Tanggal 1 Juni diperingati sebagai Kelahiran Pancasila. Sedangkan setiap tanggal 1 Oktober diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila. Dua peringatan terkait dengan Pancasila tersebut berbeda makna dan tujuan. Peringatan hari kelahiran dimaksudkan untuk mengenang pidato presiden Soekarno di depan sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945 yang berisi penegasan atas nilai-nilai Pancasila sebagai dasar dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Sedangkan peringatan hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober dimaksudkan untuk mengenang dan meneladani sikap kejuangan para pahlawan bangsa dalam mempertahankan Pancasila dari rong-rongan Partai Komunis Indonesai (PKI) yang hendak meluluhlantakan Pancasila dengan gerakan pemberontakan 30 September 1965 atau dikenal dengan istilah G30S/PKI.
Tajuk ini tidak bermaksud melakukan ulasan sejarah perjalanan kelahiran dan kesaktian Pancasila, namun ingin mengkaji bagaimana Pancasila mampu memberikan ruh spiritualitas kepada bangsa ini untuk bangkit kembali setelah selama kurang lebih tiga dekade mengalami keterpurukan akibat krisis dimensional.
Memperingati hari kelahiran Pancasila sakti, berarti melakukan proses evaluasi diri sebagai bangsa. Apakah kehidupan berbangsa dan bernegara selama 79 tahun sejak memerdekakan diri dari belenggu penjajahan telah memberikan arti bagi kehormatan, harga diri dan martabat sebagai sebuah bangsa. Sudah benar-benar merdekakah bangsa Indonesia dari keterjajahan dan mampu berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah lebih dahulu menemukan kesadaran dirinya sebagai sebuah bangsa?.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu terulang dan terulang setiap kali memeringati hari Kebangkitan Nasional pada setiap 20 Mei. Termasuk setiap kita memeringati hari kelahiran dan Kesaktian Pancasila. Selama itu pula kita ragu-ragu untuk memberikan jawaban yang pasti apakah Pancasila itu masih sakti untuk menegakkan jati diri bangsa di hadapan bangsa lain di muka bumi ini. Masih ada keraguan dalam sanubari untuk mengatakan, bangsa kita telah bangkit dan lepas dari cengkeraman penjajahan.
Ketergantungan
Keraguan ini timbul karena realita kehidupan masyarakat masih menujukkan banyaknya ketergantungan terhadap negara maju, dan bahkan kehidupan bangsa ini masih banyak diatur dan ditentukan oleh kebijakan-kebijakan negara lain. Maka yang terjadi pada bangsa ini adalah menjadi objek ekperiemntasi politik, sosial, ekonomi dan bahkan budaya oleh negara-negara adi daya semisal, Amerika Serikat dan Tiongkok atau RRC. Dengan menggunakan keunggulan teknologi yang dimilikinya, mereka memindahkan ribuan ton kekayaan alam Indonesia ke negara mereka, dan dengan kekuatan ekonominya mereka mengatur bagaimana tatanan sosial ekonomi negeri ini harus dijalankan. Pencabutan subsidi bahan bakar minyak sebagai salah satu contohnya. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 di negara-negera Asia tenggara telah menimbulkan efek domino yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi indonesia.
Bila negara-negara lain, seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura, Philipina, Korea telah sembuh dan bangkit dari krisis ekonomi, tidak demikian dengan Indonesia. Bahkan lebih parahnya lagi krisis yang mula-mula berbasis pada sektor ekonomi justru berkembang menjadi krisis yang multidemensional, di antaranya krisis politik, kultural dan sosial.
Sejalan dengan merebaknya krisis multidemensional itu, cobaan dan ujian bangsa Indonesia tidak juga mereda. Berbagai musibah, huru hara dan bencana alam melanda negeri. Hempasan gelombang tsunami kasus-kasus white color crime seperti korupsi, kolusi dan nepotisme, benar-benar membuat bangsa Indonesia mengalami shock yang luar biasa. Belum lagi gangguan terorisme dan merebaknya berbagai penyakit menular yang mematikan. Disnilah sesungguhnya kita butuh Pancasila sakti yang mampu memberikan ruh spritualitas ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, perwakilan kerakyatan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Baca juga: Pancasila sebagai Laku
Pertanyaan yang timbul dari rentetan kasus-kasus itu adalah dosa apa yang telah diperbuat bangsa ini sehingga Tuhan begitu murka? Benarkan itu semua sekadar ujian atau cobaan? Ataukah ini semua merupakan buah dari kekufuran terhadap kenikmatan yang telah diberikan Tuhan kepada bangsa kita. Jawaban yang pasti atas rentetan pertanyaan tersebut memang sulit dijawab mengingat kompleksitas etiologi yang menyebabkan timbulnya aneka permasalahan yang membelit kehidupan bangsa Indonesia. Namun demikian, bangsa Indonesia akan bisa mengurai dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut bila kita mau melakukan evaluasi diri untuk kemudian menemukan kesadaran diri sebagai bangsa yang berwibawa dan patut dihormati oleh bangsa-bangsa lain termasuk negara adi daya.
Baca juga: Pembelajaran Pancasila
Oleh karena itu momen memperingati hari kelahiran Pancasila ini dijadikan titik pijakan untuk merenungkan dan kemudian berbuat untuk membenahi kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah porak poranda karena kebodohan emosional dan kebodohan spiritual kita sebagai bangsa. Semoga momentum peringatan hari Kelahiran Pancasila ini dapat menjadi titik awal pembangunan kesadaran sebagai bangsa yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual sehingga kita tidak tergopoh-gopoh dan panik ketika harus menghadapi rentetan persoalan kehidupan.
Marilah kita jadikan peringatan hari Kelahiran Pancasila 1 Juni 2024 ini tidak hanya sebagai simbol persatuan dan kesatuan, serta sebagai fondasi ideologis negara, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kita punya ideologi Pancasila yang harus senantiasa kita jaga dan kita jadikan sebagai acuan bagi pemerintahan, pembangunan sosial, hukum, dan kehidupan masyarakat Indonesia secara umum. Bangkit dan raih kembali kejayaan bangsa kita, ayo!
Turun ke Bawah, Rangkul Anak Muda
Proses pengaderan Persyarikatan di arus bawah, di Cabang dan Ranting, masih menjadi persoalan serius, khususnya di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Umumnya, pengurus...
Jangan Antikritik
Pesan jangan antikritik ini sampaikan Pak Marpuji Ali saat acara “Silaturahim dan Buka Bersama” yang diikuti oleh seluru GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Perguruan Muhammadiyah...
Kompak Menyongsong Kemajuan
Memasuki abad kedua perjalanannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa awal kelahirannya. Pada era Kiai Haji Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah kebodohan, kemiskinan, dan...
Selamat Datang SMP Muhammadiyah PKBS Kota Solo
Dalam AD/ART Persyarikatan Muhammadiyah tentang identitas organisasi disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan...
Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah
Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk...
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...







