Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Model Pengembangan MIM Perdesaan

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 22 Juli 2024 00:01 WIB
Model Pengembangan MIM Perdesaan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Mohamad Ali

Sebagian besar Madrasah Ibtidaiyah (MI), baik negeri maupun swasta, berada di perdesaan. Keterbatasan sumber daya, dukungan sosial maupun finansial di pedesaan menjadi kendala besar dalam proses pengembangannya. Sekadar contoh di Kabupaten Boyolali, untuk jenjang pendidikan dasar, Muhammadiyah memiliki sembilan puluh satu (91) MI dan hanya sebelas (11) Sekolah Dasar (SD). Sementara kalau menengok ke Kota Surakarta, Pimpinan Daerah Muhammadiyah di kota ini tidak memiliki MI, semua dalam bentuk SD yang berjumlah dua puluh empat (24) buah. Esai ini coba mengangkat salah satu MIM di perdesaan Boyolali yang mampu mengangkat dirinya menjadi salah satu madrasah unggulan, menjadi rujukan dan pilihan masyarakat menyekolahkan putra-putrinya.

Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Kateguhan, Kecamatan Sawit, Boyolali berdiri tahun 1960-an paskagerakan 30/-PKI dan sebelum munculnya SD-SD Inpres. Sejak berdiri sampai tahun 1990an kondisi stabil, normal. Setiap angkatan menerima satu (1) rombongan belajar (rombel) berjumlah 25 siswa. Guru-gurunya sebagian PNS yang digaji oleh pemerintah yang dipekerjakan di MIM. Kondisi ini terus berjalan normal dan dianggap tidak pernah ada gejolak yang berarti.

Susana normal dan stabil tiba-tiba berubah ketika memasuki milenium baru, tahun 2000-an. Dari hari ke hari jumlah siswa semakin menurun. Kondisi yang sama juga dialami SD Negeri di sekitanya. Guru-guru bersatutd PNS satu perstu pensiun digantikan guru persyarikatan sehingga ada donasi untuk membantu operasional madrasah. Pergantian Kepala Madrasah beberapa kali belum mampu menghadirkan perubahan yang berarti.

Pada tahu 2010 situasi semakin kritis. Kelas I (siswa baru) hanya tiga siswa. Kondisi ini memantik prakarsa dari segelintir aktivis; Ahmad Qodrat, Parimin, Wardoyo, dan Sumarjuni, untuk menyebut beberapa nama terkemuka. Mereka berpandangan dan menarik kesimpulan, kalau tidak ada perubahan mendasar terkait visi, orientasi, dan tata kelola MIM, maka tak relevan dengan aspirasi masyarakat dan dengan sendirinya akan gulung tikar.

Saya beruntung menjadi bagian dari masalah yang mereka alami dan masuk ke dalam untuk bersama-sama mendalami dan memecahkannya. Sebenarnya aktivitas Muhammadiyah Ranting Kateguhan berjalan dalam bentuk rapat dan pengajian, setiap bulan ada donatur berkeliling untuk menambal operasional MIM. Di sisi lain,  MIM juga berjalan sesuai langgamnya sebagai lembaga pendidikan yang terus merosot di mata masyarakat. Tetapi keduanya tidak saling komunikasi dan tegur sapa dalam menyatukan visi dan Langkah.

Disorientasi

Setelah serangkaian pertemuan dilakukan, kami menemukan, masalah utama terletak pada kurang optimalnya perhatian-dukungan warga Muhammadiyah setempat.  Pengelola madrasah mengalami disorientasi. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut kami melakukan tiga langkah secara paralel/bersamaan. Langkah pertama, membuat brand merek baru, yakni dengan menambahkan kata sifat “Program Khusus” sehingga menjadi MIM PK Kateguhan. Langkah kedua, membangun visi bersama dan menyamakan frekuensi seluruh warga Muhammadiyah beserta ortom-ortomnya dengan pengelola madrasah. Langkah ketiga, memagangkan guru-guru MIM Kateguhan ke SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat dalam rangka belajar praktik baik dan meng-install software pembelajarannya.

Baca juga: Kepala Sekolah, Lokomotif Kemajuan Sekolah

Ketiga langkah di atas dilakukan secara terukur, sistematis, dan istikamah sehingga hasilnya dapat terlihat nyata dalam waktu relatif singkat. Pada tahun ketiga dimulanya proses inovasi madrasah, jumlah pendaftar jauh melebih satu rombel sehingga dibuka dua rombel. Ternyata dengan cara-cara demikian “penyakit akut” yang mendera madrasah berhasil diatasi. Pada tahun 2018 berhasil membangun gedung berlantai tiga dengan kekuatan finansial mandiri.

Dari praktik baik dan keberhasilan MIM PK Kateguhan kita dapat menarik inspirasi bahwa lingkungan pedesaan bukanlah kendala untuk berkembangnya madrasah. Adapaun jalan inovasi/pengembangan madrasah dilakukan dengan tiga langkah: pertama, buat brand baru yang terus dipupuk secara konsisten. Kedua, perkuat dan perokoh modal sosial madrasah, dan ketiga terus belajar dan mengembangkan diri agar lebih cepat beradaptasi dengan hal-hal baru.

Pengalaman keberhasilan MIM PK Kateguhan mentransformasikan institusi dari madrasah gurem (kecil) menjadi madrasah subur (besar) dapat dijadikan model pengembangan MIM perdesaan lain di seluruh Indonesia, tentu dengan catatan mereka memiliki beberapa karateristik relatif sama. Perdesaan tidak pantas dijadikan alasan untuk berdiam diri dalam keterbelakangan dan kemunduran.

Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo

Berita Terbaru

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka

“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...

Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton

Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...

Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu

Daftar IsiDakwah yang Kehilangan AkhlakKenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?Candaan Boleh, Tapi Jangan BerlebihanKrisis Ilmu di Tengah Budaya ViralDari Popularitas ke PencerahanKembali ke Akhlak dan HikmahFenomena...

MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup

Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...

Kamu Harus Jadi Mubalig…

“Anak-anakku semua harus jadi mubalig/mubaligah.” Meski telah bertahun-tahun, saya masih terngiang-ngiang kata-kata almarhum ayah saya ini. Pernyataan itu berulangkali diungkapkan saat ngobrol santai bersama keluarga....

Leave a comment