Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba

Rio Estetika, Editor: Sholahuddin
Minggu, 14 Juni 2026 10:36 WIB
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi TKA dan Ismuba [Meta AI].

Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi model instrumen penilaian yang digagas Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah), menyulut tanya tentang arah masa depan karakter anak didik. Bagi kami, guru Ismuba, TKA bukan sekadar peralihan teknis dari Ujian Nasional (UN) atau pelengkap Asesmen Nasional (AN). TKA menjadi paradigma mekanistik yang mengarah pada dehumanisasi pendidikan serta mengoyak akar nilai-nilai spiritualitas sebagai fondasi tarbiyah, ta’lim dan ta’dib.

Pendidikan Muhammadiyah dari awal ditujukan bukan hanya mencetak anak didik yang unggul kognitif, tetapi juga mencipta generasi berkarakter, beradab, religius serta berkesadaran sosial. Lebih jauh lagi, pendidikan Muhammadiyah menjadi media pengaderan untuk melanjutkan estafet dakwah serta menjadi penerus dan pelangsung amal usaha Muhammadiyah. Sehingga, Ismuba menjadi roh pendidikan Muhammadiyah yang mengintegrasikan tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. TKA hadir dengan penekanan literasi dan numerasi, sekolah Muhammadiyah tidak boleh latah mengikuti arus orientasi skor akademik. Kekhawatiran terbesar adalah TKA mereduksi dan menyempitkan makna pendidikan. TKA berstatus sebagai asesmen sukarela dan tidak wajib untuk memfasilitasi penyediaan informasi objektif mengenai capaian individu anak didik. Padsa sisi lain, TKA juga menjadi instrumen seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya pada jalur prestasi, khususnya untuk validasi nilai rapor. Tetapi, di balik tagline “sukarela” dan “tidak wajib”, ada semacam tekanan sistemis yang mengakar sedemikian kuatnya. Sebuah hipotesis mengatakan bahwa ketika skor TKA menjadi syarat utama dalam jalur prestasi dalam seleksi peserta didik baru, maka opsi “sukarela” atau “tidak wajib” akan berubah menjadi paksaan yang sering disebut sebagai voluntarisme terkooptasi.

Kemudian, skor TKA menjadi instrumen validasi nilai rapor. Pemerintah seolah telah meragukan asesmen internal guru. Penilaian guru dianggap kurang objektif dan rawan konsolidasi manipulatif untuk kepentingan seleksi penerimaan murid. Tentu pandangan seperti itu menjadi cerminan ketidakpercayaan sistemis pada integritas profesional guru. Pendidikan karakter, pembiasaan ibadah, pembentukan akhlaq serta penguatan spiritual berpotensi terpinggirkan. Dalam budaya pendidikan Muhammadiyah, guru bukan sekadar pelaku kurikulum. Guru adalah seorang murabbi dan muaddib yang mengemban tanggung jawab untuk memastikan pertumbuhan adab dan jiwa anak didiknya. Menjadikan persentase tes kognitif sebagai keabsahan nilai rapor merupakan bentuk diskriminasi pada proses pembimbingan yang dilakukan oleh guru selama bertahun-tahun. Perlu menjadi pemahaman bahwa rapor adalah dokumentasi dari proses panjang penuh liku yang melingkupi karakter, perkembangan, dan usaha anak didik secara utuh. Melegitimasi proses tersebut dengan hanya melalui “sampel” tes kognitif selama kurang lebih dua jam menjawab soal adalah perilaku yang tidak adil secara pedagogis.

Keyakinan pendidikan Muhammadiyah dibangun atas prinsip bahwa manusia tidak hanya memerlukan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan rohani dan sosial. Karakter tersebut sangat tidak mungkin divalidasi dengan soal pilihan ganda berbasis tes komputer. Sebagaimana terlihat dalam ketentuan TKA, pada jenjang SD asesmen fokus pada Bahasa Indonesia dan Matematika. Fokus yang terlalu sempit ini akan membuka peluang pada dampak balik yang merusak. Secara rasional, energi dan sumber daya dari sekolah maupun orang tua akan banyak terpusat pada mata pelajaran yang diujikan di TKA. Kompetensi lain akan dikesampingkan dan tak bernilai dalam skor. Sekolah Muhammadiyah yang tidak bijak, Ismuba dan pembiasaan akhlak akan termarjinalkan. Pada akhirnya, fondasi pembentukan spiritual anak dipertaruhkan demi mengejar unggul skor kognitif. Dampak yang lebih masif, TKA memunculkan jurang ketimpangan ekonomi-sosial. Akan banyak tumbuh menjamur tes-tes standar nasional yang dihidupkan oleh industri bimbingan belajar (bimbel). Anak didik dari kalangan ekonomi atas dapat dengan mudah mengakses kisi-kisi atau “trik” menjawab soal TKA yang sudah diramu oleh industri bimbel. Sementara, anak didik dari keluarga ekonomi kurang hanya mampu mengandalkan fasilitas seadanya. Secara psikolgis anak didik tertekan, cemas dan kelelahan. Pada usia sekolah dasar seharusnya mereka berada pada fase bermain dan mengeksplorasi potensi mereka dengan bahagia.

Negara Harus Menyadari

Negara seharusnya mulai menyadari untuk mempertajam implementasi penilaian autentik (authentic assesment). Asesmen ini tentu lebih relevan dengan visi besar pendidikan nasional maupun pendidikan Muhammadiyah khususnya. Penilaian autentik setidaknya dapat mengakomodasi kemampuan riil anak didik dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari. Bukan sebatas hafalan dan keahlian mengakali butir soal. Sebuah proses sangat dihargai dalam penilaian autentik, melibatkan observasi sikap (adab), serta memberikan otonomi pada guru untuk berguna sebagai penilai yang bermartabat. Tidak sepenuhnya model kompetisi skor tertarget perlu kita tiru. Finlandia telah membuktikan tanpa standar ujian yang ketat dan melelahkan, kualitas pendidikan mereka justru jauh lebih unggul. Mereka memercayai otonomi guru berikut kesejahteraannya serta menghargai setiap proses anak didik. Pendidikan sejatinya adalah menumbuhkan dan mengarahkan potensi, bukan sebatas mengolah data angka yang bisa dikarang.

Meskipun demi tunduk pada regulasi pendidikan milik pemerintah, TKA jangan sampai menyilaukan sekolah Muhammadiyah sehingga mengempaskan esensi tarbiyah, ta’lim maupun ta’dib dari ruang-ruang pembelajaran. Ismuba menempati posisi taktis sebagai benteng ideologis pendidikan Muhammadiyah. Mata pelajaran Al-Islam tidak boleh sekadar mengajarkan teori ibadah ritual atau hafalan ayat, jauh lebih dari itu, Al-Islam membentuk kesadaran tauhid yang tepat sehingga menuntun pada perilaku baik peserta didik dalam kehidupannya. Ke-Muhammadiyah-an menjadi fondasi penanaman nilai-nilai gerakan Islam berkemajuan, semangat tajdid, kepedulian sosial dan karakter pemelajar sepanjang hidup. Lalu, Bahasa Arab menjadi instrumen penting untuk mendekatkan peserta didik pada sumber utama ajaran Islam sekaligus melatih linguistik dan kemampuan berpikir logis. Akhirnya, TKA harus menjadi bahan refleksi bagi pendidikan Muhammadiyah agar terus mempertegas identitasnya.

Penulis adalah Guru SD Muhammadiyah 14 Kota Solo

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Sang Pencari Makna

“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...

Menolak Politeisme Politik

Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...

Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta

Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...