Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Soleh Amini Yahman, Editor: Sholahuddin
Senin, 9 Maret 2026 08:32 WIB
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Simbol Muhammadiyah (Muhammadiyah.or.id).

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi simbol kemenangan batin setelah sebulan penuh manusia ditempa untuk menahan diri, membersihkan hati, dan memperbarui komitmen keimanan.

Di tengah keragaman cara umat Islam merayakan Idulfitri di Indonesia, terdapat corak khas yang sering dilekatkan pada warga Muhammadiyah  : sederhana, tertib, dan berusaha setia pada tuntunan sunah. Bagi Muhammadiyah, Idulfitri bukanlah perayaan yang berpusat pada kemeriahan seremonial semata. Idulfitri lebih dimaknai sebagai puncak perjalanan spiritual Ramadan. Karena itu, ekspresi kegembiraan pada hari raya ditempatkan dalam kerangka ibadah, bukan dalam logika pesta yang berlebihan. Kesederhanaan menjadi karakter yang menonjol. Kesederhanaan ini bukan berarti meniadakan kegembiraan, melainkan mengarahkannya agar tetap berada dalam batas-batas etika Islam.

Kesederhanaan tersebut tampak sejak malam Idulfitri. Gema takbir dikumandangkan dengan penuh kekhidmatan, sering kali di masjid atau mushala, dalam suasana yang tenang tanpa iring-iringan kendaraan atau pesta kembang api yang berlebihan. Takbir dimaknai sebagai pengagungan kepada Allah, bukan sekadar euforia kolektif. Spirit yang dihadirkan adalah kesadaran bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan sosial, melainkan kemenangan spiritual.

Suasana Egaliter

Pada pagi hari raya, warga Muhammadiyah biasanya berbondong-bondong menuju lapangan atau masjid untuk melaksanakan salat Id. Ada pemandangan yang khas: jemaah datang dengan tertib, mengenakan pakaian terbaik namun tetap sederhana. Lapangan-lapangan luas sering dipilih sebagai tempat pelaksanaan salat Id sebagai bentuk meneladani praktik Nabi Muhammad saw. Pilihan ini sekaligus menghadirkan suasana egaliter, di mana semua orang tanpa memandang status sosial berdiri dalam satu saf yang sama.

Ketertiban menjadi karakter lain yang menonjol. Salat Id dilaksanakan dengan tata cara yang rapi, mengikuti tuntunan fikih yang dipahami melalui pendekatan tarjih. Khotbah Id biasanya disampaikan secara reflektif, mengajak jemaah untuk melanjutkan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sosial: kejujuran, kepedulian, dan kesalehan sosial. Idulfitri dimaknai bukan sekadar kembali kepada fitrah, tetapi juga momentum memperbaiki kualitas diri dan masyarakat.

Selepas salat Id, tradisi silaturahmi tetap menjadi bagian penting. Dalam tradisi Muhammadiyah, silaturahmi lebih ditekankan pada substansi daripada ritual formal. Intinya adalah saling memaafkan dan mempererat persaudaraan. Ungkapan mohon maaf lahir dan batin menjadi simbol kerendahan hati untuk membersihkan relasi sosial yang mungkin selama ini ternodai oleh kesalahpahaman.

Kesederhanaan juga tampak dalam cara memaknai hidangan hari raya. Ketupat, opor, dan aneka sajian khas tetap hadir di meja makan keluarga. Namun yang ditekankan bukanlah kemewahan makanan, melainkan kebersamaan keluarga. Idulfitri menjadi ruang untuk memperkuat ikatan keluarga, mengunjungi orang tua, serta mempererat hubungan kekerabatan yang sering kali tergerus oleh kesibukan kehidupan modern.

Di balik semua itu terdapat prinsip penting yang menjadi landasan warga Muhammadiyah: berusaha meneladan sunah Nabi Muhammad. Perayaan Idulfitri diarahkan agar tidak terjebak dalam praktik-praktik yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam ajaran Islam. Sikap kritis terhadap tradisi yang berpotensi berlebihan menjadi salah satu ciri khasnya. Namun, sikap ini tidak dimaksudkan untuk menafikan budaya lokal, melainkan untuk menempatkan budaya dalam bingkai nilai-nilai tauhid.

Dalam konteks masyarakat modern, corak Idulfitri seperti ini menjadi semakin relevan. Kehidupan kontemporer kian dipengaruhi oleh budaya hedonisme, materialisme, dan orientasi teknologi. Dalam budaya konsumsi, kebahagiaan sering kali diukur melalui simbol-simbol materi seperti pakaian baru yang mahal, hidangan mewah, perjalanan wisata, hingga representasi gaya hidup di media sosial. Hari raya yang semestinya menjadi ruang kontemplasi spiritual tidak jarang berubah menjadi panggung pamer kemakmuran.

Secara sosiopsikologis, fenomena tersebut menunjukkan kecenderungan manusia modern untuk mencari pengakuan sosial melalui simbol-simbol material. Individu terdorong menampilkan citra ideal di ruang publik digital, sehingga perayaan Idulfitri pun sering terjebak dalam logika kompetisi simbolik. Kegembiraan yang muncul kerap bersifat superfisial, sementara kedalaman spiritual justru memudar.

Dalam situasi seperti ini, nilai kesederhanaan yang dihidupkan dalam tradisi Muhammadiyah menghadirkan kritik kultural yang penting. Ia mengingatkan bahwa esensi hari raya tidak terletak pada kemewahan, tetapi pada kejernihan hati setelah menjalani pendidikan spiritual Ramadan. Kesederhanaan menjadi cara untuk membebaskan manusia dari tekanan sosial untuk selalu tampak berhasil secara material.

Demikian pula ketertiban dalam praktik ibadah memiliki makna psikologis dan sosial yang mendalam. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi digital, pengalaman ibadah yang tertib dan khusyuk menghadirkan ruang ketenangan kolektif. Saf-saf salat yang rapi di lapangan terbuka bukan sekadar formasi ritual, tetapi simbol kesetaraan manusia di hadapan Allah.

Sementara itu, orientasi pada sunnah berfungsi sebagai jangkar nilai di tengah arus modernitas yang serba berorientasi teknologi. Teknologi membawa kemudahan dan kemajuan, tetapi tanpa panduan nilai ia dapat menyeret manusia pada kehidupan yang serba instan dan dangkal. Dengan menjadikan sunnah sebagai pedoman, umat diingatkan bahwa kemajuan peradaban harus tetap berada dalam koridor etika tauhid.

Namun,  penting ditegaskan bahwa kesederhanaan ala Muhammadiyah bukanlah bentuk penolakan terhadap modernitas. Sejak awal kelahirannya, Muhammadiyah justru dikenal sebagai gerakan Islam yang akrab dengan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kemajuan teknologi. Yang dikritisi bukanlah modernitas itu sendiri, melainkan orientasi hidup yang menjadikan materi dan konsumsi sebagai pusat makna kehidupan.

Pada titik inilah Idulfitri menemukan relevansinya sebagai momentum koreksi kultural. Ia mengajak manusia modern untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk konsumsi dan kembali kepada dimensi spiritual kehidupan. Kesederhanaan menjadi bentuk resistensi moral terhadap hedonisme, ketertiban menjadi latihan disiplin sosial, dan sunnah menjadi kompas agar perayaan tidak kehilangan arah transendennya.

Akhirnya, Idulfitri adalah momentum kembali kepada kejernihan hati. Kesederhanaan menjaga manusia dari kesombongan, ketertiban menumbuhkan kedisiplinan sosial, dan sunnah menjadi pedoman agar kegembiraan tetap berada dalam bingkai ibadah. Dalam dunia modern yang sering memuja kemewahan dan kecepatan, corak Idulfitri seperti ini menghadirkan pesan yang menenangkan: bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari kelimpahan materi, melainkan dari kedalaman iman dan kemurnian hati yang kembali kepada fitrahnya.

Selamat merayakan Idulfitri 1447 H. Taqoballahu Minna Waminkum.  

Berita Terbaru

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Berharap kepada JIMM…

Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Soloraya, Selasa (28/10/2025), menyelenggarakan diskusi bertema “Rancang Bangun Tafsir At-Tanwir: Pandangan Orang Dalam”. Acara yang berlangsung di ruang Siti Baroroh...