Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Haedar Abdus Salam, Editor: Sholahuddin
Rabu, 15 April 2026 13:20 WIB
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Haedar Abdus Salam

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata. Ini bukan soal munafik, melainkan celah alami antara dunia ideal di dalam kepala dan dunia nyata tempat kita bertindak. Al-Qur’an mengingatkan dalam surat Ash-Shaff ayat 2-3, “Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah.”

Penyebab utamanya adalah keyakinan bersifat abstrak, sementara tindakan penuh hambatan nyata. Kita yakin hidup sehat itu baik, tetapi saat tubuh lelah, godaan makanan cepat saji dan rebahan lebih kuat daripada konsep sehat yang tidak terlihat. Dalam surat Yusuf ayat 53, Allah menjelaskan bahwa nafsu cenderung menyuruh kepada kejahatan, Selain itu, otak manusia tidak dirancang untuk selalu konsisten. Psikolog menjelaskan ada dua sistem berpikir: sistem cepat yang berbasis kebiasaan dan sistem lambat yang logis. Keyakinan ada di sistem lambat, tetapi tindakan sehari-hari lebih sering dikuasai sistem cepat. Inilah kelemahan manusia yang disebut dalam surat An-Nisa ayat 28.(Hasanatu, Atin, and Ikhrimah 2023)

Lingkungan juga sangat berpengaruh. Keyakinan mudah luntur jika lingkungan tidak mendukung. Sebaliknya, kebiasaan buruk lebih mudah dilakukan karena lingkungan memfasilitasinya. Surat Al-Furqan ayat 27-29 memperingatkan tentang pengaruh teman yang menyesatkan.  Keterbatasan energi mental juga menjadi penghalang. Menjalani keyakinan membutuhkan usaha sadar yang menguras energi. Setelah seharian lelah, sulit untuk tetap konsisten. Al-Qur’an mengakui keterbatasan ini dalam surat Al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.

Tekanan sosial sering membuat kita tidak berani menjalani keyakinan karena takut dinilai orang lain. Surat Al-Maidah ayat 44 memperingatkan tentang orang yang lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah, (Sukmaningtyas et al. 2024). Banyak orang kemudian menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Padahal, terlalu keras pada diri sendiri justru membuat sulit berubah. Islam mengajarkan konsep taubat dan tidak berputus asa, sebagaimana surat Az-Zumar ayat 53.

Kadang keyakinan itu sendiri perlu dipertanyakan ulang, apakah benar-benar milik kita atau hanya warisan lingkungan. Surat Al-Isra ayat 36 melarang mengikuti sesuatu tanpa ilmu, lalu mengapa keyakinan moral seperti kejujuran tetap sulit dijalani? Karena manusia pandai membenarkan diri sendiri. Inilah yang disebut dalam surat Al-Jatsiyah ayat 23 tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan.(Ayuni, Nirwana, and Nurrohim 2024).

Pada akhirnya, ketidakkonsistenan ini adalah fitur manusia, bukan kerusakan. Tidak ada orang yang seratus persen konsisten. Yang membedakan adalah kesadaran dan kesungguhan untuk terus memperbaiki diri. Sebuah hadis menyatakan bahwa setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat.(Rahayu Yustin 2022).

Hidup bukan tentang menghilangkan jurang antara keyakinan dan tindakan, karena jurang itu akan selalu ada. Hidup adalah tentang terus berusaha mempersempitnya. Surat Al-Ashr ayat 1-3 mengajarkan bahwa manusia tidak merugi jika beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kesabaran.

 

Daftar Pustaka

Ayuni, Windi, Andri Nirwana, and Ahmad Nurrohim. 2024. “Bibliometric Analysis of the Development Map and Research Trends in Qur’anic Studies and Tafseer: A Scopus Database Exploration (1974-2023).” Journal of Qur’an and Hadith Studies 12(2): 95–116.

Hasanatu, Lathifah, Mar Atin, and Nurul Ikhrimah. 2023. “Tuhan , Maafkan Aku Kurang Beryukur : Tak Perlu Menunggu Bahagia Untuk Bersyukur.” 02(01): 66–73.

Rahayu Yustin, Ahmad Nurrohim. 2022. “DALIL TEOLOGIS WANITA BEKERJA DALAM AL- QUR ’ AN Yustin Rahayu Pendahuluan Islam Adalah Agama Yang Mendorong Pemeluknya Untuk Giat Bekerja , Menjadi.” QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies 1: 48–64.

Sukmaningtyas, Anisa Nur Izzati et al. 2024. “Etika Komunikasi Al-Qur’an Dan Relevansinya Dengan Komunikasi Di Zaman Modern.” Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir 4(2): 556–76.

Share:

Berita Terbaru

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...

Self-Love dan Konsep Syukur dalam Islam: Mencintai Diri sebagai Amanah Ilahi

Di era media sosial yang serba kompetitif, istilah self-love sering kali disalahpahami sebagai bentuk narsisme atau pemanjaan diri yang berlebihan. Namun, jika kita menggali lebih...

Child Grooming: Kejahatan Tersembunyi di Era Digital dan Tantangan terhadap Perlindungan Anak

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam etika berkomunikasi (Nurrohim, 2024). Internet dan media sosial memungkinkan interaksi tanpa batas ruang...

Valid Nggak Nih? Menguji Keaslian Konten Lewat Kacamata Langit

Daftar IsiSiapa “Si Fasiq” sekarang?Kenapa Otak Kita Gampang Termakan?Panduan Tabayyun dalam 60 DetikMenjadi kritis tidak harus menjadi jurnalis investigasi. Sebelum jempolmu menyentuh tombol share, luangkan 60...

Diam-Diam Menghancurkan: Krisis Kesehatan Mental yang Kita Abaikan di Era Modern

Ada seseorang di kantor Anda yang datang setiap hari, mengerjakan tugasnya, tertawa di saat yang tepat, dan tampak baik-baik saja. Tapi malam harinya, ia berbaring...

Rahasia Harmoni Rumah Tangga dalam Tafsir Kontemporer dan Psikologi Modern

Eksistensi institusi keluarga di era disrupsi saat ini tengah menghadapi badai modernisasi yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga merambah ke ranah fundamental nilai-nilai...

Makna Parenting yang Sering Hilang Saat Lebaran

Setiap Idulfitri, kita diajarkan untuk saling memaafkan. Kalimat “mohon maaf lahir dan batin” diucapkan berulang-ulang, mengalir begitu ringan dari anak kepada orang tua. Namun, di...

Belajar Mendalam pada Ramadan

Pembelajaran mendalam (deep learning) adalah pendekatan pedagogis yang menitik beratkan pada kedalaman pemahaman dan penguasaan konsep, tidak lagi pada luasnya materi atau hapalan fakta semata. Siswa yang...