Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta tahun terjadi secara administratif—meskipun matahari tidak “terlihat” secara langsung sebagai penanda perubahan itu. Namun, kesepakatan global menjadikannya kokoh, seragam, dan menjadi fondasi peradaban dunia modern: ekonomi, pendidikan, politik, hingga teknologi.
Ironisnya, umat Islam yang memiliki sistem kalender sendiri—kalender kamariah (berbasis peredaran bulan)—belum memiliki kesatuan global yang serupa. Padahal seluruh ibadah utama dalam Islam ditentukan oleh kalender ini: Muharam, Safar, Rabiul Awal, Ramadan, Syawal, Dzulhijjah, dan seterusnya. Puasa Ramadan, Idulfitri, Iduladha, bahkan wukuf di Arafah, semuanya berpijak pada kalender hijriah.
Kita patut bertanya: mengapa dunia bisa sepakat pada kalender syamsiah, sementara umat Islam yang jumlahnya lebih dari satu miliar masih berbeda dalam menetapkan awal bulan? Mengapa kalender matahari menjadi simbol peradaban global, sementara kalender Islam belum sepenuhnya menjadi simbol kesatuan umat?
Di sinilah makna penting KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal) hadir sebagai babak awal peradaban kalender Islam. KHGT bukan sekadar proyek teknis astronomi. Ia adalah ikhtiar peradaban. Sebuah langkah menuju kesatuan waktu umat Islam sedunia. Jika dunia bisa sepakat bahwa pukul 00.01 adalah hari berikutnya meskipun matahari tidak tampak, maka umat Islam pun semestinya mampu membangun kesepakatan berbasis ilmu falak modern, hisab astronomis yang presisi, dan ijtihad kolektif.
Bukan Sekadar Penanggalan
Kalender bukan sekadar penanggalan. Ia adalah simbol kedaulatan peradaban. Sejarah mencatat, ketika Umar bin Khattab menetapkan kalender hijriah dengan menjadikan peristiwa hijrah sebagai titik awal, itu bukan hanya keputusan administratif. Itu adalah deklarasi identitas dan kemandirian umat.
Maka kelahiran KHGT hari ini adalah semangat yang sama: membangun identitas global umat Islam dalam bingkai ilmu pengetahuan dan persatuan. Apresiasi setinggi-tingginya patut kita berikan kepada para ulama, cendekiawan, dan ilmuwan falak yang berikhtiar menghadirkan kalender Islam yang tunggal dan terintegrasi. Kita tidak sedang menolak kalender masehi. Kita tetap memakainya dalam kehidupan sosial global. Namun, sebagai umat yang memiliki sistem ibadah berbasis kamariah, kita semestinya lebih bangga, lebih peduli, dan lebih familiar dengan kalender hijriah kita sendiri.
KHGT adalah babak awal. Ia mungkin belum sempurna, mungkin masih memerlukan dialog dan penyempurnaan. Tetapi peradaban besar selalu dimulai dari keberanian untuk menyatukan visi. Jika dunia sepakat pada satu kalender matahari, maka umat Islam pun harus optimis mampu bersatu dalam satu kalender bulan. Inilah momentum kebangkitan kesadaran waktu umat. Inilah langkah menuju kesatuan global. Dan, inilah awal peradaban kalender Islam yang patut kita sambut dengan harapan dan dukungan penuh.
Fenomena bulan itu bersifat global, bukan lokal. Bulan tidak hanya “milik” satu negara. Maka logikanya, kalender Islam juga idealnya bersifat internasional.
Selamat datang babak baru Kalender Islam.
Mahasiswa S3 Pendidikan Agama Islam (FAI) UMS, Pengasuh PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum, Sambi
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...
Sepucuk Surat untuk Raja Juli Antoni
Pernahkah kita bertanya, dari mana datangnya gelondongan kayu raksasa yang terbawa arus banjir di Aceh hingga Sumatera Barat? Mengapa setiap hujan besar selalu berujung pada...






