Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?

Rivaldi Tamapedung, Editor: Alan Aliarcham
Selasa, 5 Mei 2026 14:38 WIB
Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Komitmen Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam memperkuat kualitas pendidikan terus diwujudkan melalui kolaborasi strategis dengan sekolah. Salah satunya melalui Program Studi Pendidikan Matematika FKIP, UMS kembali menghadirkan penguatan kapasitas guru matematika SMK Muhammadiyah se-Kabupaten Klaten melalui workshop pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). (Humas)

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali dibacakan. Nama Ki Hajar Dewantara kembali dikutip dengan penuh penghormatan.

Namun setelah upacara selesai, hidup berjalan seperti biasa. Siswa kembali memikirkan tugas yang menumpuk, guru kembali sibuk dengan administrasi, dan orang tua kembali cemas memikirkan biaya pendidikan anaknya. Hardiknas akhirnya terasa seperti rutinitas tahunan: ramai sehari, lalu sunyi kembali.

Yang lebih menyakitkan, pendidikan hari ini sering terasa seperti janji yang tidak benar-benar pasti. Anak-anak diajarkan untuk rajin belajar agar sukses di masa depan. Tetapi ketika mereka lulus, banyak yang justru bertemu kenyataan yang jauh dari harapan.

Di titik inilah pertanyaan besar mulai muncul: apakah pendidikan hari ini benar-benar sedang membangun masa depan, atau hanya memperpanjang antrean kecemasan generasi muda?

Sekolah Mengajarkan Mimpi, Dunia Menyuguhkan Ketidakpastian

Sejak kecil, banyak anak Indonesia tumbuh dengan satu kalimat yang terus diulang: “Belajarlah yang rajin supaya hidupmu berhasil.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi keyakinan besar bagi banyak keluarga, terutama mereka yang hidup pas-pasan.

Orang tua rela bekerja keras demi pendidikan anaknya. Ada yang menjual hasil kebun, meminjam uang, bahkan berutang agar anaknya bisa sekolah atau kuliah. Pendidikan dianggap sebagai tangga sosial untuk keluar dari kemiskinan.

Namun hari ini, kenyataannya tidak selalu seindah narasi motivasi di ruang kelas. Banyak sarjana yang kesulitan mendapatkan pekerjaan. Banyak lulusan yang akhirnya bekerja di luar bidangnya atau hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Bahkan ada yang mulai merasa bahwa gelar pendidikan tidak lagi menjamin apa-apa.

Ironisnya, negara terus berbicara tentang bonus demografi dan generasi emas, tetapi banyak anak muda justru tumbuh dengan rasa takut menghadapi masa depan. Mereka belajar keras, tetapi dunia terasa semakin sulit ditebak.

Nilai Tinggi, Tapi Banyak Anak Kehilangan Diri

Sistem pendidikan hari ini juga semakin sibuk mengejar angka. Nilai rapor, ranking, sertifikat, prestasi akademik semuanya menjadi ukuran keberhasilan. Anak-anak didorong untuk terus bersaing sejak usia dini.

Akibatnya, sekolah sering terasa lebih seperti arena kompetisi daripada ruang pertumbuhan manusia. Banyak siswa hidup dalam tekanan yang diam-diam melelahkan. Mereka takut gagal, takut mengecewakan orang tua, bahkan takut dibandingkan dengan teman sendiri.

Yang menyedihkan, tidak semua luka itu terlihat. Banyak anak terlihat baik-baik saja di sekolah, tetapi diam-diam kehilangan semangat hidup. Kesehatan mental pelajar menjadi isu yang semakin nyata, tetapi sering dianggap sekadar “kurang bersyukur” atau “terlalu lemah.”

Pendidikan akhirnya terlalu fokus mencetak anak pintar, tetapi lupa menjaga anak tetap sehat sebagai manusia. Padahal, apa gunanya nilai tinggi jika seseorang tumbuh tanpa mengenal dirinya sendiri?

Guru Diminta Hebat, Tapi Sering Dibiarkan Lelah

Di balik sistem pendidikan yang rumit, ada guru yang terus bertahan. Mereka diminta menjadi pendidik, motivator, inovator, bahkan terkadang juga konselor bagi siswa. Namun pada saat yang sama, mereka juga dibebani administrasi dan tuntutan yang tidak sedikit.

Banyak guru akhirnya lebih sibuk mengurus laporan dibanding memahami kondisi muridnya. Pendidikan perlahan berubah menjadi urusan target dan dokumen. Ruang untuk membangun hubungan manusiawi antara guru dan siswa semakin sempit.

Di daerah-daerah tertentu, persoalan ini menjadi lebih berat. Masih ada guru yang mengajar dengan fasilitas minim, jaringan internet terbatas, bahkan harus menempuh perjalanan jauh demi sampai ke sekolah. Tetapi kisah-kisah seperti ini jarang menjadi pembahasan utama saat Hardiknas dirayakan.

Padahal, kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum, tetapi juga pada bagaimana negara memperlakukan gurunya.

Pendidikan Mahal, Ketimpangan Masih Nyata

Setiap tahun, pendidikan disebut sebagai hak semua warga negara. Namun dalam praktiknya, akses pendidikan berkualitas masih terasa sangat bergantung pada kondisi ekonomi.

Anak dari keluarga mampu memiliki lebih banyak peluang: sekolah bagus, les tambahan, perangkat digital lengkap, hingga akses jejaring yang luas. Sementara banyak anak lain harus berjuang hanya untuk tetap bertahan di bangku sekolah.

Di beberapa wilayah 3T, persoalan dasar seperti ruang kelas layak, buku pelajaran, dan guru masih menjadi tantangan. Sementara di kota besar, sekolah mulai berbicara tentang kecerdasan buatan dan transformasi digital.

Ketimpangan ini membuat pendidikan terasa seperti dua dunia yang berbeda. Yang satu berlari cepat menuju masa depan, yang lain masih sibuk mengejar ketertinggalan.

Hardiknas dan Pertanyaan yang Tidak Boleh Diabaikan

Mungkin inilah saatnya Hari Pendidikan Nasional tidak hanya diisi dengan seremoni dan slogan motivasi. Pendidikan perlu dibicarakan dengan lebih jujur, termasuk tentang luka dan kegagalannya.

Karena realitas hari ini menunjukkan bahwa sekolah belum selalu menjadi ruang yang membebaskan. Kadang ia justru menjadi tempat lahirnya tekanan, kecemasan, dan ketidakpastian. Anak-anak diajarkan untuk bermimpi tinggi, tetapi tidak selalu disiapkan menghadapi kerasnya kenyataan.

Namun di tengah semua itu, harapan tidak boleh mati. Masih ada guru yang mengajar dengan hati. Masih ada siswa yang terus berjuang dalam keterbatasan. Masih ada orang tua yang percaya bahwa pendidikan tetap penting, meski dunia terasa semakin sulit.

Dan mungkin, memperingati Hardiknas seharusnya bukan hanya tentang mengenang jasa Ki Hajar Dewantara. Tetapi tentang keberanian untuk bertanya: apakah pendidikan kita hari ini benar-benar sedang memanusiakan manusia, atau hanya sedang memproduksi generasi yang pandai bertahan dalam kecemasan?

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...