Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA sementara ini menjadi mata pelajaran pilihan dan akan diterapkan secara bertahap di seluruh Tanah Air. Mengingat keterbatasan staf pengajar /pengampu, ketersediaan sumber belajar, dan sarana-prasarana pendukung, menjadi salah satu alasan mengapa implementasi mapel KKA ini dilakukan secara bertahap dan menjadi mapel pilihan. Menghadapi transformasi digital ini memang dibutuhkan sebuah keterampilan yang lebih, tidak sekadar keterampilan dasar, serta etika dalam menyikapinya. Maka dengan diterapkannya mapel KKA ini adalah salah satu bentuk menyiapkan generasi yang adaptif dan kompetitif.
Salah satu kompetensi yang dibangun dalam mata pelajaran ini adalah berpikir komputasional. Ini bukan soal menghafal kode atau menjadi ahli pemprograman, melainkan cara berpikir logis, runtut, dan efisien dalam memecahkan masalah (Jawa Pos, 1/8/2025). Berpikir komputasional mengajarkan murid bagaimana memecahkan persoalan menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, membangun algoritma, dan mengevaluasi solusi secara sistematis. Ini adalah cara kerja ilmiah yang dirancang untuk abad ke-21. Anak- anak yang mampu berpikir seperti itu akan lebih siap menghadapi tantangan apa pun, termasuk yang belum diketahui sekarang.
Tantangan yang Berbeda
Siswa kita yang saat ini sedang tumbuh dan belajar akan menjalani hidup lima sampai sepuluh tahun yang akan datang. Mereka akan menghadapi dunia dengan tantangan yang berbeda dengan generasi kita. Artinya kehidupan saat ini yang sedang mereka jalani akan berbeda hingga puluhan tahun mendatang. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah kompetensi, skill, dan modal sosial yang mampu menopang kehidupan mereka. Maka tidak salah ketika Kemendikdasmen di era Prof. Abdul Mu’ti ini sedang menyiapkan bekal untuk mereka. Bekal mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial menjadi salah satu bekal keilmuan yang nantinya akan menjadi pelajaran wajib bagi seluruh siswa.
Menyiapkan siswa yang adaptif dan kompetitif memang tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan dan usaha serius dari seluruh pemangku kepentingan. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam penyiapan tersebut. Pertama, membangun mindset yang benar. Dalam pembelajaran mendalam, ada yang disebut dengan pola pikir bertumbuh atau orang lebih familier menyebut dengan growth mindset. Pola pikir bertumbuh ini lawan dari pola pikir tetap atau fix mindset. Kita perlu memberikan pemahaman yang benar terkait mindset (pola pikir). Kita optimalkan pola pikir bertumbuh mereka bahwa kecerdasan dan kemampuan dapat dikembangkan melalui kerja keras dan proses belajar. Kesalahan bukan kegagalan melainkan data untuk perbaikan. Sehingga mereka akan memiliki agilitas mental yang bagus. Akan mampu membaca situasi sehingga bisa menyesuaikan strategi yang tepat manakala situasinya berubah. Tidak mudah menyerah, ulet, dan memiliki daya juang tinggi. Mereka pun akan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi pula. Mampu mengelola stres dengan baik, memiliki empati untuk berkolaborasi, dan memiliki kesadaran tinggi yang kuat.
Kedua, memberikan bekal keterampilan abad ke-21. Bekal keterampilan abad ke-21 selama ini yang kita kenal dengan 4 C yaitu: critical thinking, creativity, communication, dan collaboration. Bagaimana siswa mampu menganalisis informasi secara objektif dan memecahkan masalah kompleks. Selain itu, mereka juga memiliki jiwa kreasi, inovasi, mampu menyampaikan ide secara jelas serta mampu bekerja dalam tim yang multikultural dan lintas disiplin keilmuan.
Ketiga, memberikan bekal terkait literasi digital dan teknologi. Di masa yang akan datang, teknologi bukan lagi pilihan tetapi menjadi kebutuhan dasar. Mereka diharapkan mampu membaca, menganalisis, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Selain itu mereka juga paham dan mampu cara menggunakan alat berbasis Kecerdasan Artifisial untuk meningkatkan produktivitas bukan sekadar pengguna pasif. Mereka pun memiliki etika berteknologi sehingga tidak larut dalam euforia kemajuan dunia digital dan teknologi. Mereka tetap beradab dan berkarakter dalam menggunakan teknologi.
Keempat, menyelenggarakan pendidikan yang relevan dan adaptif. Sistem pendidikan harus bertransformasi untuk menciptakan lulusan yang siap pakai. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, siswa mulai belajar untuk menyelesaikan masalah nyata di dunia sekitar mereka (project based learning). Selain itu mereka juga kita dorong jiwa rasa ingin tahunya yang besar sehingga akan termotivasi untuk terus belajar secara mandiri.
Itulah beberapa hal yang bisa kita ikhtiarkan dalam menyiapkan generai yang adaptif dan kompetitif. Pastinya masih banyak hal yang bisa dimunculkan tetapi hal di atas minimal bisa menjadi bahan renungan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk merealisasikannya. Hal terpenting dari generasi yang adaptif adalah tidak hanya bertahan dalam perubahan, tetapi mampu memanfaatkan perubahan tersebut sebagai peluang untuk lebih maju. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki ketangguhan serta keberanian mengambil risiko.
Turun ke Bawah, Rangkul Anak Muda
Proses pengaderan Persyarikatan di arus bawah, di Cabang dan Ranting, masih menjadi persoalan serius, khususnya di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Umumnya, pengurus...
Jangan Antikritik
Pesan jangan antikritik ini sampaikan Pak Marpuji Ali saat acara “Silaturahim dan Buka Bersama” yang diikuti oleh seluru GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Perguruan Muhammadiyah...
Kompak Menyongsong Kemajuan
Memasuki abad kedua perjalanannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa awal kelahirannya. Pada era Kiai Haji Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah kebodohan, kemiskinan, dan...
Selamat Datang SMP Muhammadiyah PKBS Kota Solo
Dalam AD/ART Persyarikatan Muhammadiyah tentang identitas organisasi disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan...
Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah
Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk...
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...
Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…
Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...







