Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Belajar Bernapas di Tengah Sesak

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Alan Aliarcham
Senin, 15 Juni 2026 22:26 WIB
Belajar Bernapas di Tengah Sesak
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. (Humas)

Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran, dan tren tarian yang berganti setiap pekan.

Tetapi di balik itu, ada jutaan orang yang sedang belajar bernapas di tengah sesak. Mereka bukan sedang mengalami serangan asma. Mereka sedang berusaha bertahan hidup di negeri yang biaya hidupnya berlari lebih cepat daripada pendapatan mereka. Mereka tersenyum di depan anak-anaknya, lalu menghitung sisa uang di ponsel dengan jantung berdebar.

Indonesia hari ini mungkin tidak sedang runtuh. Namun, banyak rakyat kecil sedang retak perlahan.

Ketika Dolar Menentukan Isi Piring

Bagi sebagian orang, pelemahan rupiah hanyalah berita ekonomi di televisi. Angka-angka yang sulit dipahami. Grafik yang naik turun seperti detak jantung pasar modal. Namun, bagi rakyat biasa, dolar bukan sekadar mata uang asing.

Ketika rupiah melemah mendekati Rp18.000 per dolar AS, dampaknya tidak berhenti di ruang rapat para ekonom. Ia masuk ke dapur rumah tangga. Harga bahan baku naik, biaya produksi meningkat, dan pada akhirnya rakyat kembali diminta menyesuaikan diri.

Mungkin kita tidak membeli dolar. Namun, kita membeli beras yang ongkos distribusinya naik, membeli kebutuhan pokok yang terdampak biaya impor, dan menggunakan energi yang harganya dipengaruhi gejolak global.

Yang sesak bukan hanya rupiah. Yang sesak adalah dada para orang tua.

BBM Naik, Kesabaran Ikut Diuji

Harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan signifikan. Pertamax yang sebelumnya berada di kisaran Rp12 ribuan melonjak menjadi lebih dari Rp16 ribu per liter. Pemerintah beralasan bahwa penyesuaian dilakukan mengikuti harga minyak dunia dan demi menjaga kesehatan fiskal negara.

Secara teori ekonomi, itu masuk akal.

Tetapi teori tidak pernah berdiri mengantre membeli bensin sebelum berangkat bekerja. Teori tidak pernah merasakan menjadi pengemudi ojek daring yang pendapatannya tetap, sementara biaya operasional naik. Teori tidak pernah duduk di meja makan sambil berpikir apakah uang belanja minggu ini cukup sampai akhir bulan.

Yang diminta berhemat sering kali adalah mereka yang selama ini memang sudah hidup sehemat mungkin.

Negeri yang Kaya, Rakyat yang Cemas

Indonesia disebut sebagai negara kaya sumber daya. Batu bara melimpah. Nikel menjadi primadona dunia. Sawit menjadi andalan ekspor. Laut terbentang luas. Tanahnya subur.

Namun, mengapa banyak rakyat tetap hidup dengan kecemasan?

Mengapa seorang buruh yang bekerja puluhan tahun tetap takut sakit karena biaya pengobatan? Mengapa guru honorer harus mencari pekerjaan sampingan? Mengapa sarjana berlomba menjadi pegawai kontrak dengan upah pas-pasan? Mengapa kelas menengah mulai takut turun kelas?

Mungkin masalahnya bukan semata pada kekayaan alam. Mungkin persoalannya terletak pada bagaimana kekayaan itu dikelola dan untuk siapa kemakmuran itu benar-benar ditujukan.

Normalisasi Kesulitan

Yang lebih menyedihkan adalah ketika penderitaan mulai dianggap biasa.

“Kenaikan harga itu wajar.”

“Memang ekonomi dunia sedang sulit.”

“Harus bersabar.”

Semua itu benar. Tetapi ada bahaya ketika masyarakat terlalu lama diminta memahami tanpa diberi ruang untuk mempertanyakan. Kesulitan yang terus-menerus dinormalisasi akan membuat rakyat kehilangan keberanian untuk berharap.

Lama-kelamaan, standar kebahagiaan turun menjadi sekadar: asal masih bisa makan hari ini.

Padahal, rakyat tidak sedang meminta hidup mewah. Mereka hanya ingin hidup layak tanpa dihantui kecemasan setiap bangun pagi.

Belajar Tersenyum Sambil Menyembunyikan Panik

Hari ini, banyak ayah berpura-pura kuat ketika anaknya meminta uang sekolah. Banyak ibu diam-diam mengurangi porsi makan agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. Banyak anak muda tersenyum di media sosial, tetapi cemas memikirkan cicilan, kontrakan, dan masa depan yang terasa semakin mahal.

Indonesia sedang mengalami epidemi kelelahan yang tidak terlihat.

Orang-orang tetap bekerja. Tetap bercanda. Tetap membuat konten lucu. Namun, di dalam diri mereka ada ketakutan yang tidak sempat diucapkan: bagaimana jika bulan depan lebih sulit daripada bulan ini?

Kita hidup di zaman ketika kesehatan mental dibicarakan di seminar, tetapi penyebab kecemasannya sering kali bersumber dari ketidakpastian ekonomi yang nyata.

Sesak yang Tidak Boleh Membunuh Empati

Dalam situasi seperti ini, masyarakat mudah marah. Sedikit tersulut, sedikit tersinggung. Media sosial dipenuhi pertengkaran. Kita sibuk mencari kambing hitam.

Padahal, musuh terbesar dalam masa sulit adalah hilangnya empati.

Ketika kita mulai berkata, “Untung saya masih aman,” tanpa peduli pada tetangga yang kehilangan pekerjaan, maka sesungguhnya krisis telah menggerogoti bukan hanya dompet, tetapi juga nurani kita.

Bangsa ini pernah melewati berbagai ujian: krisis ekonomi, pandemi, bencana alam, bahkan konflik sosial. Yang membuat kita bertahan bukan hanya kebijakan negara, tetapi solidaritas antarwarga.

Karena sesak akan terasa lebih ringan ketika dipikul bersama.

Belajar Bernapas

Belajar bernapas di tengah sesak bukan berarti menyerah pada keadaan. Ia bukan ajakan untuk pasrah tanpa kritik. Justru sebaliknya, ia adalah upaya menjaga kewarasan agar tetap mampu berpikir jernih.

Rakyat berhak berharap kepada pemerintah untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak pada keadilan. Rakyat juga berhak mengkritik ketika merasa tidak didengar. Kritik bukan pengkhianatan. Ia adalah tanda bahwa masyarakat masih peduli terhadap arah bangsanya.

Namun, di tengah semua kegaduhan itu, kita perlu mengingat satu hal: jangan sampai keadaan sulit mengubah kita menjadi manusia yang kehilangan kasih sayang.

Sebab, mungkin hari ini Indonesia memang sedang belajar bernapas di tengah sesak. Tetapi yang paling berbahaya bukanlah mahalnya harga-harga, melemahnya rupiah, atau gejolak ekonomi global. Yang paling berbahaya adalah ketika rakyat kehilangan harapan, lalu menganggap sesak sebagai takdir yang tidak boleh dipertanyakan.

Dan ketika sebuah bangsa berhenti berharap, sesungguhnya ia telah kehilangan udara sebelum benar-benar kehabisan napas.

Berita Terbaru

TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba

Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...

Sang Pencari Makna

“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...

Menolak Politeisme Politik

Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...

Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta

Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...