Persyarikatan pada Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo 2022 lalu telah bertekad membangun persyarikatan yang unggul dan berkemajuan. Setelah melalui proses panjang selama hampir 112 tahun, kini saatnya Muhammadiyah tidak semata berpikir secara kuantitatif saat mengelola amal usaha. Tapi, yang jauh lebih penting, membangun amal usaha yang berkualitas. Dalam bahasa persyarikatan, amal usaha yang unggul dan berkemajuan.
Kita bersyukur persyarikatan telah memiliki beberapa amal usaha yang masuk kategori unggul, setidaknya jika dilihat dari akreditasi maupun prestasi yang berhasil diraihnya. Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang berjumlah sekitar 172, 12 di antaranya telah berakreditasi unggul. Demikian pula beberapa sekolah, rumah sakit, dan amal usaha lain yang berprestasi serta meraih kepercayaan tinggi dari masyarakat. Yang menjadi catatan, amal usaha kategori unggul itu masih kecil dibandingkan jumlah total amal usaha yang dikelola Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah. Realitas ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi persyarikatan.
Sumber daya manusia (SDM) menjadi kuncinya. Meski sejak awal berdiri Kiai Ahmad Dahlan telah mencanangkan gerakan berkemajuan, toh pada praksisnya praktik pengelolaan organisasi baik di tingkat pimpinan, majelis/lembaga, hingga amal usaha belum sepenuhnya memahami spirit berkemajuan itu. Banyak pimpinan amal usaha yang mengelola amal usaha ala kadarnya, asal jalan, menggunakan cara-cara konvensional. Cara mengelola organisasi seperti ini yang menghambat kemajuan. Agar bisa mencapai tujuan unggul dan berkemajuan itu, Muhammadiyah harus membutuhkan banyak inovator.
Paling Cepat Berubah
Everett M. Rogers, pakar komunikasi yang banyak membahas teori inovasi, mengatakan inovator adalah orang yang paling cepat menerima (mengadopsi) ide-ide baru. Tak sekadar menerima, seorang inovator mampu mengimplementasikan ide-ide baru itu ke dalam praktik dengan baik. Seorang inovator adalah orang yang luwes, bisa dengan mudah menyesuaikan diri terhadap dinamika organisasi yang dipimpinnya. Inovator akan terus mencari ide-ide baru untuk memajukan organisasi yang dia pimpin. Seorang inovator tidak akan berhenti berproses untuk terus memperbaiki tata kelola organisasinya.
Pertanyaannya, apakah para pemimpin di Muhammadiyah, khususnya di amal usaha, telah memenuhi kualifikasi seorang inovator? Orang-orang yang punya kompetensi memadai? Kompeten artinya pemimpin itu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang memadai untuk menghasilkan kinerja yang unggul. Kita sering mendengar para pimpinan amal usaha direkrut tidak selalu berdasarkan kompetensi. Orang diberi jabatan di amal usaha karena orang itu dianggap “berjasa” bagi Muhammadiyah, padahal sesungguhnya orang itu kurang kompeten. Pada disi lain jabatan itu sebenarnya bukan “hadiah” untuk orang yang berjasa, tapi amanah yang harus dijalankan dengan baik dan sungguh-sungguh. Ketika ada pimpinan amal usaha yang kinerjanya buruk pun, tidak segera dilakukan reposisi karena pertimbangan emosional, ewuh-pekewuh, tidak enak hati, dsb. Hal ini mengakibatkan kinerja amal usaha jalan di tempat, bahkan terus menurun. Sementara di luar sana, perubahan lingkungan bisnis bergerak cepat.
Baca juga: Muhammadiyah harus relevan dengan perubahan zaman
Kita sering pula mendengar para pengelola sekolah Muhammadiyah yang bingung karena jumlah muridnya terus menurun. Dalam situasi seperti ini, para pengelola sekolah baru memikirkan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Sebagian sekolah melakukan re-branding untuk meraih kembali kepercayaan masyarakat.Kita bersyukur sebagian sekolah Muhammadiyah yang hampir tutup itu melakukan inovasi sehingga bisa menjadi sekolah yang jauh lebih baik, bahkan unggul. Tapi, ingat, banyak juga yang tidak berhasil. Karena sesungguhnya inovasi itu harus dilakukan secara terus-menerus, berkesinambungan, tidak mengenal berhenti. Inovasi bukan pada saat situasi kepepet. Dalam bahasa Everett M. Rogers, individu yang paling lambat berinovasi adalah orang yang berkategori laggard. Orang mau berubah saat situasi sudah kritis. Menurut Rogers, itu tingkat inovasi yang paling rendah. Kita tidak mau tipe laggard ini mendominasi di persyarikatan.
Secara ideologis, Muhammadiyah adalah organisasi yang sangat inovatif. Terminologi yang sering diusung persyarikatan adalah tajdid, ijtihad, dinamisasi, modernis, berkemajuan, dsb. Kesemua identitas persyarikatan ini sejalan dengan konsep inovasi dalam manajemen modern. Orang Jepang mengatakan Kaizen, atau perbaikan terus-menerus yang menjadi kunci kemajuan Jepang. Kalau basis ideologi Muhammadiyah ini benar-benar terinternalisasi dalam setiap kader, pengurus hingga pengelola amal usaha, ini akan menjadi kekuatan dahsyat. Kita yakin tujuan untuk menjadikan gerakan unggul dan berkemajuan itu menjadi lebih mudah. Tidak ada lagi kita temui amal usaha yang jalan di tempat, bahkan hidup segan mati pun tak mau.
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...
Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…
Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...
Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah
Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...
Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara
Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...
Inovasi atau Mati
Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...
Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam
SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...






