
Sudah lebih dari satu abad Muhammadiyah berdiri sebagai organisasi yang dikenal adaptif, inovatif dan progresif. Gerakan dakwah Muhammadiyah yang modernis menjadi salah satu karakter sekaligus kekuatan Muhammadiyah dalam membangun pilar-pilar Islam berkemajuan yang memberikan solusi dan pencerahan bagi umat. Mulai dari bidang pendidikan, keagamaan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan yang telah terbukti nyata berdampak bagi masyarakat luas.
Namun, di balik pencapaian tersebut, terdapat dinamika fundamental yang perlu dicermati. Di satu sisi, geliat Muhammadiyah di tingkat Daerah, Wilayah dan pusat tampak hidup dengan berbagai program, kegiatan dan dinamika organisasi yang terus berjalan. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan inisiatif terus berkembang. Di sisi lain, kehidupan di tingkat Ranting (Pimpinan Muhammadiyah Ranting) justru melemah dan cenderung terpinggirkan.
Padahal, sejak awal berdirinya, Muhamadiyah tidak dibangun dari atas ke bawah, melainkan tumbuh dari lapisan terbawah, akar rumput yang menjadi dasar struktur di atasnya. Jika diibaratkan, Ranting itu seperti akar Persyarikatan. Ia bukan sekadar pelengkap struktur, tetapi fondasi utama gerakan yang menjadi cikal bakal berkembang pesatnya Muhammadiyah. Ketika Ranting melemah, yang terancam bukan hanya keberlanjutan gerakan di Ranting tersebut, melainkan keseluruhan gerakan Muhammadiyah.
Ujung Tombak yang Mulai Tumpul
Dalam banyak kasus, Ranting seringkali belum mampu menjalankan fungsinya secara optimal. Data organisasi yang belum lengkap, minimnya aktivitas rutin seperti kajian dan kegiatan sosial lainnya, hingga rendahnya keterlibatan peran Ranting dalam program di tingkat daerah. Hal-hal ini menjadi indikator dari tumpulnya ujung tombak dakwah Muhammadiyah di tingkat dasar yang mengancam keberlanjutan gerakan.
Situasi ini menjadi persoalan serius ketika sebuah organisasi besar yang tampak aktif dan gagah di permukaan, tetapi rapuh di akarnya. Ranting yang seharusnya menjadi cikal bakal calon kader, pusat dakwah komunitas dan basis pemberdayaan masyarakat di tingkat bawah justru mulai kehilangan perannya secara perlahan. Maka, perlu dilakukan langkah kongkrit untuk menguatkan kembali peran ranting di tengah-tengah masyarakat.
Sebagai ujung tombak dakwah Persyarikatan, Ranting memegang peran krusial dalam menentukan hidup atau matinya denyut nadi gerakan. Ia adalah wajah asli Muhammadiyah yang bersentuhan langsung dengan jemaah setiap harinya. Jika Ranting hanya ada dalam surat Keputusan (SK) namun nihil dalam aksi, maka Persyarikatan kehilangan daya jangkau untuk menyentuh persoalan nyata yang dihadapi umat.
Sentralisasi yang Tidak Disadari
Berbagai kegiatan Muhammadiyah seringkali dipusatkan di tingkat daerah atau kota, baik karena pertimbangan fasilitas, kemudahan akses, maupun kebiasaan yang sudah berlangsung lama. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa semua kegiatan Ke-Muhammadiyah-an harus dilaksanakan di balai dakwah Muhammadiyah. Akibatnya, ruang gerak Ranting menjadi semakin terbatas.
Tidak sedikit agenda organisasi akhirnya hanya berputar di lingkungan yang sama.Tanpa disadari, pola ini menimbulkan ketergantungan. Ranting cenderung menunggu program dari atas, sementara Ranting kehilangan inisiatifnya. Jika kondisi ini terus berlangsung, Muhammadiyah berpotensi menjadi organisasi yang ramai di pusat tetapi sepi di akar rumput. Pemberian ruang yang lebih luas kepada Ranting menjadi penting agar Ranting dapat mandiri dan benar-benar memberikan dampak langsung ke masyarakat.
Anak Muda yang Kehilangan Ruang
Saat ini, banyak anak-anak muda yang aktif dalam kegiatan sosial, media digital, atau komunitas tertentu. Sayangnya, ketika mendapat tawaran untuk masuk ke struktur Ranting, tidak sedikit yang menolak karena merasa kurang menarik. Mereka berpandangan bahwa mengurusi Ranting itu rumit dan kurang menantang. Selain itu, anak muda zaman sekarang cenderung pragmatis dan oportunis. Mereka lebih tertarik berkecimpung di dunia organisasi otonom (ortom) karena dirasa lebih dinamis dan menjanjikan.
Akibatnya, regenerasi di tingkat Ranting sering mengalami hambatan. Struktur organisasi hanya diisi oleh orang-orang itu saja, sementara keterlibatan anak muda belum maksimal. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Ranting akan semakin sulit berkembang dan kehilangan daya tariknya sebagai penggerak dakwah di masyarakat. Padahal, peran anak muda sangat penting untuk memberikan kontribusi dan inovasi yang segar bagi gaya dakwah yang sesuai dengan selera anak muda masa kini.
Persoalan regenerasi ini sebenarnya bukan bicara tentang siapa yang paling dominan, melainkan bagaimana membangun kolaborasi yang kokoh dan saling melengkapi. Perjuangan dakwah membutuhkan kearifan dan pengalaman para tokoh senior untuk menjaga nilai-nilai ideologis agar tetap pada jalurnya. Di sisi lainnya, Ranting juga membutuhkan kreativitas dan adaptifitas anak-anak muda untuk menjawab tantangan zaman yang serba digital.
Ketergantungan Ekonomi yang Menghambat
Lemahnya kemandirian ekonomi di tingkat Ranting juga menjadi masalah yang tak kalah krusila. Banyak Ranting yang belum mampu memberdayakan potensi ekonominya padahal peluang dan pasar ekonomi lokal sebenarnya cukup besar dan menjanjikan. Mulai dari usaha-usaha kecil, usaha berbasis jaringan jemaah, hingga peluang untuk menciptakan produk yang sering dikonsumsi masyarakat.
Contoh sederhananya seperti usaha minuman es teh yang sekarang sedang menjamur di masyarakat. Seandainya setiap Ranting di setiap daerah memiliki unit usaha serupa sebagai basis ekonomi, hal ini tentu akan menjadi peluang besar kemandirian ekonomi di tingkat Ranting. Dengan kemandirian tersebut, Ranting tidak lagi terhambat oleh kendala pendanaan seperti ketergantungan pada iuran atau bantuan dari tingkat atas, melainkan mampu membiayai kegiatan dakwah, pengajian, hingga aksi sosial secara mandiri.
Upaya Ranting untuk membangun kemandirian ekonomi bukan hanya untuk mencari keuntungan semata. Tetapi untuk kembali memberikan denyut nadi pada gerakan dakwah yang lebih luas. Dengan ekonomi yang kuat, Ranting akan lebih leluasa untuk merealisasikan program-program yang selama ini tertunda karena kendala anggaran.
Kembali ke Akar, Menguatkan yang Paling Dasar
Pada akhirnya, Muhammadiyah adalah milik kita bersama, milik umat yang menjadi amanah untuk dijaga dan dilanjutkan oleh setiap generasi. Maka, menguatkan Ranting bukan sekadar pilihan melainkan keharusan. Ranting adalah fondasi utama gerakan. Di sanalah dakwah tumbuh, kader ditempa dan pengabdian yang nyata di masyarakat.
Dengan membangun fondasi yang kuat di dasar, maka ekosistem di atasnya akan kokoh dan berkembang. Ranting yang hidup akan melahirkan Cabang yang kuat, Daerah yang solid, hingga Persyarikatan yang semakin berkemajuan. Sudah saatnya Ranting tidak lagi dipandang sebagai pelengkap struktur, tetapi sebagai pusat denyut gerakan dakwah Persyarikatan di tingkat yang paling dasar.
Dengan penguatan kader, pelaksanaan program yang merata, membangun kemandirian ekonomi, serta pelibatan peran anak-anak muda dalam ruang-ruang kepemimpinan dan dakwah menjadi kunci keberlanjutan dakwah Muhammadiyah dan keberhasilan gerakan dalam menghadapi tantangan zaman dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar benarnya.
Sumber: Laporan Utama Majalah Langkah Baru edisi 24/Mei-Agustus 2026
Pemuda Muhammadiyah Kota Bengawan Gelar Festival Ramadan #3, Bukti Geliat Ekonomi dan Dakwah
Sinergi apik tercipta di lingkungan Masjid Nurul Hidayah pada Rabu (18/02/2026) yang penuh berkah. Kolaborasi strategis ini melibatkan Takmir Masjid dan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah...
Media Afiliasimu dan Agenda Muhammadiyah
Para pengelola media yang tergabung pada Media Afiliasi Muhammadiyah (Afiliasimu) sepakat menjadikan medianya sebagai ujung tombak penyebaran agenda dan informasi persyarikatan. Pada Jambore Media Afiliasi...
Langkah Besar Muhammadiyah Menyatukan Kalender Hijriyah
Muhammadiyah menorehkan sejarah dengan meluncurkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) per 1 Muharram 1446 H yang jatuh pada Minggu (7/7/2024). Mulai tanggal itu, Muhammadiyah menggunakan...
Pembelajaran Baik tentang Pendidikan Lingkungan Hidup di SMA Muh PK Kottabarat
Manusia hidup menetap dan tak terlepas dari lingkungan hidupnya. Lingkungan itu merupakan tempat manusia menggantungkan hidup. Seperti halnya tempat tinggal, tempat sumber makan, hingga menjadi...






