Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Dakwah Literasi Muhammadiyah di Era Post Truth

Zaki Setiawan, Editor: Sholahuddin
Jumat, 16 Agustus 2024 09:44 WIB
Dakwah Literasi Muhammadiyah di Era Post Truth
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sumber gambar: Freepik.com

Unesco menyatakan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia hanya 0, 1 %. Hal ini dapat dimaknai bahwa hanya seorang yang membaca dari 1000 warga negara Indonesia. Indonesia berada dalam kondisi darurat literasi. Ini sungguh ironis. Masyarakat Indonesia lebih dekat dengan gadget daripada buku. Indonesia merupakan negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. Indonesia berada di urutan kelima dunia mengenai kepemilikan gadget. Masyarakat Indonesia dapat menatap layar gadget kurang lebih sembilan jam sehari dan aktif di media sosial orang Indonesia yang berada di urutan ke-5 dunia.

Masyarakat Indonesia mengenal istilah “nyampah”. Ini merupakan aktivitas menumpahkan segala pemikiran, kebahagiaan, pemikiran, sanjungan dan caci maki di media sosial. Bahkan, netizen Indonesia dikenal sebagai netizen terkejam di dunia. Bagaimana seseorang yang malas baca buku namun aktif di media sosial menjadi sesuatu membahayakan. Kondisi ini menyebabkan Indonesia seringkali menjadi sasaran empuk untuk provokasi, hoaks, dan fitnah. Netizen mempunyai kecepatan jari yang melebihi kecepatan otak ketika berada di media sosial.

Kondisi tersebut disebut dengan era post truth atau era pascakebenaran. Opini menjadi lebih penting daripada fakta. Kebenaran tidak menjadi prioritas namun afirmasi untuk mendukung persepsi yang diutamakan. Situs internet yang berisi opini bias, memihak, dan tendensius menjadi populer. Berdasarkan kondisi faktual maka Muhammadiyah harus berperan untuk mengantisipasi era post truth ini. Muhammadiyah harus bergerak untuk memperkuat literasi  melalui dakwah literasi. Muhammadiyah dapat menggerakan secara struktural dan kultural untuk mendukung dakwah literasi.

Prof. Dadang Kahmad sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pustaka dan Informasi, serta tablig menyatakan bahwa umat Islam harus menyeimbangkan antara zikir dan pikir melalui dakwah literasi. Salah satu langkah dalam dakwah literasi dengan mengaktifkan rumah baca. Rumah baca merupakan layanan masyarakat yang bergerak seperti perpustakaann mini di lingkungan masyarakat. Rumah Baca memberi akses untuk meningkatkan literasi. Rumah baca sebagai wujud nyata dalam dakwah literasi. Muhammadiyah harus berusaha meningkatkan minat baca yang rendah di Indonesia.

Literasi Harus Hidup

Fungsi buku sebagai “jendela dunia” menjadi nyata di rumah baca. Rumah baca juga diharapkan menjadi pusat dakwah yang berdampingan dengan masjid. Masyarakat akan berbagi pengetahuan, belajar keterampilan baru, dan berdiskusi di rumah baca. Rumah baca harus menarik keterlibatan masyarakat sekitar untuk bergerak ke arah kemajuan. Ini selaras dengan tagline “Muhammadiyah yang berkemajuan”.

Baca juga: Muhammadiyah Butuh Banyak Inovator

Dakwah literasi telah menjadi fondasi utama Muhammadiyah sejak awal berdiri. Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dengan kelengkapannya yaitu Majelis Pustaka yang dipimpin oleh Kiai Fahrodin. Majelis Pustaka menjadi salah satu majelis yang pertama kali dibentuk oleh Kiai Ahmad Dahlan selain Majelis Pendidikan, Majelis Tablig dan Majlis Penolong Kesengsaraan Umat (PKU). Muhammadiyah telah berhasil menerbitkan majalah Suara Muhammadiyah sehingga menjadi majalah tertua di Indonesia. Pada 15 Agustus 2024 Suara Muhammadiyah telah berumur 109 tahun.  Dakwah Literasi harus selalu hidup di Muhammadiyah. Apabila dakwah literasi berhenti di Muhammadiyah berarti Muhammadiyah telah mati.

Dakwah literasi telah eksis di Muhammadiyah melalui rumah baca. Salah satunya yaitu Komunitas Rumah Baca Matahari oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kab. Tegal. Rumah Baca Matahari telah mendapatkan 500 Judul buku dari Perpusnas. PP Muhammadiyah akan mengadakan Festival Pers dan Literasi Taman Pustaka pada tanggal 24 -25 Agustus 2024 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Literasi menjadi masalah yang urgen dalam dakwah Muhammadiyah. Dakwah literasi merupakan salah satu cara merawat peradaban. Kondisi literasi Indonesia yang buruk tidak boleh menyurutkan langkah Muhammadiyah dalam dakwah Literasi. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surakarta melalui Majlis Pustaka dan Informasi wajib menyelenggarakan dakwah literasi untuk merawat peradaban. Salah satu cara dengan menggerakkan rumah baca di akar rumput di Pimpinan Cabang Muhammadiyah, Pimpinan Ranting Muhamamdiyah atau  masjid Muhammadiyah.

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment