Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Hendro Susilo, Editor: Sholahuddin
Senin, 23 Februari 2026 00:01 WIB
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Simbol Muhammadiyah (Muhammadiyah.or.id).

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan pada kualitas anggotanya dengan pijakan ideologi organisasi. Sedangkan organisasi massa lebih menekankan kekuatan jumlah anggota dan simpatisan dibandingkan kualitas kadernya.

Organisasi kader seperti Muhammadiyah memiliki pola dan pedoman dalam proses pendidikan kader. Istilah Baitul Arqam di Muhammadiyah sudah tidak asing lagi. Baitul Arqam adalah forum pengaderan ideologis Muhammadiyah. Tujuannya untuk menanamkan komitmen perjuangan Persyarikatan. Para kader dibina untuk siap berkorban tenaga, pikiran, dan waktu serta aktif dalam kegiatan dan amal usaha Muhammadiyah.

Beberapa bulan lalu di Kota Solo, tepatnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dilaksanakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam Rakornas ini, disinggung tentang tantangan kaderisasi di era post truth. Kajian hasil riset yang mengatakan pola keberagamaan generasi baru cenderung lebih religius, tapi di sisi lain bersifat sangat personal, dan tidak peduli kepada institusi keagamaan. Hal ini menjadi tantangan nyata proses pengaderan.

Menurut Fajar Riza Ul Haq, dalam paparan di forum tersebut mengemukakan bahwa mereka (generasi baru) menganggap bahwa organisasi keagamaan hari ini tak relevan dengan kultur generasi baru yang sejatinya tak terlalu menyukai sesuatu yang terlalu formalistik dan hirarkis. Kendala inilah yang membuat institusi keagamaan seperti Muhammadiyah perlu mereformulasi sistem pengaderannya.

Menarik mencermati ulasan Fajar Riza Ul Haq mengenai orientasi keberagamaan di masa depan sangat bergantung dari bagaimana nilai tersebut dimaknai, untuk kemudian memberikan dampak sosial kepada masyarakat. Jadi, Muhammadiyah bisa mengambil hati generasi baru, ketika ia berorientasi kepada nilai dan dampak sosial.

Edukasi dan Pengaderan di AUM Sekolah

Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) berfungsi sebagai laboratorium pengaderan dengan menjadikan institusi seperti sekolah misalnya, menjadi tempat pengabdian, eksperimen, dan penanaman ideologi Islam berkemajuan bagi kader muda (siswa). AUM bukan sekadar entitas bisnis atau professional semata, melainkan sebagai ruang pembinaan nilai, komitmen, dan regenerasi pimpinan untuk keberlanjutan dakwah Muhammadiyah.

AUM bertugas menanamkan roh perjuangan dan nilai-nilai Muhammadiyah. Berbagai strategi dan program di AUM saya yakin sudah diikhtiarkan sekolah Muhammadiyah dalam mendidik siswanya untuk siap menjadi kader Muhammadiyah. Seperti yang telah dilakukan oleh SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, yang berkolaborasi dengan Pimpinan Ranting Muhammadiyah maupun Pimpinan Cabang Muhammadiyah untuk melatih kader muda melalui program pemberdayaan dan pengabdian langsung. Program tersebut bernama Live in Society.

Mengimplementasikan Gagasan

Program Live in Society memberikan kesempatan kepada siswa (kader muda) untuk mengimplementasikan gagasan nilai dalam mengembangkan dan memberdayakan sebuah komunitas dalam lingkup Ranting/Cabang. Program ini memberikan sentuhan pada kontribusi nyata siswa (kader muda) agar memberikan dampak pada masyarakat. Penguatan nilai orientasi dan dampak yang ditimbulkan dari program Live in Society yang siswa telah rencanakan, adalah salah satu metode pengkaderan berbasis nilai dan manfaat.

Termasuk dalam kesempatan kegiatan Pesantren Ramadan di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, sekolah ini mengundang kader organisasi otonom (ortom) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) untuk memberikan pengalaman nyata dan motivasi dalam mengenalkan gerakan Muhammadiyah. Menariknya, penjelasan yang dikemukakan dilakukan dengan pendekatan realitas dan pengalaman empiris ketika beraktivitas di Muhammadiyah. Hal ini dapat mendorong perubahan perilaku nyata dan muncul motivasi kuat untuk menjadi kader sekaligus penggerak ortom yang ada di sekolah.

Proses pendekatan nilai dan dampak inilah yang harus menjadi arus pemikiran AUM sekolah dalam program pengaderan kepada warganya. Sekolah Muhammadiyah harus menjadi laboratorium penyemai nilai Persyarikatan. Semoga, ikhtiar AUM dalam pengaderan dengan program model pendekatan nilai dan dampak sosial dapat mendorong anggotanya menjadi kader militan yang akan meneruskan tongkat estafet dakwah Muhammadiyah.

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Berharap kepada JIMM…

Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Soloraya, Selasa (28/10/2025), menyelenggarakan diskusi bertema “Rancang Bangun Tafsir At-Tanwir: Pandangan Orang Dalam”. Acara yang berlangsung di ruang Siti Baroroh...