Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Jangan Antikritik

Muhdiyatmoko, Editor: Sholahuddin
Senin, 8 Juni 2026 17:03 WIB
Jangan Antikritik
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Simbol Muhammadiyah (Muhammadiyah.or.id).

Pesan jangan antikritik ini sampaikan Pak Marpuji Ali saat acara “Silaturahim dan Buka Bersama” yang diikuti oleh seluru GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Perguruan Muhammadiyah Kottabarat. Kegiatan yang dilakukan setiap tahun dan pada tahun ini diikuti kurang lebih 130 GTK sejak dari jenjang TK, SD, SMP, dan SMA Muhammadiyah Program Khusus (PK)  Kottabarat. Selain bertujuan untuk mempererat silaturahmi dan ukhuwah di Perguruan Muhammadiyah Kottabarat, kegiatan ini juga sebagai sarana me-recharging seluruh GTK. Termasuk apa yang disampaikan beliau agar kita tidak antikritik.

Kritik adalah hal yang kita butuhkan dalam perjalanan mengelola sekolah/lembaga. Sebagus apapun kinerja yang telah kita lakukan dan jalankan,  pasti ada hal-hal yang kurang maksimal. Dalam ketidakmakasimalan itulah dibutuhkan saran, nasihat, dan juga kritik yang tentu saja kritik membangun untuk perbaikan lembaga. Kritik berarti tanda ada hal yang kurang berjalan sebagaimana mestinya. Dan itu dibutuhkan untuk bahan evaluasi dan refleksi lembaga. Lembaga yang senantiasa membuka kran keterbukaan dalam saran, usul, dan kritikan dipastikan lembaga tersebut akan menjadi lembaga yang mudah berkembang serta progresif. Begitu pula sebaliknya. Lembaga yang antikritik, lembaga tersebut akan stagnan bahkan bisa menuju pada kemunduran.

Sebagai lembaga yang diamanahi orang tua dalam mendidik di sekolah,  sudah sewajarnya kalau kita menyediakan ruang untuk saling sharing dan berkomunikasi dua arah. Setiap hal yang disampaikan orang tua apa pun itu bentuknya (saran, usul, kritikan) bagaikan vitamin bagi tubuh yang senantiasa akan memberikan manfaat kesehatan. Sehingga para pengelola tidak perlu reaktif dan emosional ketika mendapatkan kritikan. Mestinya kita dengarkan, simak dengan saksama apa yang disampaikan. Kita pahami akar masalah yang disampaikan orang tua untuk dicarikan solusinya. Alangkah lebih indah manakala solusi itu melibatkan berbagai pihak yang terkait termasuk orang tua.

Peran orang tua dalam pendidikan sangat strategis. Salah satu ciri sekolah unggul bisa dilihat dari peran serta orang tua di sekolah. Sekolah yang unggul biasanya peran serta orang tuanya tergolong tinggi dan aktif mendukung berbagai program sekolah. Begitu pula sebaliknya. Sekolah yang peran serta orang tuanya rendah biasanya sekolah tersebut tidak maju. Karena sekolah membutuhkan partnership dalam mengembangkan potensi siswa. Tidak mungkin sekolah akan mampu sendirian memajukan talenta-talenta terbaik yang dimiliki para siswa. Tentu saja dibutuhkan peran orang tua. Layanan prima kepada orang tua dan masyarakat adalah hal yang utama yang harus dilakukan segenap stakeholder. Di situlah sebenarnya kunci mengapa orang tua mau menitipkan putra-putrinya karena pelayanan yang diberikan sekolah sangat memuaskan. Sehingga tidak pantas manakala ada pihak-pihak di sekolah yang anti kritik.

Kritik adalah tanda cinta orang tua kepada sekolah. Kritik justru menjadi bahan evaluasi dan refleksi sekolah apakah sudah sesuai dengan visi misi atau ada yang belum berjalan secara maksimal. Melalui kritik itu pula menjadi momentum sekolah untuk berbenah. Momentum untuk seluruh stakeholder memperbaiki diri sesuai dengan tupoksi masing-masing. Dengan demikian kritik adalah “vitamin”bagi sekolah untuk menjaga agar terus bisa memberikan pelayanan pendidikan terbaik.

Alergi Kritik

Banyak orang alergi kritik apalagi antikritik. Fenomena ini banyak kita temui dalam berbagai lini kehidupan. Termasuk dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara. Orang yang memberikan kritik dianggap antikemapanan, diilabeli barisan atau kelompok sakit hati, mengganggu ketenangan dan sebagainya. Mestinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta penyelenggaraan roda pemerintahan dibutuhkan masukan, saran, bahkan kritik konstruktif demi kemaslahatan bangsa. Orang memberikan kritik pasti ada sesuatu yang berjalan tidak sebagaimana mestinya. Ada sesuatu yang kurang maksimal dalam praktiknya. Sehingga sangat wajar ketika ada kritikan dan masukan tersebut.

Seharusnya di era keterbukaan sekarang ini, siapa saja boleh mengkritik, asalkan pada proporsinya dan tidak melukai perasaan. Apakah itu mahasiswa, tokoh bangsa, pemerhati, akademisi, praktisi dan sebagainya. Kritik pada dasarnya tidak hanya ulasan yang menunjuk pada kesalahan dan kelemahan suatu pendapat atau pun tindakan seseorang. Namun lebih dari itu, kritik hendaknya sebagai upaya untuk meningkatkan dan meluruskan hal-hal yang menyimpang dari aturan serta tata kelola. Bahkan kritik seyogianya mampu mengubah dari suatu tatanan yang sudah usang untuk zamannya. Dengan kata lain, kritik mampu mengantarkan suatu hal yang kurang baik ke hal yang lebih baik. Sehingga tidak alasan individu atau lembaga itu anti kritik atau alergi kritik.

Berita Terbaru

Kompak Menyongsong Kemajuan

Memasuki abad kedua perjalanannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa awal kelahirannya. Pada era Kiai Haji Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah kebodohan, kemiskinan, dan...

Selamat Datang SMP Muhammadiyah PKBS Kota Solo

Dalam AD/ART Persyarikatan Muhammadiyah tentang identitas organisasi disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan...

Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah

Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk...

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...