sistem seleksi kita masih menyisakan celah ketidakadilan.

Dalam konteks ini, seleksi masuk perguruan tinggi menjadi paradoks. Di satu sisi, ia menjanjikan meritokrasi siapa yang mampu, dia yang lolos. Namun di sisi lain, akses tetap ditentukan oleh faktor ekonomi. Artinya, keberhasilan akademik belum tentu berbanding lurus dengan kesempatan nyata untuk kuliah.

Beasiswa: Harapan yang Tak Selalu Menyelamatkan

Banyak pihak berargumen bahwa solusi dari persoalan ini adalah beasiswa. Pemerintah dan berbagai lembaga telah menyediakan beragam program bantuan pendidikan, mulai dari KIP Kuliah hingga beasiswa institusi. Secara konsep, ini adalah langkah yang tepat. Namun dalam praktiknya, tidak sesederhana itu.

Pertama, beasiswa juga memiliki proses seleksi yang ketat. Tidak semua yang membutuhkan bisa mendapatkannya. Ada kuota, persyaratan administrasi, hingga kriteria tertentu yang harus dipenuhi. Akibatnya, banyak mahasiswa yang sebenarnya layak justru tereliminasi.

Kedua, tidak semua biaya tertutupi sepenuhnya. Beberapa beasiswa hanya menanggung UKT, tetapi tidak mencakup biaya hidup, tempat tinggal, atau kebutuhan lainnya. Bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, ini tetap menjadi beban besar. Mereka harus mencari cara lain untuk bertahan, sering kali dengan bekerja sambil kuliah dalam kondisi yang tidak ideal.

Ketiga, ada persoalan informasi dan akses. Tidak semua siswa memiliki pengetahuan yang cukup tentang beasiswa yang tersedia. Bahkan jika tahu pun, proses pendaftarannya sering kali rumit dan membutuhkan dokumen yang tidak mudah diurus. Ini menciptakan ketimpangan baru antara mereka yang “melek sistem” dan yang tidak.

Dengan kata lain, beasiswa memang penting, tetapi belum menjadi solusi yang menyeluruh. Ia lebih seperti jaring pengaman yang berlubang menyelamatkan sebagian, tetapi tetap membiarkan banyak yang jatuh.

Tragedi yang Membuka Mata: Ketika Tekanan Jadi Nyata

Kasus Riska, mahasiswa Fisika UNY, menjadi salah satu contoh yang mengguncang publik. Ia bukan sekadar angka dalam statistik, tetapi manusia dengan mimpi dan harapan. Kepergiannya menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar tentang sistem pendidikan kita.

Meski setiap kasus memiliki kompleksitasnya sendiri, tidak bisa dipungkiri bahwa tekanan ekonomi sering menjadi faktor yang memperberat beban mahasiswa. Biaya pendidikan, tuntutan akademik, dan tekanan sosial bercampur menjadi satu. Tanpa dukungan yang memadai, ini bisa menjadi kombinasi yang berbahaya.

Cerita seperti ini seharusnya tidak berhenti sebagai berita sesaat. Ia harus menjadi refleksi bersama bahwa ada yang salah dalam sistem yang kita bangun. Pendidikan tidak boleh menjadi ruang yang menekan, apalagi sampai mengorbankan nyawa.

Lebih luas lagi, tragedi ini menunjukkan bahwa persoalan biaya pendidikan bukan hanya soal angka, tetapi juga soal kesehatan mental dan kesejahteraan mahasiswa. Ketika akses pendidikan tidak adil, maka dampaknya bisa meluas ke berbagai aspek kehidupan.

Pendidikan atau Privilege? Saatnya Menata Ulang Prioritas

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita jawab adalah: apakah pendidikan tinggi di Indonesia benar-benar menjadi hak, atau hanya privilege bagi mereka yang mampu? Ketika banyak yang lulus seleksi tetapi gagal masuk karena biaya, maka jawabannya mulai terlihat jelas.

Pemerintah dan institusi pendidikan perlu menata ulang prioritas. Transparansi biaya, perluasan akses beasiswa, serta kebijakan yang lebih inklusif harus menjadi agenda utama. Tidak cukup hanya membuka pintu seleksi, tetapi juga memastikan bahwa yang lolos bisa benar-benar masuk dan bertahan.

Selain itu, perlu ada perubahan cara pandang. Pendidikan tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas semata. Ia adalah investasi jangka panjang bagi bangsa. Jika aksesnya dibatasi oleh faktor ekonomi, maka kita sedang menyia-nyiakan potensi besar yang seharusnya bisa berkembang.

“Lulus seleksi, tapi dibunuh biaya” bukan sekadar judul yang provokatif. Ia adalah realitas yang terjadi di depan mata. Dan selama sistem belum berubah, cerita-cerita seperti ini akan terus berulangme ngubur mimpi, satu per satu, di balik angka-angka administrasi.

Berita Terbaru

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...

Self-Love dan Konsep Syukur dalam Islam: Mencintai Diri sebagai Amanah Ilahi

Di era media sosial yang serba kompetitif, istilah self-love sering kali disalahpahami sebagai bentuk narsisme atau pemanjaan diri yang berlebihan. Namun, jika kita menggali lebih...

Child Grooming: Kejahatan Tersembunyi di Era Digital dan Tantangan terhadap Perlindungan Anak

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam etika berkomunikasi (Nurrohim, 2024). Internet dan media sosial memungkinkan interaksi tanpa batas ruang...

Valid Nggak Nih? Menguji Keaslian Konten Lewat Kacamata Langit

Daftar IsiSiapa “Si Fasiq” sekarang?Kenapa Otak Kita Gampang Termakan?Panduan Tabayyun dalam 60 DetikMenjadi kritis tidak harus menjadi jurnalis investigasi. Sebelum jempolmu menyentuh tombol share, luangkan 60...

Diam-Diam Menghancurkan: Krisis Kesehatan Mental yang Kita Abaikan di Era Modern

Ada seseorang di kantor Anda yang datang setiap hari, mengerjakan tugasnya, tertawa di saat yang tepat, dan tampak baik-baik saja. Tapi malam harinya, ia berbaring...