
Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran, dan tren tarian yang berganti setiap pekan.
Tetapi di balik itu, ada jutaan orang yang sedang belajar bernapas di tengah sesak. Mereka bukan sedang mengalami serangan asma. Mereka sedang berusaha bertahan hidup di negeri yang biaya hidupnya berlari lebih cepat daripada pendapatan mereka. Mereka tersenyum di depan anak-anaknya, lalu menghitung sisa uang di ponsel dengan jantung berdebar.
Indonesia hari ini mungkin tidak sedang runtuh. Namun, banyak rakyat kecil sedang retak perlahan.
Ketika Dolar Menentukan Isi Piring
Bagi sebagian orang, pelemahan rupiah hanyalah berita ekonomi di televisi. Angka-angka yang sulit dipahami. Grafik yang naik turun seperti detak jantung pasar modal. Namun, bagi rakyat biasa, dolar bukan sekadar mata uang asing.
Ketika rupiah melemah mendekati Rp18.000 per dolar AS, dampaknya tidak berhenti di ruang rapat para ekonom. Ia masuk ke dapur rumah tangga. Harga bahan baku naik, biaya produksi meningkat, dan pada akhirnya rakyat kembali diminta menyesuaikan diri.
Mungkin kita tidak membeli dolar. Namun, kita membeli beras yang ongkos distribusinya naik, membeli kebutuhan pokok yang terdampak biaya impor, dan menggunakan energi yang harganya dipengaruhi gejolak global.
Yang sesak bukan hanya rupiah. Yang sesak adalah dada para orang tua.
BBM Naik, Kesabaran Ikut Diuji
Harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan signifikan. Pertamax yang sebelumnya berada di kisaran Rp12 ribuan melonjak menjadi lebih dari Rp16 ribu per liter. Pemerintah beralasan bahwa penyesuaian dilakukan mengikuti harga minyak dunia dan demi menjaga kesehatan fiskal negara.
Secara teori ekonomi, itu masuk akal.
Tetapi teori tidak pernah berdiri mengantre membeli bensin sebelum berangkat bekerja. Teori tidak pernah merasakan menjadi pengemudi ojek daring yang pendapatannya tetap, sementara biaya operasional naik. Teori tidak pernah duduk di meja makan sambil berpikir apakah uang belanja minggu ini cukup sampai akhir bulan.
Yang diminta berhemat sering kali adalah mereka yang selama ini memang sudah hidup sehemat mungkin.
Negeri yang Kaya, Rakyat yang Cemas
Indonesia disebut sebagai negara kaya sumber daya. Batu bara melimpah. Nikel menjadi primadona dunia. Sawit menjadi andalan ekspor. Laut terbentang luas. Tanahnya subur.
Namun, mengapa banyak rakyat tetap hidup dengan kecemasan?
Mengapa seorang buruh yang bekerja puluhan tahun tetap takut sakit karena biaya pengobatan? Mengapa guru honorer harus mencari pekerjaan sampingan? Mengapa sarjana berlomba menjadi pegawai kontrak dengan upah pas-pasan? Mengapa kelas menengah mulai takut turun kelas?
Mungkin masalahnya bukan semata pada kekayaan alam. Mungkin persoalannya terletak pada bagaimana kekayaan itu dikelola dan untuk siapa kemakmuran itu benar-benar ditujukan.
Normalisasi Kesulitan
Yang lebih menyedihkan adalah ketika penderitaan mulai dianggap biasa.
“Kenaikan harga itu wajar.”
“Memang ekonomi dunia sedang sulit.”
“Harus bersabar.”
Semua itu benar. Tetapi ada bahaya ketika masyarakat terlalu lama diminta memahami tanpa diberi ruang untuk mempertanyakan. Kesulitan yang terus-menerus dinormalisasi akan membuat rakyat kehilangan keberanian untuk berharap.
Lama-kelamaan, standar kebahagiaan turun menjadi sekadar: asal masih bisa makan hari ini.
Padahal, rakyat tidak sedang meminta hidup mewah. Mereka hanya ingin hidup layak tanpa dihantui kecemasan setiap bangun pagi.
Belajar Tersenyum Sambil Menyembunyikan Panik
Hari ini, banyak ayah berpura-pura kuat ketika anaknya meminta uang sekolah. Banyak ibu diam-diam mengurangi porsi makan agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. Banyak anak muda tersenyum di media sosial, tetapi cemas memikirkan cicilan, kontrakan, dan masa depan yang terasa semakin mahal.
Indonesia sedang mengalami epidemi kelelahan yang tidak terlihat.
Orang-orang tetap bekerja. Tetap bercanda. Tetap membuat konten lucu. Namun, di dalam diri mereka ada ketakutan yang tidak sempat diucapkan: bagaimana jika bulan depan lebih sulit daripada bulan ini?
Kita hidup di zaman ketika kesehatan mental dibicarakan di seminar, tetapi penyebab kecemasannya sering kali bersumber dari ketidakpastian ekonomi yang nyata.
Sesak yang Tidak Boleh Membunuh Empati
Dalam situasi seperti ini, masyarakat mudah marah. Sedikit tersulut, sedikit tersinggung. Media sosial dipenuhi pertengkaran. Kita sibuk mencari kambing hitam.
Padahal, musuh terbesar dalam masa sulit adalah hilangnya empati.
Ketika kita mulai berkata, “Untung saya masih aman,” tanpa peduli pada tetangga yang kehilangan pekerjaan, maka sesungguhnya krisis telah menggerogoti bukan hanya dompet, tetapi juga nurani kita.
Bangsa ini pernah melewati berbagai ujian: krisis ekonomi, pandemi, bencana alam, bahkan konflik sosial. Yang membuat kita bertahan bukan hanya kebijakan negara, tetapi solidaritas antarwarga.
Karena sesak akan terasa lebih ringan ketika dipikul bersama.
Belajar Bernapas
Belajar bernapas di tengah sesak bukan berarti menyerah pada keadaan. Ia bukan ajakan untuk pasrah tanpa kritik. Justru sebaliknya, ia adalah upaya menjaga kewarasan agar tetap mampu berpikir jernih.
Rakyat berhak berharap kepada pemerintah untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak pada keadilan. Rakyat juga berhak mengkritik ketika merasa tidak didengar. Kritik bukan pengkhianatan. Ia adalah tanda bahwa masyarakat masih peduli terhadap arah bangsanya.
Namun, di tengah semua kegaduhan itu, kita perlu mengingat satu hal: jangan sampai keadaan sulit mengubah kita menjadi manusia yang kehilangan kasih sayang.
Sebab, mungkin hari ini Indonesia memang sedang belajar bernapas di tengah sesak. Tetapi yang paling berbahaya bukanlah mahalnya harga-harga, melemahnya rupiah, atau gejolak ekonomi global. Yang paling berbahaya adalah ketika rakyat kehilangan harapan, lalu menganggap sesak sebagai takdir yang tidak boleh dipertanyakan.
Dan ketika sebuah bangsa berhenti berharap, sesungguhnya ia telah kehilangan udara sebelum benar-benar kehabisan napas.
Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka
Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...
Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)
Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...
Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain
Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...
Dingin…
Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...
Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas
Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...
Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...
Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...






