Beberapa hari lalu, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kottabarat, Kota Solo, menyelenggarakan focus group discussion (FGD) membahas tema lingkungan dan budaya hidup berkelanjutan di SMA Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat, Solo. Diskusi ini juga melibatkan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Ranting SMA Muhammadiyah PK, serta aktivis organisasi masyarakat sipil yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan kemanusiaan, Tajdid Pendidikan Institute (muhammadiyahsolo.com, 16 Februari 2024).
Diskusi itu digelar karena akhir-akhir ini isu lingkungan baik tingkat lokal maupun global mendapatkan perhatian besar. Pada FGD tersebut itu lingkungan seperti perubahan iklim, deteriorasi (penurunan kualitas) lingkungan, limbah industri, sampah plastik dan sebagainya menjadi bahasan menarik anak-anak muda Muhammadiyah ini.
Bahkan, dari diskusi tersebut, saya menulis sebuah artikel dengan judul “Menggagas Gerakan 3 R di Sekolah Sebagai Media Pendidikan Karakter” di muhammadiyahsolo.com. Artikel tersebut terinspirasi dari dinamika diskusi berdasarkan pendapat siswa yang memotret fenomena sampah berbahan botol plastik.
Dalam artikel tersebut, saya berpendapat agar sebuah gerakan peduli lingkungan berhasil, maka perlu diinstitusionalisasi oleh lembaga. Mengingat lingkungan hidup sangat vital bagi keberlangsungan hidup generasi mendatang, maka selain sebuah gerakan bersama perlu adanya langkah strategis untuk menjamin keberlangsungan pelestarian lingkungan dengan memasukannya tema lingkungan hidup pada kurikulum di tingkat satuan sekolah.
Permasalahan lingkungan yang semakin hari semakin bertambah banyak dan beragam, maka sangat diperlukan adanya pengelolaan agar lingkungan yang ada dan sudah mengalami penurunan kualitas tersebut tidak menjadi semakin parah. Namun, diharapkan terjadi pemulihan yang lebih baik lagi. Maka di sekolah diperlukan adanya pendidikan lingkungan hidup untuk meminimalisasi kerusakan yang telah terjadi.
Ekopedagodik
Secara konseptual, ekopedagodik adalah pendidikan tentang lingkungan yang bisa membawa pengaruh berupa perubahan kesadaran pada masyarakat di sekolah. Ekopedagogik perlu dimasukkan ke dalam kurikulum agar dapat menciptakan masyarakat sekolah yang sadar dan memiliki tanggung jawab untuk melindungi, melestarikan, dan mencegah kerusakan lingkungan dan sumber daya alam. Pendidikan ini merupakan suatu pendekatan yang mengarah pada usaha pengembangan multidomain (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dengan memanfaatkan sumber dan media dari lingkungan peserta didik.
Ekopedagogik mengajarkan banyak hal yang mencakup sikap, perilaku, kepedulian, perspektif, tantangan, serta kemampuan untuk merasakan. Ini tidak hanya pada aspek kognitif semata,tetapi ekopedagogik merupakan suatu gerakan yang mengarah ke masa depan untuk meningkatkan apresiasi yang kuat pada potensi kolektif manusia. Ekopedagogik berguna untuk mendorong terwujudnya keadilan sosial yang diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat akan ekoliterasi kritis yakni melek lingkungan secara kritis.
Implementasi Kurikulum
Sekolah bisa menerapkan aspek kurikulum ekopedagodik melalui strategi sebagai berikut; pertama, sekolah harus berani membuat kebijakan berwawasan lingkungan. Hal ini bisa diterapkan pada perumusan visi, misi serta tujuan lembaga yang memperhatikan lingkungan hidup. Mengembangkan mata pelajaran muatan lokal berbasis lingkungan hidup bisa juga menjadi program. Dan, untuk mendukung pelaksanaannya sekolah perlu menyusun RKAS (rencana kegiatan dan anggaran sekolah) untuk program lingkungan hidup.
Kedua, aspek pelaksanaan kurikulum. Sekolah harus mengembangkan isu lokal dan isu global terkait lingkungan dalam mata pelajaran, sekolah juga bisa mengkomunikasikan hasil-hasil inovasi pembelajaran di tema ligkungan hidup, serta mendorong para siswa menghasilkan karya-karya yang berkaitan dengan pelestarian fungsi lingkungan hidup, mencegah terjadinnya pencemaran dan kerusakan pada lingkungan hidup
Ketiga, sekolah bisa membuat program atau kegiatan kurikulum sekolah berbasis lingkungan hidup, seperti program memelihara dan merawat gedung, fasilitas dan lingkungan sekolah oleh warga sekolah. Atau bisa juga memanfaatkan lahan dan fasilitas sekolah yang ada sesuai kaidah perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Mengembangkan kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menjadi hal strategis untuk mendidik siswa menjadi kader lingkungan. Atau penguatan narasi tentang lingkungan dengan memanfaatkan narasumber untuk meningkatkan pembelajaran lingkungan hidup bisa juga dilakukan pada aspek pembuatan kegiatan (program) sekolah.
Dan, keempat, dengan melakukan pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan. Sekolah menyediakan sarana prasarana untuk mengatasi permasalahan lingkungan hidup di sekolah. Sebagai contoh dalam pengelolaan sampah di lingkungan sekolah. Langkah mengelola sampah botol plastik agar berjalan baik, maka sekolah menyediakan tempat sampah khusus botol plastik yang kemudian akan di kelola, atau bisa juga dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik. Bila kegiatan ektra kurikuler lingkungan hidup tersedia di sekolah, maka sampah organik bisa diproses menjadi pupuk sebagai pembelajaran bagi siswa.
Mengutip pendapat K. Surata, melalui artikel “Pembelajaran Lintas Budaya: Penggunaan Subak sebagai Model Ecopedagogy” di Jurnal Kajian Bali. 03, (02) tahun 2010, setidaknya ada empat sistem pengajaran dalam ekopedagogik yang bisa dilakukan yaitu, pertama pengajaran yang terkait dengan lingkungan sosial dan alam, caranya yaitu mempersiapkan bacaan yang berkaitan dengan lingkungan hidup untuk siswa. Kedua, pengajaran tentang lingkungan sosial dan alam, caranya yaitu menjadikan peserta didik untuk sadar akan relasinya dengan lingkungan, baik sosial maupun lingkungan. Ketiga, pengajaran tentang lingkungan sosial dan alam, caranya yaitu mengadaptasi pengalaman, tugas dalam kelas, kesepakatan dengan masyarakat untuk mewujudkan pengetahuan menjadi aksi sosial, kesejahteraan, keadilan lingkungan serta keberlanjutan. Dan, keempat pengajaran yang mengaitkan antar makhluk yang terus berkelanjutan (Yunansah, dkk., 2020:121).
Gambaran di atas merupakan sebuah strategi implementasi pendidikan lingkungan hidup dalam kurikulum. Apalagi sekarang, Muhammadiyah telah memiliki lembaga pusat iklim yang konsentrasi pada isu perubahan iklim dan dampaknya bagi lingkungan. Muhammadiyah Climate Centre (MCC) merupakan bukti perhatian khusus Muhammadiyah terhadap persoalan lingkungan hidup dan ekosistem. Muhammadiyah melakukan gerakan ikut menyelamatkan semesta, melalui penguatan gerakan dan pengembangan riset terkait pelestarian lingkungan dan advokasi kebijakan publik yang ramah lingkungan. Hadirnya MCC ini, mari kita jadikan momentum bagi sekolah Muhammadiyah untuk bergerak melestarikan lingkungan dan ekosistem. Strateginya dengan memasukan ekopedagogik ke dalam kurikulum di sekolah Muhammadiyah.
Mari selamatkan lingkungan hidup kita demi masa depan yang lebih baik…
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...
Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…
Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...
Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah
Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...
Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara
Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...
Inovasi atau Mati
Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...
Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam
SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...






