Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Senin, 18 Mei 2026 21:05 WIB
Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Simbol Muhammadiyah (Muhammadiyah.or.id).

Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk “Muhammadiyah di Mata Anak Muda” ini menunjukkan fenomena yang menarik.

Persepsi anak muda terhadap Persyarikatan Muhammadiyah sangat bagus. Sebanyak 91 persen responden dari kaum muda ini bangga terhadap gerakan Muhammadiyah. Yang menarik, sebanyak 46,5% responden yang menyatakan bangga terhadap Muhammadiyah bukan berasal dari kader Muhammadiyah. Kaum muda memandang organisasi yang didirikan Kiai Ahmad Dahlan ini sebagai organisasi yang fleksibel, simpel, rasional, dan tidak kaku. Gerakan kemanusiaan melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menjadi salah satu daya tarik bagi kaum muda.

Pada sisi lain, di media sosial, akhir-akhir ini juga viral fenomena login (masuk) ke Muhammadiyah dari kalangan anak muda. Banyak di antaranya yang memamerkan kartu tanda anggota Muhammadiyah digital yang bisa mereka dapatkan melalui aplikasi MASA. Secara umum, warganet mencitrakan sangat bagus saat mereka mengomentari gerakan dan gebrakan Persyarikatan di berbagai bidang.

Fenomena ini menjadi hal baik bagi kita. Kaum muda mengapresiasi dakwah Persyarikatan di berbagai bidang. Persepsi kaum muda ini, selain dari pengalaman langsung mereka dengan gerakan Muhammadiyah, juga karena pengaruh paparan media (media exposure) di ranah digital yang kian marak akhir-akhir ini.

Fenomena di ranah digital seperti di atas, serasa ada situasi paradoks saat dikaitkan dengan peran kader muda Persyarikatan di akar rumput, baik di tingkat Cabang maupun Ranting. Dari tiga kali Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh redaksi majalah Langkah Baru, menyiratkan ada krisis pengaderan di Cabang-Ranting, khususnya di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Kita yakin, sesungguhnya fenomena ini juga terjadi di daerah atau wilayah lain di luar Kota Solo. Bahwa umumnya kader yang mau terlibat dalam kepengurusan atau aktivitas di Cabang dan Ranting  didominasi orang tua. Sangat sulit menemukan kaum muda yang rela mewakafkan dirinya pada dakwah Persyarikatan di arus bawah.

Asyik di Ortom

Kaum muda Persyarikatan lebih asyik aktif di ortom pengaderan bagi anak muda, seperti di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, maupun Nasyiatul Aisyiyah.  Sesungguhnya hal ini fenomena yang wajar. Apalagi sebagian kader di ortom kaum muda ini bisa menjadi mobilitas pengaderan dari tingkat Ranting hingga Pimpinan Pusat. Sebagian kader menjadikan ortom ini menjadi “batu loncatan” untuk meniti karir di luar Persyarikatan, seperti di pemerintahan, dunia politik, dan karir lainnya. Hal ini yang mulai menginfeksi kader-kader muda Muhammadiyah di ortom.

Pada sisi lain, setelah selesai menjalani pengaderan di ortom, anak muda ini enggan terjun di dakwah Muhammadiyah di Cabang-Ranting. Akibatnya terjadi krisis kader di tingkat bawah. Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Pada satu pihak Muhammadiyah menjadi daya tarik kaum muda, pada sisi lain Persyarikatan mengalami krisis kader muda di tingkat Cabang-Ranting? Pertanyaan ini yang memerlukan kajian mendalam untuk menemukan penyebab sesungguhnya. Namun, sembari menunggu jawaban yang pasti, ada baiknya Cabang-Ranting juga berefleksi mengenai model dakwah Persyarikatan di akar rumput. Kaum muda ini memang punya “selera” berbeda dengan kaum sepuh dalam hal dakwah.   Cabang dan Ranting perlu berijtihad untuk menghadirkan model dakwah Persyarikatan yang sesuai kebutuhan anak muda.

Mungkinkah?

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...