Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Rivaldi Tamapedung, Editor: Alan Aliarcham
Senin, 27 April 2026 16:16 WIB
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Perundungan di lingkungan kampus kerap dianggap sebagai gurauan belaka, padahal dampaknya bisa sangat serius dan berkepanjangan. Menyikapi urgensi tersebut, Biro Kemahasiswaan bagian Student Mental Health and Wellbeing Support (SMHWS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar webinar bertajuk “Lebih dari Sekadar Bercanda: Memahami dan Mencegah Perundungan di Lingkungan Kampus”. (Humas)

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat bahwa perjuangan Kartini telah membuka jalan bagi perempuan untuk berdiri sejajar.

Namun di tengah perayaan itu, ada kenyataan yang sulit diabaikan. Kasus pelecehan seksual masih terus terjadi, bahkan di ruang-ruang yang dianggap aman seperti kampus, tempat kerja, hingga lingkungan sosial terdekat. Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian dari kasus tersebut tidak lagi mengejutkan. Ia seperti menjadi sesuatu yang “biasa”.

Di titik ini, kita perlu bertanya dengan jujur: jika Kartini sudah memperjuangkan martabat perempuan sejak lama, mengapa pelecehan masih terus berulang? Apakah yang salah ada pada sistem, budaya, atau cara kita memahami emansipasi itu sendiri?

Normalisasi yang Tidak Disadari: Ketika Pelecehan Dianggap Sepele

Salah satu persoalan terbesar dalam isu pelecehan adalah normalisasi. Banyak tindakan yang sebenarnya termasuk pelecehan justru dianggap sebagai hal biasa. Siulan di jalan, komentar tentang tubuh, hingga candaan yang merendahkan sering kali tidak dianggap serius.

Padahal, dalam perspektif sosial, hal-hal kecil seperti ini adalah pintu masuk dari kekerasan yang lebih besar. Ketika tindakan ringan dibiarkan, ia menciptakan ruang aman bagi perilaku yang lebih serius untuk terjadi. Ini yang membuat pelecehan tidak hanya terjadi, tetapi juga terus berulang.

Masalahnya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi bagian dari budaya tersebut. Mereka menganggapnya sebagai kebiasaan, bukan sebagai pelanggaran. Di sinilah letak bahaya terbesar: ketika yang salah tidak lagi dianggap salah.

Relasi Kuasa: Akar yang Sering Tidak Terlihat

Pelecehan seksual tidak selalu tentang hasrat, tetapi sering kali tentang kekuasaan. Dalam banyak kasus, pelaku berada dalam posisi yang lebih tinggi dosen terhadap mahasiswa, atasan terhadap bawahan, atau senior terhadap junior.

Pemikiran Michel Foucault tentang relasi kuasa membantu kita memahami fenomena ini. Kekuasaan tidak selalu tampil dalam bentuk yang kasar, tetapi bisa bekerja secara halus melalui struktur sosial. Dalam konteks ini, korban sering kali berada dalam posisi yang sulit untuk melawan.

Ketakutan terhadap dampak sosial, akademik, atau profesional membuat banyak korban memilih diam. Mereka tidak hanya menghadapi trauma, tetapi juga tekanan untuk tetap “baik-baik saja”. Ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus.

Akibatnya, pelecehan tidak hanya terjadi sekali, tetapi bisa berulang dalam sistem yang sama. Dan selama relasi kuasa ini tidak dikritisi, maka masalah akan terus ada.

Menyalahkan Korban: Luka yang Dilanggengkan

Selain normalisasi dan relasi kuasa, ada satu masalah lain yang tidak kalah serius: budaya menyalahkan korban. Ketika kasus pelecehan muncul, pertanyaan yang sering diajukan bukan tentang pelaku, tetapi tentang korban.

“Apa yang dia pakai?”
“Kenapa dia di situ?”
“Kenapa tidak melawan?”

Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa perspektif kita masih belum sepenuhnya adil. Alih-alih melindungi korban, kita justru menambah beban yang harus mereka tanggung. Ini membuat banyak korban memilih untuk diam, karena takut dihakimi.

Padahal, dalam prinsip keadilan, tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku. Tidak ada pembenaran untuk pelecehan, dalam bentuk apa pun. Menggeser fokus dari pelaku ke korban hanya akan memperpanjang masalah.

Kartini dan Emansipasi: Apa yang Belum Kita Pahami?

Jika kita kembali pada gagasan R.A. Kartini, emansipasi bukan sekadar tentang kebebasan formal. Ia adalah tentang penghormatan terhadap martabat manusia. Kartini memperjuangkan agar perempuan dipandang sebagai subjek, bukan objek.

Namun hari ini, emansipasi sering kali dipahami secara dangkal. Perempuan dianggap sudah merdeka karena memiliki ruang untuk tampil dan bersuara. Padahal, kebebasan tersebut belum tentu diiringi dengan rasa aman.

Di sisi lain, ruang public termasuk media sosial sering kali masih memposisikan perempuan sebagai objek penilaian. Tubuh, penampilan, dan pilihan hidup perempuan terus dikomentari. Ini menunjukkan bahwa perjuangan Kartini belum sepenuhnya selesai.

Emansipasi yang sejati bukan hanya tentang hak, tetapi juga tentang perlindungan. Tanpa rasa aman, kebebasan hanya menjadi ilusi.

Menuju Perubahan: Dari Kesadaran ke Tindakan

Menghadapi persoalan ini, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membangun kesadaran. Bahwa pelecehan bukan hal sepele, dan tidak boleh dianggap biasa. Edukasi menjadi kunci untuk mengubah cara pandang masyarakat.

Selain itu, sistem juga perlu diperkuat. Institusi pendidikan, tempat kerja, dan ruang publik harus memiliki mekanisme yang jelas dalam menangani kasus pelecehan. Korban harus merasa aman untuk melapor, tanpa takut akan konsekuensi yang merugikan.

Perubahan juga harus dimulai dari individu. Cara kita berbicara, bercanda, dan memandang orang lain perlu dievaluasi. Menghormati orang lain bukan hanya soal sikap besar, tetapi juga kebiasaan kecil sehari-hari.

Kartini yang Masih Menunggu

Kartini telah membuka jalan, tetapi perjalanan itu belum selesai. Pelecehan yang masih dianggap biasa adalah tanda bahwa kita belum sepenuhnya memahami perjuangannya. Kita merayakan namanya, tetapi belum sepenuhnya melanjutkan nilainya.

Maka, pertanyaan “kenapa pelecehan masih biasa?” seharusnya tidak berhenti sebagai kritik. Ia harus menjadi panggilan untuk berubah. Karena selama kita masih menganggapnya biasa, selama itu pula ketidakadilan akan terus ada.

Dan mungkin, cara terbaik untuk menghormati Kartini bukan hanya dengan mengenangnya setiap tahun, tetapi dengan memastikan bahwa perempuan hari ini benar-benar merasa aman, dihargai, dan diperlakukan sebagai manusia seutuhnya.

Berita Terbaru

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...

Self-Love dan Konsep Syukur dalam Islam: Mencintai Diri sebagai Amanah Ilahi

Di era media sosial yang serba kompetitif, istilah self-love sering kali disalahpahami sebagai bentuk narsisme atau pemanjaan diri yang berlebihan. Namun, jika kita menggali lebih...