Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Banyak Bekerja, Banyak Bicara

Sholahuddin, Editor: Alan Aliarcham
Jumat, 19 Juli 2024 19:00 WIB
Banyak Bekerja, Banyak Bicara
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Muhammadiyah.

Dulu, Muhammadiyah terkenal dengan semboyan “sedikit bicara, banyak bekerja”. Pada zamannya, semboyan ini memang manjur. Muhammadiyah tidak banyak berwacana di ruang publik, namun secara senyap, terus melakukan gerakan amal di berbagai bidang.

Muhammadiyah melakukan berbagai penguatan, antara lain di bidang pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, ekonomi, serta penguatan di bidang pemikiran maupun praktik keagamaan. Selama hampir 112 tahun umurnya, gerakan amal Muhammadiyah ini sungguh luar biasa.

Seperti dikutip dari Muhammadiyah.or.id, hingga 2023, Muhammadiyah memiliki 172 perguruan tinggi, 122 rumah sakit, 231 klinik kesehatan, 5.354 sekolah, 440 pesantren, serta 1.012 amal usaha di bidang sosial. Yang mencengangkan, persyarikatan memiliki 214.742.677meter persegi yang terbagi ke 20.465 lokasi.

Bukan hanya di dalam negeri, melainkan ada juga yang di luar negeri. Belum terhitung berapa dana persyarikatan yang tersimpan di berbagai bank di Tanah Air. Triliunan. Sungguh aset yang luar biasa besar. Aset besar ini karena aktivis persyarikatan ini adalah orang-orang yang “gila” bekerja dan beramal dengan spirit keikhlasan yang tinggi.

Berbagai amal usaha itu menjadi sarana Muhammadiyah mengimplementasikan cita-cita Kiai Dahlan: mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Aktivis Muhammadiyah tak banyak “memamerkan” kerja-kerja itu ke ruang publik.

Sebagian beranggapan, publikasi dimaknai sebagai riya, pamer untuk menyombongkan diri. Sehingga, tanpa banyak diketahui publik, Muhammadiyah terus menebar gerakan pencerahan yang hasilnya mencengangkan.

Perubahan Paradigma

Apakah semboyan “sedikit bicara, banyak bekerja” ini masih relevan di era digital ini? Revolusi industri 4.0 banyak mengubah cara hidup manusia. Mendisrupsi cara-cara kerja konvensional manusia. Temuan teknologi digital ini mengubah cara dan gaya hidup manusia. Termasuk mengubah cara orang berdakwah dan beragama.

Dalam berbagai kajian ilmiah, ada relasi kuat antara dunia digital dengan perspektif serta cara-cara orang beragama. Seperti saat orang belajar agama, dunia digital menjadi sumber penting bagi generasi baru. Bahkan muncul konsep digital religion, virtual religion, networked religion yang menggambarkan fenomena keterkaitan antara agama dan dunia digital.

Kalau Muhammadiyah masih irit “bicara” di ruang digital, lha ini yang berbahaya. Karena bisa jadi ruang-ruang digital akan diisi konten-konten yang belum tentu sesuai dengan manhaj Muhammadiyah. Generasi baru yang banyak mendapatkan informasi dari dunia digital bisa jadi makin asing dengan Muhammadiyah.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan perlunya transformasi tagline di persyarikatan. Dari “sedikit bicara, banyak bekerja” menjadi “banyak bekerja, banyak bicara”. Ini karena semboyan “sedikit bicara” tidak relevan lagi. Haedar Nashir mendorong para aktivis Muhammadiyah dan organisasi otonom (ortom) untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana untuk syiar persyarikatan.

Tentu pemanfaatan media digital harus secara arif dan bijaksana. Dan, tentu saja, tanpa bermaksud menyombongkan diri. Salah satu Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo tahun 2022, di bidang Pustaka dan Informasi, bahwa Muhammadiyah akan membangun sinergitas sumber daya teknologi digital, literasi dan media yang terkonsolidasi sebagai sistem gerakan maupun amal usaha di lingkungan persyarikatan.

Muhammadiyah ingin memanfaatkan media dan platform digital sebagai sarana perluasan syiar dakwah persyarikatan. Tentu dengan catatan, “banyak bicara” itu tidak asal bicara. Tapi “bicara” dalam konteks menebar kebaikan dan kebenaran. Bicara dalam konteks yang luas. Tidak hanya lisan, melainkan bisa melalui tulisan, gambar, video atau konten-konten lain yang mencerahkan.

Kita khawatir, tanpa perubahan paradigma pemikiran di era digital ini, dakwah Muhammadiyah akan asing di mata publik. Mau bagaimana lagi, ini eranya wacana publik. Pada isu-isu strategis, Muhammadiyah harus terlibat pada dialektika pemikiran di ranah digital.

Memang, perubahan paradigma ini tidak mudah. Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Majelis Pustaka dan Informasi, Prof. Dadang Kahmad, pernah mengeluhkan para mubalig Muhammadiyah enggan masuk ke ranah digital.

Mereka “malu-malu” menggunakan media digital sebagai sarana dakwah. Padahal PP Muhammadiyah telah mendorong mereka seluas-luasnya untuk “banyak bicara” di ruang digital. Tujuannya, ingin mewarnai dunia digital dengan ideologi Muhammadiyah baik dalam bidang keagamaan maupun isu-isu lainnya.

Muhammadiyah perlu terus mem-branding citra organisasi secara berkelanjutan di ruang publik. Bagaimanapun, penguasaan aset informasi sebagai modal penting untuk menguasai masa depan. Semoga…

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment