Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra Utara, mendapatkan simpati yang luar biasa. Setiap ada berita atau konten tentang Muhammadiyah yang diunggah di media sosial, mayoritas warganet memberikan respons positif. Hanya ada satu atau dua warganet yang menanggapi negatif.
Jadi, secara umum, persepsi publik itu sangat baik. Termasuk saat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) diberi kepercayaan menyalurkan bantuan beras 30ton dari salah satu organisasi kemanusiaan Uni Emirat Arab (UEA). Muhammadiyah, melalui MDMC, Lazismu, dan organ-organ lain di Persyarikatan, mempunyai reputasi panjang untuk kerja-kerja kemanusiaan, tidak hanya di Indonesia, melainkan hingga ke mancanegara.
Tentu saja apresiasi masyarakat ini patut kita syukuri. Kerja-kerja kemanusiaan Persyarikatan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan bahwa Muhammadiyah akan selalu hadir dalam situasi bencana seperti ini karena ini merupakan panggilan kemanusiaan. Bahkan Muhammadiyah berkomitmen mengerahkan kekuatan nasional untuk membantu para korban banjir di Pulau Sumatra ini hingga kondisi bisa pulih kembali. Kita bersyukur, individu, masyarakat, organisasi masyarakat sipil di Indonesia gercep saling membantu untuk meringankan beban para korban. Inilah wajah sosial-kemanusiaan masyarakat Indonesia.
Tertinggi
Sesungguhnya apresiasi positif ini tidak hanya diterima Muhammadiyah pada situasi bencana ini. Litbang Kompas pernah merilis hasil jajak pendapat yang menyebutkan Muhammadiyah memperoleh persepsi publik yang baik hingga lebih dari 91 persen responden. Nilai ini tertinggi untuk persepsi publik terhadap organisasi kemasyarakatan di Indonesia berbasis polling Litbang Kompas.
Kita tahu, aksi kemanusiaan Muhammadiyah sesungguhnya tidak dimaksudkan untuk pencitraan. Semua semata-mata untuk mengimplementasikan ideologi Muhammadiyah pada ranah kemanusiaan. Namun demikian, persepsi publik di dunia maya ini juga penting dijaga. Bagaimana pun, warganet telah menjadi kekuatan baru di Indonesia. Persepsi warganet bisa menjadi kelompok penekan (pressure group) yang ampuh. Para pejabat di Indonesia terpaksa meminta maaf setelah kasusnya menjadi bulan-bulanan massa di media sosial. Media sosial telah menjadi ruang bertemunya kewargaan sebagai ruang bebas untuk menyuarakan isu-isu kepublikan. Di dalam masyarakat terbuka (open society), partisipasi warga dalam diskusi publik melalui media sosial menjadi penting. Media sosial menjadi wadah baru bagi warga untuk bersuara di ruang publik secara bebas. Boleh dikatakan, media sosial kini menjelma menjadi pilar kelima demokrasi setelah media massa. Apalagi saluran-saluran politik resmi untuk aspirasi warga ini pampat di Indonesia. Warga kemudian menemukan saluran baru itu di dunia maya.
Setiap warga Persyarikatan wajib untuk menjaga nama baik, reputasi, dan integritas organisasi ini di mata publik. Persepsi baik dari publik ini merupakan amanah, kepercayaan yang harus kita kelola sebaik mungkin. Mereka telah sangat percaya kepada Persyarikatan, tentu tidak sepatutnya hal itu menjadikan kita lupa, menyombongkan diri, atau merasa menjadi lebih baik dari yang lain. Mawas diri, kehati-hatian dalam melangkah menjadi hal strategis untuk mempertahankan kepercayaan ini.
Jangan sampai ikhtiar Muhammadiyah dalam membangun peradaban hingga 113 tahun ini rusak karena ulah segelintir kader, pengurus, yang tidak tulus dalam menjalankan amanah organisasi. Termasuk pula kader-kader Muhammadiyah yang menjadi pejabat publik, baik kepala daerah, menteri/wakil menteri, atau pejabat-pejabat publik lainnya. Para kader yang menjadi pejabat ini juga selalu menjadi sorotan publik. Setiap tindakan, ucapan, atau kebijakannya akan selalu dikaitkan dengan status mereka sebagai kader Persyarikatan. Kalau kinerja mereka baik, nama Muhammadiyah akan baik. Sebaliknya, kalau kinerjanya buruk, Muhammadiyah juga akan terkena dampaknya.
Kita tahu ada pejabat dari kader Persyarikatan yang saat ini disorot publik karena kinerjanya dianggap buruk. Tentu ini menjadi catatan sekaligus refleksi bagi Persyarikatan. Sesungguhnya kader Persyarikatan yang menjadi pejabat publik itu punya tugas mulia: membawa nilai-nilai Islam berkemajuan dalam ranah kebangsaan dan kesemestaan. Kehadiran mereka bukan untuk menjadi beban Persyarikatan.
Ingat itu…
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...
Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah
Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...
Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara
Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...
Inovasi atau Mati
Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...
Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam
SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...
Berharap kepada JIMM…
Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Soloraya, Selasa (28/10/2025), menyelenggarakan diskusi bertema “Rancang Bangun Tafsir At-Tanwir: Pandangan Orang Dalam”. Acara yang berlangsung di ruang Siti Baroroh...






