Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Kepala Sekolah Harus Punya Novelty

Muhdiyatmoko, Editor: Sholahuddin
Jumat, 1 November 2024 00:01 WIB
Kepala Sekolah Harus Punya Novelty
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Pembukaan Diksuspala region 2 Jawa Tengah beberapa hari lalu. (Istimewa).

Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Non Formal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyelenggarakan pendidikan khusus kepala (Diksuspala). Diksuspala ini menjadi salah satu program utama yang dilakukan Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah saat ini. Selain program-program utama lainnya. Program ini akan dilaksanakan sejak dari Aceh bingga Papua yang terbagi beberapa region.  Region Jawa Tengah 1 dilaksanakan di BBGP ( Balai Besar Guru Penggerak) Karanganyar yang diikuti oleh 203 kepala sekolah.

Ada dua hal yang menarik disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah A. Dahlan Rais yang saat itu hadir dan sekaligus membuka acara Diksuspala tersebut. Pertama, kepala sekolah itu menjadi role model bagi warga sekolah baik GTK ( Guru dan Tenaga Kependidikan) dan siswa. Selain itu, Dahlan Rais menegaskan bahwa seorang kepala sekolah harus memiliki etikabilitas dan intelektualitas yang tinggi. Beliau juga menyampaikan bahwa kepala sekolah adalah teladan. Di Melbourne, Victoria State, etika sangat dijunjung tinggi. Dan Muhammadiyah memiliki sekolah di sana, yaitu MAC. Selain itu, menurut beliau,  bahwa dalam bermuhammadiyah, setiap individu harus sadar, bahkan saat istirahat, kepala sekolah harus tetap memikirkan kemajuan Muhammadiyah seperti yang dicontohkan oleh tokoh Muhammadiyah, A.R. Fachruddin.

Kedua, seorang kepala sekolah harus memiliki novelty atau kebaruan, yang berarti harus kreatif dan inovatif. Kepala sekolah juga harus memiliki visi rahmatan lil’alamin untuk memajukan pendidikan Muhammadiyah sehingga akan  memberikan manfaat bagi umat. Apalagi tantangan pendidikan di era sekarang ini yang semakin kompleks dan menantang. Manakala seorang kepala sekolah tidak memiliki jiwa kreatif dan inovatif maka akan ditinggalkan oleh masyarakat. Sehingga sekolah harus adaptif dengan perubahan dan tantangan zaman.

Memang tantangan dan kondisi yang berbeda harus disikapi dengan cara-cara yang berbeda pula. Banyak sekolah (baca : kepala sekolah) yang masih terjebak dan bernostalgia dengan zaman dahulu kala ketika mereka bersekolah. Mereka mengadopsi cara-cara yang dulu pernah dilihat dan dirasakan. Pendekatan dan strategi dalam pengembangan sekolah masih memakai cara-cara lama yang sudah usang dan tidak relevan lagi dengan era sekarang.

Pentingnya Novelty

Novelty adalah hal-hal baru yang disukai oleh kerja otak. Lingkungan sekolah yang selalu terbarukan dengan berbagai karya kreatif siswa, nyaman, segar dengan sirkulasi udara yang baik, sarana prasarana yang lengkap adalah hal-hal yang bisa menunjang KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) meraih hasil maksimal. Tentu saja didukung oleh seorang pendidik yang selalu memiliki strategi dan metode pembelajaran yang selalu baru dan tidak membosankan peserta didik.

Peserta didik sebagai objek dalam dunia pendidikan untuk saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak hanya dilihat sebagai peserta didik yang belum tahu apa-apa ( gelas kosong). Apalagi generasi Z (Gen-Z) saat ini yang notabenenya mereka lahir saat kemajuan teknologi dan digitalisasi telah ada. Berbeda dengan dulu saat kemajuan iptek dan digitalisasi tidak seperti saat ini. Boleh jadi generasi Z ini lebih tahu terlebih dahulu sebelum gurunya. Pasalnya, kecepatan dan tingkat familiar generasi Z dengan kemajuan teknologi ini tidak diragukan lagi. Tingkat penasaran terhadap keilmuan dan informasi ter-update mereka sangat tinggi. Sehingga tidak heran manakala mereka terdepan dalam  mendapatkan informasi yang sedang terjadi. Bagaimana dengan guru?

Guru di era saat ini penuh dengan tantangan. Orang bijak mengatakan, ”Hanya guru yang mau belajar yang berhak mengajar.” Artinya, hanya guru yang mau meningkatkan kompetensi dan skill-nya lah yang berhak untuk tetap mengajar. Guru mau adaptif dengan perubahan zamanlah yang berhak mendampingi siswa. Guru yang mau belajar dengan siapa pun, di mana pun, dan kapan pun itulah guru pembelajar sepanjang hayat. Bukan guru di zona nyaman yang sudah cukup dengan strategi serta pendekatan usang yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini. Bukan guru yang minim kreatif dan inovatif dalam mengajarnya. Era sudah berubah maka sekolah (baca : guru) juga harus berbenah dan menjadikan growth mindset (mindset tumbuh) sebagai jiwa dalam mengabadi.

Sekolah tumbuh yang di dalamnya ada insan-insan dengan mindset tumbuh ditandai dengan setiap hari, pekan, bulan, dan tahun selalu ada yang terbarukan. Apakah itu baru dalam strategi dan pendekatan mengajarnya, sarana prasarana, performance, prestasi siswa/sekolah, dan sebagainya. Transformasi dan inovasi ini tentu saja harus didukung oleh seorang leader kepala sekolah yang juga memiliki mindset sama yakni mindset tumbuh. Kepala sekolah berinisiatif untuk mengeksplorasi, mengembangkan, mempromosikan, dan menerapkan ide-ide baru dalam memecahkan masalah atau merespon tantangan yang dihadapi sekolah.

Kepala sekolah tidak terjebak dalam sebuah rutinitas tugas, melainkan terbiasa menetapkan gol target yang menantang, memiliki keberanian mengambil risiko, dan menempatkan hambatan sebagai peluang serta tantangan untuk meraih keberhasilan. Sehingga kepala sekolah juga terus menumbuhkan kebiasaan belajar sebagai kunci keberhasilan inovasi. Seorang kepala sekolah perlu mempelajari kompetensi dan skill yang terkait problem solving, analisis data, menajemen waktu, komunikasi efektif, berpikir kreatif, manajemen konflik, marketing dan branding, serta soft skill lainnya. Manakala seluruh stakeholder sudah memiliki visi, misi, dan mindset yang sama dalam pengembangan sekolah maka sekolah tersebut akan menjadi sekolah yang unggul dan berkemajuan.

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment