Memasuki abad kedua perjalanannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa awal kelahirannya. Pada era Kiai Haji Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah kebodohan, kemiskinan, dan praktik keagamaan yang memerlukan pembaruan. Pada maka pada masa kini, tantangan itu hadir dalam bentuk yang lebih kompleks, yakni perubahan sosial yang begitu cepat, perkembangan teknologi yang melaju tanpa jeda, pergeseran nilai budaya, hingga dinamika global yang memengaruhi kehidupan umat di berbagai bidang.
Tantangan Muhammadiyah saat ini bukan semata-mata persoalan membangun amal usaha atau memperluas organisasi, tetapi bagaimana menjaga roh gerakan agar tetap hidup di tengah kemajuan yang telah dicapai. Banyak organisasi besar dalam sejarah mengalami kemunduran bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kehilangan energi pembaruan. Ketika organisasi terlalu nyaman dengan capaian masa lalu, semangat tajdid dapat melemah dan gerakan perlahan berubah menjadi sekadar rutinitas kelembagaan.
Di berbagai daerah, Muhammadiyah menghadapi tantangan regenerasi kepemimpinan, penguatan ideologi, dan pengaderan. Tidak sedikit generasi muda yang mengenal Muhammadiyah melalui sekolah, kampus, rumah sakit, atau amal usahanya, tetapi belum tentu memahami secara mendalam gagasan besar yang melandasi gerakan ini. Akibatnya, muncul kesenjangan antara kebesaran institusi dengan penguatan identitas ideologis warga persyarikatan.
Di sisi lain, perubahan sosial berlangsung sangat cepat. Era digital telah mengubah cara manusia belajar, berinteraksi, berdakwah, bahkan beragama. Media sosial menghadirkan ruang baru yang penuh peluang sekaligus tantangan. Otoritas keagamaan menjadi semakin cair. Informasi keagamaan beredar tanpa batas dan sering kali tanpa proses verifikasi yang memadai. Dalam konteks ini, Muhammadiyah dituntut hadir sebagai kekuatan pencerahan yang mampu menawarkan Islam yang moderat, berilmu, dan mencerahkan di tengah derasnya arus populisme keagamaan, polarisasi sosial, dan penyebaran disinformasi.
Kekompakan
Karena itu, tema kekompakan menjadi sangat strategis. Kekompakan bukan hanya soal menjaga harmoni internal organisasi, tetapi juga tentang kemampuan seluruh komponen Persyarikatan untuk bergerak dalam satu visi besar. Di tengah dinamika organisasi yang semakin kompleks, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan. Namun, perbedaan tersebut harus tetap berada dalam bingkai ukhuwah, musyawarah, dan orientasi kemajuan.
Muhammadiyah saat ini juga menghadapi tantangan profesionalisme pengelolaan amal usaha. Ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai lembaga sosial memerlukan tata kelola yang modern, transparan, dan akuntabel. Keunggulan amal usaha tidak lagi cukup hanya dengan mengandalkan nama besar organisasi, tetapi harus dibuktikan melalui kualitas layanan, inovasi, dan daya saing yang tinggi. Dalam konteks ini, semangat berkemajuan harus diterjemahkan ke dalam budaya kerja yang unggul dan berorientasi pada mutu.
Pada saat yang sama, Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat besar untuk berperan dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Krisis lingkungan, ketimpangan ekonomi, kemiskinan, degradasi moral, kesehatan mental generasi muda, hingga tantangan pendidikan merupakan bidang-bidang yang menuntut kehadiran gerakan Islam yang solutif. Dakwah Muhammadiyah tidak cukup hanya berbicara tentang apa yang salah, tetapi harus mampu menunjukkan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya.
Karena itu, gagasan “kompak dan berkemajuan” dapat dimaknai sebagai agenda strategis Muhammadiyah masa kini. Kompak dalam menjaga persatuan, memperkuat pengaderan, dan membangun sinergi seluruh potensi Persyarikatan. Berkemajuan dalam mengembangkan pemikiran, memperkuat amal usaha, menguasai teknologi, dan menghadirkan solusi atas persoalan umat dan bangsa.
Dalam situasi seperti itu, Muhammadiyah dituntut tidak sekadar bertahan sebagai organisasi besar, tetapi juga terus bergerak sebagai kekuatan pembaruan. Kemajuan yang dicita-citakan tidak hanya diukur dari banyaknya amal usaha, luasnya jaringan organisasi, atau besarnya jumlah anggota. Kemajuan yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk terus menghadirkan Islam sebagai sumber pencerahan yang relevan bagi kebutuhan zaman.
Gagasan Islam Berkemajuan yang selama ini menjadi salah satu identitas Muhammadiyah sesungguhnya bukan konsep yang lahir dari ruang hampa. Ia merupakan ikhtiar untuk menghidupkan kembali semangat tajdid yang diwariskan para pendiri persyarikatan. Islam dipahami bukan sekadar sebagai kumpulan doktrin normatif, melainkan sebagai kekuatan yang mampu mendorong perubahan sosial, membangun peradaban, dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia.
Karena itu, Islam Berkemajuan tidak boleh berhenti sebatas pada wacana. Ia harus hadir dalam tindakan nyata. Semangat tersebut tecermin dalam pengembangan pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, hingga berbagai gerakan dakwah yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Dakwah tidak lagi dipahami sebatas ceramah di mimbar, tetapi juga diwujudkan melalui kerja-kerja kemanusiaan yang memberi solusi bagi persoalan kehidupan.
Dalam sejarahnya, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan pembaruan yang mampu memadukan antara pemurnian ajaran dan pengembangan pemikiran. Di satu sisi, gerakan ini berupaya menjaga kemurnian nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah. Di sisi lain, Muhammadiyah juga membuka ruang bagi pengembangan gagasan, inovasi, dan kreativitas dalam merespons perubahan zaman. Keseimbangan inilah yang menjadi kekuatan utama Muhammadiyah selama lebih dari satu abad.
Namun, kekuatan gagasan saja tidak cukup. Kemajuan memerlukan modal sosial yang kokoh berupa kebersamaan, solidaritas, dan budaya organisasi yang sehat. Sebesar apa pun sebuah organisasi, ia tidak akan mampu bergerak optimal apabila energi anggotanya habis untuk perbedaan yang tidak produktif. Sebaliknya, organisasi yang dihuni oleh individu-individu yang saling menguatkan akan memiliki daya tahan dan daya gerak yang jauh lebih besar.
Di sinilah pentingnya membangun kekompakan. Kekompakan bukan berarti meniadakan perbedaan pandangan. Dalam organisasi yang besar dan dinamis, perbedaan adalah sesuatu yang wajar. Kekompakan justru terletak pada kemampuan menjadikan perbedaan sebagai kekayaan, bukan sumber perpecahan. Kekompakan tumbuh ketika seluruh elemen organisasi memiliki orientasi yang sama, yakni memajukan dakwah dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Muhammadiyah masa depan memerlukan generasi yang tidak hanya memahami sejarah Persyarikatan, tetapi juga mampu membaca arah perubahan dunia. Generasi yang memiliki keteguhan ideologis sekaligus keluasan wawasan. Generasi yang mampu berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai keislaman. Generasi yang menjadikan dakwah sebagai gerakan pencerahan, bukan sekadar aktivitas rutin yang kehilangan ruh transformasinya.
Kemajuan juga menuntut keberanian untuk melakukan pembaruan secara berkelanjutan. Tajdid tidak boleh berhenti sebagai slogan. Ia harus terus hidup dalam cara berpikir, cara bekerja, dan cara melayani masyarakat. Organisasi perlu terus memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas kaderisasi, memperluas jangkauan dakwah, serta menghadirkan amal usaha yang unggul dan adaptif terhadap perubahan.
Pada akhirnya, kemajuan bukanlah tujuan yang dapat dicapai sekali lalu selesai. Kemajuan adalah proses panjang yang menuntut kesungguhan, kesabaran, dan kerja kolektif. Ia lahir dari perpaduan antara kekuatan gagasan dan kekuatan kebersamaan. Ketika semangat tajdid terus menyala dan seluruh komponen organisasi mampu berjalan dalam satu irama, maka Muhammadiyah akan tetap menjadi gerakan yang relevan, mencerahkan, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan universal.
Kekompakan dan kemajuan bukanlah dua tujuan yang terpisah. Keduanya adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Dari kebersamaan lahir kekuatan, dan dari kekuatan itulah kemajuan dapat diwujudkan.
Selamat Datang SMP Muhammadiyah PKBS Kota Solo
Dalam AD/ART Persyarikatan Muhammadiyah tentang identitas organisasi disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan...
Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah
Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk...
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...
Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…
Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...
Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah
Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...
Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara
Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...






