Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Kader Muda, AUM, dan Grassroot Muhammadiyah

Hendro Susilo, Editor: Sholahuddin
Jumat, 10 Mei 2024 09:04 WIB
Kader Muda, AUM, dan Grassroot Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - sumber: pwmu.co

Menarik menyoroti hasil survei mendalam yang dilakukan oleh Burhanuddin Muhtadi tentang gambaran perbedaan generasi muda dan generasi tua yang ditemukan adanya jurang pemisah yang lebar (Suara Muhammadiyah, edisi 09/109 hal.8). Temuan dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menunjukkan,  anak muda menggambarkan dirinya lebih kreatif, tertarik pada kepentingan pribadi dan materialistik. Sedangkan orang tua lebih mengutamakan keluarga, sadar kewajiban, agamis dan suka kerja keras.

Generasi muda mempunyai isunya tersendiri. Mereka lebih menyadari isu-isu perubahan iklim, isu lingkungan, isu sampah, dan pencemaran limbah. Namun, ada temuan menarik, generasi muda kecenderungannya kurang tertarik dengan majelis taklim dan organisasi dakwah konvensional. Afiliasi anak-anak muda terhadap organisasi Islam konvensional makin lama makin tidak relevan.

Temuan survei yang memberikan gambaran anak muda makin lama makin tidak tertarik dengan ormas Islam, makin lama makin tidak tertarik dengan majelis taklim, dan makin lama makin tidak mau aktif di organisasi pergerakan menjadi lampu merah bagi pencetak kaderisasi dakwah Islam, termasuk Muhammadiyah. Diakui Muhtadi, pengajian-pengajian Muhammadiyah banyak diikuti oleh generasi baby boomers. Baby boomers menunjuk kepada generasi yang lahir pada 1946-1964. Generasi-generasi sepuh untuk ukuran saat ini.

Muhammadiyah diharapkan mampu memfasilitasi dan mewadahi tumbuh kembang generasi baru (muda). Hal ini sebagai upaya strategis untuk memastikan laju gerak organisasi dakwah di masa depan. Bila fenomena kecenderungan generasi muda kita biarkan, apa jadinya nasib ormas dan masa depan dakwah?

Kolaborasi, Sebuah Ikhtiar

Muhammadiyah sebagai organisasi yang memiliki sistem birokrasi dan administrasi, tentu memiliki kantor pusat yang ada di Jakarta dan Yogyakarta. Namun, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, maka pusatnya ada di ranting, cabang dan masjid. Bila ranting, cabang atau masjid Muhammadiyah mati suri, maka sesungguhnya gerakannya pun mati suri. Ranting, cabang dan masjidnya adalah the real Muhammadiyah.

Ranting, cabang dan masjid merupakan akar rumput (grassroot) Muhammadiyah. Pengembangan dan penguatan akar rumput harus menjadi agenda penting. Perkaderan kontemporer yang diminati anak muda di akar rumput sangat strategis dilakukan. Apalagi gerakan dakwah di akar rumput perlu generasi-generasi baru yang fungsinya untuk menjamin keberlangsungan dakwah di masyarakat dan kelak menjadi kader.

Berbicara kaderisasi, salah satu pilar pendukung kaderisasi adalah amal usaha Muhammadiyah (AUM) dan organisasi otonom di dalamnya. AUM seperti kampus dan sekolah menengah yang memiliki ortom di dalamnya (seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Hizbul Wathan, dsb) memiliki potensi kader-kader muda yang siap dilejitkan potensinya dan siap pula berkontribusi pada persyarikatan.

Kader-kader muda tersebut perlu dibina dan diberikan pengalaman nyata. Salah satu model pendidikan kader yang baik antara lain dengan memperkenalkan “realitas” sebagai sumber belajar. Pada titik inilah, kolaborasi AUM dan grassroot Muhammadiyah (ranting, cabang dan masjid) perlu kolaborasi dalam mendidik dan menerjunkan kader muda yang dimiliki.

Grassroot Muhammadiyah memerlukan sentuhan sentuhan kreatif dalam pengembangan dakwah dan pengembangan basis yang bersifat kontemporer agar fungsi dakwah bisa mengena di semua kalangan. Sementara itu, AUM memiliki sumber daya kader muda yang kreatif, dan biasanya memiliki program-program pemberdayaan sebagai latihan bagi anak didiknya.

Dalam hal ini, kolaborasi bisa dibangun divmana fungsi ranting, cabang dan masjid sebagai laboratorium tempat belajar peserta didik dari sebuah AUM. Sebagai contoh,  dalam program pendidikan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah, tema yang diusung beragama, mulai tema lingkungan, teknologi, kewirausahaan, dsb. Sekolah bisa menerjunkan siswanya di ranting, cabang, atau masjid untuk meneliti dan membuat teknologi yang membantu dakwah, seperti membuatkan media sosial dan cuplikan video dakwah di ranting agar dakwah di ranting semakin diterima kalangan muda. Atau juga bisa mengadakan training kewirausahaan bagi anak remaja masjid agar mereka berdaya dan siap menjadi kader penerus kelak. Dengan kolaborasi, apa yang menjadi kekhawatiran anak muda semakin lama semakin tidak tertarik ormas bisa ditepis…

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment