Beberapa waktu lalu, netizen Indonesia pernah dinobatkan sebagai warga internet yang paling tidak sopan di kawasan Asia Tenggara. Dalam laporan berjudul “Digital Civility Index (DCI)”, netizen Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei untuk tingkat kesopanan, sekaligus menjadi yang terendah di Asia Tenggara.
Laporan tersebut berdasarkan survei yang diikuti oleh 16.000 responden di 32 negara. Sistem penilaian laporan tersebut berkisar dari skala nol hingga 100. Semakin tinggi skor maka semakin rendah kesopanan daring di negara tersebut. Dan hasilnya itu tadi: warga Indonesia yang berselancar di internet menyandang hasil warga yang paling tidak sopan. Warganet Singapura menjadi teladan untuk urusan kesopanan beriteraksi di jagat internet. Disusul warganet Malaysia di urutan kedua se-Asia Tenggara untuk perkara sopan santun di dunia jagat internet.
Hasil dari survei tersebut tentunya mengejutkan dan mencemaskan. Mengejutkan, lantaran selama ini orang Indonesia itu dikenal atau memiliki stigma posistif sebagai orang yang tepa selira, sopan santun, ramah, andhap asor dan citra positif lainnya untuk nilai perilaku warga Indonesia. Namun kenapa ketika berada di jagat digital, warga Indonesia menjadi pribadi yang tidak sopan, tidak lagi menjadi orang yang bisa mengrahragi dan menghormat orang lain.
Mencemaskan, karena jika kondisi ini dibiarkan maka perilaku warganet Indonesia tersebut akan merugikan warga yang lain serta membuat citra buruk bagi bangsa. Warga Indonesia ternyata belum bisa berinteraksi online secara aman, lebih sehat dan lebih saling menghormati antar sesama.
Penyebaran hoaks atau berita bohong, ujaran kebencian, penipuan dan diskriminasi menjadi faktor yang paling dominan dari perilaku warganet Indonesia. Faktor lain yang menyusul adalah perundungan di jagat internet. Hiruk-pikuk carut-marutnya pemanfaatan teknologi baru digital ini memang sudah banyak diakui dan dirasakan masyarakat di tanah air. Di satu sisi kehadiran internet banyak dimanfaatkan untuk kemaslahatan ummat, namun di sisi yang lain makin banyak yang menyebabkan kemudharatan lewat jagat internet kita dengan beragai macam platform yang terus bertambah.
Maka butuh tanggung jawab bersama untuk terus bergerak tidak lelah melakukan literasi digital di kalangan masyarakat. Apalagi, warga Indonesia ditasbihkan sebagai pengguna internet nomor 5 di dunia, kadang pernah nomor 3 dalam laporan tahunan. Belum lagi, durasi penggunaan internet setiap orang juga cukup lama setiap harinya, yakni rata-rata setiap warga tersambung dengan internet selama 8 jam per hari.
Muhammadiyah, sebagai organisasi civil society yang menaungi jutaan warganya juga punya tanggung jawab besar untuk “mendidik” masyarakat khususnya warga jamaahnya sendiri. Bahwa persoalan relasi sosial secara online juga harus beradab atau berakhlak, sama ketika kita berinteraksi secara nyata. Bijak ber-relasi online, bijak menggunakan media sosial, cek dan cek ulang saat menerima informasi, menjaga norma dan nilai sopan santun, saring sebelum sharing dan seterusnya masih harus didengungkan di kalangan masyarakat Indonesia untuk mengurangi stigma buruk sebagai netizen paling tidak sopan di percaturan dunia.
Muhammadiyah sebagai tempat berkumpulnya banyak orang-orang terdidik harus menjadi pelopor dalam literasi digital. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, K.H. Haedar Nashir pernah mengajak kita semua untuk serius menggarap ladang dakwah di dunia maya ini. Arahnya jelas, yakni melakukan gerakan literasi yang berkeadaban, menyehatkan, dan melawan informasi yang membodohkan serta memproduksi konten yang baik.
Pesan Dakwah
Haedar mengibaratkan kita harus lawan hasrat-hasrat alamiah dan primitif seperti kebencian, amarah, keburukan-keburukan yang seakan benar yang semuanya disebar lewat internet. Naluri-naluri seperti ini ketika menemukan ruang maka seperti benih yang terus menyebar.
Apalagi platform media sosial terus bertambah dan sangat mudah diakses siapapun dan kapanpun. Akhlak dan adab yang baik di sosial media harus bisa dipahami oleh warga Muhammadiyah dan kemudian ditularkan atau menjadi teladan bagi warga yang lain. Warganet dari Muhammadiyah bisa menggunakan jagat online untuk kemaslahatan dengan cara yang beradab. Sehingga menjadi gerakan Akhlak Sosmediyah bagi Warganet-Mu (warga netizen dari Muhammadiyah).
Jangan justru warga Muhammadiyah yang punya semboyan berkemajuan dan pencerahan, malah tidak memahami akhlak ber-relasi digital. Tidak paham akhlak bersosmed. Jangan sampai pula, warga Muhammadiyah menjadi bagian dari warganet yang masuk kategori paling tidak sopan seperti dalam survei di atas.
Akhlak Sosmediyah yang bisa dijalankan oleh Warganet-Mu akan bisa menjadi pesan dakwah yang efektif melalui digital. Ini tantangan bagi warga Muhammadiyah. Belum lagi, bicara tentang produksi konten-konten ke medsos yang berkualitas dan beradab yang menarik bagi banyak orang. Tapi perjuangan literasi digital dengan Akhlak Sosmediyah tidak boleh berhenti karena dinamika jagat online juga terus bergerak dinamis.
Turun ke Bawah, Rangkul Anak Muda
Proses pengaderan Persyarikatan di arus bawah, di Cabang dan Ranting, masih menjadi persoalan serius, khususnya di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Umumnya, pengurus...
Jangan Antikritik
Pesan jangan antikritik ini sampaikan Pak Marpuji Ali saat acara “Silaturahim dan Buka Bersama” yang diikuti oleh seluru GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Perguruan Muhammadiyah...
Kompak Menyongsong Kemajuan
Memasuki abad kedua perjalanannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa awal kelahirannya. Pada era Kiai Haji Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah kebodohan, kemiskinan, dan...
Selamat Datang SMP Muhammadiyah PKBS Kota Solo
Dalam AD/ART Persyarikatan Muhammadiyah tentang identitas organisasi disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan...
Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah
Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk...
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...







