Suatu ketika Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud) bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Ya Rasulullah amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?, beliau SAW menjawab : Sholat tepat pada waktunya. Ibnu Mas’ud bertanya kembali, kemudian apa ? Beliau menjawab: Berbakti kepada kedua orang tua. Kemudian ia bertanya lagi, kemudian apa? Beliau menjawab: Jihad fie Sabilillah (muttafaqin Alaihi). Lain riwayat, Nabi menjawab Sedekah dan juga membaca Al-Qur’an.
Suatu pembelajaran berharga jikalau kita resapi, seolah-olah hampir semua amalan menjadi amalan utama dan terasa berat saat kita lakukan. Namun jikalau kita mau mengkaitkan ayat Allah SWT dalam surat Al-Mulk : 2, Allah berfirman: “Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan juga kehidupan sebagai ujian bagi diri kalian, mana yang paling baik amalnya”
Maka kita dapat tarik garis besar tuntutan Allah kepada seorang hamba, bukan banyaknya beramal. Tapi mempersembahkan amal yang terbaik di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, setiap insan memiliki kemampuan yang berbeda-beda antar satu dengan yang lainnya dan semua tidaklah bisa sama merata.
Hubungan dengan Muhammadiyah
Masih hangat dalam ingatan, mulai mengenal Muhammadiyah sejak tahun 2009, saat pertama kali di’paksa’ oleh bapak untuk dikirim pengkaderan, pada waktu itu bernama tunas melati, yang digagas pengurus PCPM Laweyan pada masanya. Seolah menambah ilmu baru dan wawasan yang cukup luas, Ustaz Suyanto pada saat itu menerangkan sejarah dan peran Muhammadiyah di kalangan masyarakat Indonesia. Hingga pada saatnya mulai perlahan masuk dan menjadi pengurus salah satu lembaga dan pemuda cabang di kota Surakarta ini
Zaman semakin berkembang, akan tetapi merasa prihatin terhadap pengkaderan yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Sejak lepas tahun 2015 mencoba bergerak bersama rekanan yang masih sejalan dalam koridor Muhammadiyah untuk mendirikan pemuda tingkat ranting yang ada di wilayah tempat tinggal, berhasil ? Tentu saja tidak.
Muhammadiyah pada saat itu kurang menjual untuk menyasar ke ranah kultural atau akar rumput. Sedang saat dilibatkan dalam sebuah wadah pemuda cabang, ya hanya sekedar SK semata tanpa adanya pergerakan yang memang diharapkan.
Kehendak takdir berkata lain, setelah Muktamar ke-48 Muhammadiyah di kota kelahiran, sampailah pada musyawarah daerah. Tiba-tiba dipanggil oleh salah satu senior kami, cukup singkat ; “khidmah di MDMC ya.” Tanpa ba-bi-bu, melihat beliau senior dalam pergerakan, maka kami terima amanah tersebut meskipun berat tapi beliau memastikan senantiasa menguatkan. Ya itulah ruh Muhammadiyah!
Dinamika MDMC yang sangat luar biasa, di pertemukan dengan orang-orang hebat dengan berbagai macam potensi latar belakang semua hanya satu tujuan, dakwah persyarikatan Muhammadiyah. Tanpa memandang apakah sudah masuk dalam jenjang pengkaderan ataupun memang praktisi ahli dalam bidangnya, sehingga Muhammadiyah memberikan amanah untuk mengurusi sebagian tugas-tugas persyarikatan.
Selang menerima SK kepengurusan dan seabrek tugas yang di berikan, sang senior kembali ‘njawil’ untuk Khidmah di cabang pemuda yang terletak di seputaran kali bengawan solo, ya Kota Bengawan. Cukup singkat saat ‘loby’ melalui wa, “Bantu urus Kotta Bengawan!” Beliau mendidik kami agar tahu betul realita yang ada di lapangan. Bagaimana sulitnya mencari kader ‘organik’ yang muncul dari akar rumput yang kelak akan melebarkan sayap dakwah Muhammadiyah. Jargon PCPM KOBENG Muda Migunani dengan Konsep ” Dakwah Yang Menggembirakan Bukan Membuat Orang Berpaling Muka “.
Teman- Teman di PCPM Kobeng yang sebelumnya sudah memetakan potensi dan ruang dakwah di wilayah Kotta Bengawan dan dirumuskan dalam Peta Dakwah PCPM Kota Bengawan. Dari situ muncullah beberapa cluster dalam pergerakan. Kotta bengawan hadir memberikan ruang untuk menyalurkan longgarnya waktu para pemuda di wilayahnya. Salah satu contoh, Kota Bengawan berhasil mengakomodir bagi kalangan pemuda masjid yang hobby dalam olah raga Futsal, maka diadakan cluster fun futsal Kotta bengawan.
Mereka tak perlu kita kenalkan Muhammadiyah seperti apa. Biarkan secara naluri, melihat bahwa Muhammadiyah hadir mewadahi hobi dan menerjang batas antara kader atau simpatisan. Melalui jalur ini, beberapa rekanan justru telibat aktif dalam beberapa kegiatan Muhammadiyah. Selain itu juga agenda event reguler rutin bulanan Nge-Teh ( Ngaji Entheng – Enthengan Entuk Hikmah ) dari Masjid Ke Masjid Wakaf Muhammadiyah bahkan dari luar Masjid Wakaf Muhammadiyah.
Hasilnya? Tahun 2022 dan 2023 PCPM Kobeng berhasil menyelenggarakan BAD yang di bungkus melalui Rihlah ukhuwah. Peserta yang berasal dari pemuda-pemuda masjid wakaf Muhammadiyah enjoy mengikuti kegiatan tanpa sadar materi yang mereka terima adalah rangkaian dari materi Baitul Arqom Dasar yang menjadi pintu masuk mereka menyandang sebagai status Kader Pemuda Muhammadiyah.
Tidak cukup dengan fun Futsal, Kotta bengawan melihat potensial pemuda masjid dalam kegiatan alam outdoor, melalui diskusi yang alot dengan Ustaz Kadafi (lebih enak kami memanggil ‘Cak’ Davi) pada waktu itu di tahun 2023 tentang mewadahi teman-teman pemuda masjid yang hobby hiking, maka di tahun 2024 lahirlah cluster baru yang diberi nama ‘AdventureMu’ sebuah wadah kecil sayap dakwah penjaringan kader kultural yang hobby naik gunung.
Alhamdulillah, terakomodir dengan baik dan mendapatkan dukungan dari beberapa pemuda masjid yang memang sudah hobby merasa mempunyai payung dan komunitas positif sekaligus wadah untuk saling transfer ilmu dan pengalaman di dunia pendakian. Bertanya pada hasil? Ya setiap pergerakan selalu terkontrol dan para ‘senior’ tidak hentinya mengarahkan segala sesuatu tentang pendakian. Mereka kami titipi amanah bagaimana menjadi pendaki yang menjunjung tinggi etika bukan sekedar FOMO belaka
Harapan
Melihat realita lapangan, sulit untuk mengenalkan Muhammadiyah dalam ranah pemuda khususnya kultural bahkan sampai tingkat masjid-masjid wakaf Muhammadiyah. Setelah menemukan calon kader, masih ada PR untuk mengenalkan mereka tentang ideologi Muhammadiyah yang di bungkus dengan BAD sehingga paripurna menjadi kader Muhammadiyah.
Menjadi PR penting yang harus berkesinambungan antara praktisi lapangan para pengkader kultural maupun kader struktural. Kerja sama inilah yang di harapkan untum melanjutkan estafet dakwah persyarikatan Muhammadiyah. Tidak ada istilah Comotan, adanya adalah harapan. Bagi mereka yang tertarik ikut Muhammadiyah, ya perlu di terangkan tentang garis-garis besar perjuangan Muhammadiyah. Termasuk kancah perpolitikan, tak kalah pentingnya Muhammadiyah memiliki kader politik unggul agar mampu menyampaikan aspirasi Muhammadiyah untuk kemaslahatan masyarakat secara luas.
Apapun potensinya dan berbagai macam latar belakangnya berikan wadah/cluster sendiri. Tapi batasi dengan ‘pagar’ bahwa kita hadir dengan potensi kita mempersembahkan amal terbaik untuk pergerakan dakwah persyarikatan Muhammadiyah sebagaimana Ayat dan hadits di atas tadi menjadikan ibrah kepada kita, bahwa Allah memerintahkan kita untuk mengenali segala potensi yang ada dalam diri kita, kemudian kita maksimalkan jadikan sebagai amal terbaik kita dalam rangka meraih derajat mulia dihadapanNya.
Sendirian itu tak akan pernah bisa mencapai tujuan, sedangkan berjamaah akan saling mempermudah dalam langkah perjuangan. Bukankah itu yang kita harapkan? Terakhir, kami masih berharap pemuda Muhammadiyah kotta bengawan segera mewadahi kami, kaum gondronges. Kalau di kancah umum ada Gondrong Gunung Indonesia (GGI), semoga di Muhammadiyah ada GondrongMu (Gondrong-Gondrong Muhammadiyah)
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






