Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Pendidikan yang Menggembirakan

Muhdiyatmoko, Editor: Sholahuddin
Senin, 22 September 2025 09:43 WIB
Pendidikan yang Menggembirakan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Gambar ilustrasi dari Meta AI.

Pendidikan selalu menjadi isu yang strategis untuk menjadi pokok bahasan. Sejak awal menjabat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Abdul Mu’ti telah menggelorakan pendekatan pembelajaran yang sampai saat ini dikenal dengan pembelajaran mendalam (PM). Pembelajaran mendalam menjadi topik aktual di dunia pendidikan. Saat ini berbagai pelatihan, workshop, lokakarya, seminar dan sejenisnya banyak mengupas tema tersebut. Pasalnya, pendekatan ini menjadi alat untuk menjadikan pembelajaran lebih bermakna.

Kita ketahui bersama bahwa tiga hal terkait prinsip pembelajaran mendalam. Yaitu bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan. Tugas seorang guru tidak hanya menyampaikan ilmu tanpa memikirkan apakah materi yang disampaikan itu akan bermakna apa tidak. Dengan pendekatan PM, guru hendaknya bisa menjadikan siswa bersemangat dalam belajar. Karena siswa dalam belajar itu penuh dengan kesadaran dan materi yang disampaikan itu akan bermakna (berguna) dalam kehidupannya.

Pembelajaran mendalam memiliki arah bagaimana menumbuhkan manusia seutuhnya. Pembelajaran mendalam tidak sekadar berorientasi mengejar target kurikulum. Tetapi lebih dari itu. Bagaimana pertanyaan-pertanyaan pemantik dan apersepsi yang atraktif serta edukatif di awal pembelajaran akan mengantarkan siswa pada sebuah pengondisian kelas yang siap untuk belajar. Artinya,  mereka sadar betul bahwa kegiatan belajar itu akan berguna (fungsional) bagi kehidupannya. Pertanyaan tidak lagi berhenti pada kata tanya,  “apa yang kalian ketahui” , tetapi sudah melibatkan kata tanya “ mengapa” , “bagaimana” , “apa makna materi pelajaran ini bagi kehidupan kalian” dan sebagainya. Tentu saja agar lebih mudah dipahami dan tidak menimbulkan kebosanan pembelajaran bisa disampaikan dengan penuh kegembiraan dan keceriaan.

Pembelajaran yang dilakukan dengan bergembira membuat suasana kelas lebih rileks, hidup, tidak kaku, tidak membosankan sehingga siswa lebih bersemangat dalam menerima pelajaran. Selama ini pembelajaran banyak dilakukan secara konvensioanl dan metode yang tidak pernah up-to date. Metode dan pendekatan yang dilakukan dari tahun ke tahun sama meskipun objek (siswa) yang dihadapi berbeda. Maka dengan adanya PM ini mestinya pembelajaran lebih hidup, berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan bagi siswa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata menggembirakan diartikan ‘menjadikan gembira; membangkitkan rasa gembira; menyenangkan’. Bila kita merujuk pada arti ini, mestinya seluruh pemangku pendidikan menjadikan sekolah tempat yang menyenangkan. Tempat yang menjadikan siswa gembira dan senang dalam melakukan aktivitas belajar. Tapi, apa yang terjadi terkadang pendidikan tidak menampilkan wajah yang semestinya. Banyak kasus dan kejadian di dalam dunia pendidikan yang tidak mencerminkan pendidikan yang menggembirakan. Kasus terbaru yang terjadi di Boyolali. Adanya siswa yang diinjak oleh oknum guru saat pembelajaran. Belum lagi kasus-kasus lain yang sering kita baca dan dengar.

Guru Ujung Tombak

Guru menjadi ujung tombak dalam pembelajaran mendalam termasuk dalam mengimplementasikan pembelajaran yang menggembirakan. Pembelajaran yang menekankan bagaimana suasana belajar di kelas menjadi menyenangkan, menimbulkan motivasi siswa untuk belajar, dan pembelajaran itu memberikan makna bagi siswa. Maka, manakala ada sesuatu yang paradoksal dengan ekspektasi saat kita mengajar, maka guru tidak boleh mengambil sikap yang tidak edukatif dan mencederai profesionalitasnya sebagai seorang guru. Apalagi melakukan tindakan-tindakan yang berbau kekerasan baik fisik, verbal maupun non-verbal. Manakala ini terjadi maka pembelajaran mendalam tidak akan tercapai karena suasana pembelajaran tidak menyenangkan dan tidak memberikan motivasi kepada siswa. Yang terjadi sebaliknya.

Pembelajaran mendalam yang di dalamnya ada prinsip pembelajaran yang menggembirakan jangan sampai berhenti pada tataran toeretis dan di bangku workshop saja. Menjadi lips service dan sekadar program yang membedakan antara pemangku pendidikan yang dulu dan sekarang. Delapan Dimensi Profil Lulusan (8 DPL) yang menjadi capaian target dalam pembelajaran ini semoga juga bisa terwujud. Yaitu profil lulusan yang memiliki jiwa keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt., kewargaan, bernalar kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Memang tidak mudah dan tidak bisa dilihat instan efek dari implemenatasi PM ini. Tetapi dengan keseriusan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melakukan sosialisasi dan pelatihan kita berharap program pembelajaran mendalam dan pendidikan yang menggembirakan ini akan memberikan implikasi dalam penyiapan generasi emas 2045.

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment