Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Hafidh Essa Al-Fara, Editor: Sholahuddin
Kamis, 9 April 2026 10:25 WIB
Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Hafidh Essa Al-Fara. [Dok. pribadi].

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu dari grup WhatsApp. Momentum itu pun buyar. Inilah realita yang dihadapi jutaan Muslim hari ini.  Di satu sisi, digitalisasi Al-Qur’an lewat aplikasi seperti Quran.com, Muslim Pro, atau Al-Qur’an Indonesia telah membawa kemudahan luar biasa. Di sisi lain, membawa mushaf digital di perangkat yang sama dengan TikTok dan Instagram yang menciptakan medan perang baru: kekhusyukan vs distraksi.

Al-Qur’an di Genggaman, Sungguhkah Berkah?

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara umat Islam berinteraksi dengan kitab sucinya secara mendasar. Survei dari We Are Social (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 75% pengguna internet Indonesia mengakses konten keagamaan melalui smartphone. Tidak heran jika aplikasi Al-Qur’an digital kini diunduh ratusan juta kali di seluruh dunia.

Secara fungsional, digitalisasi Al-Qur’an menawarkan manfaat nyata. Seseorang bisa membaca terjemahan, mendengar murattal, mengecek tafsir, hingga mencatat hafalan—semuanya dalam satu genggaman (Musa & Hassan, 2019). Ini adalah lompatan aksesibilitas yang luar biasa, terutama bagi generasi muda yang tumbuh bersama layar sentuh. Namun,  ada pertanyaan yang perlu dijawab secara jujur: apakah kemudahan itu otomatis menghadirkan kekhusyukan? Atau justru sebaliknya?

Otak Kita Tidak Dirancang untuk Multitasking Ibadah

Neurosains modern menjelaskan bahwa otak manusia secara struktural tidak mampu melakukan dua tugas kognitif tinggi secara bersamaan. Yang terjadi sebenarnya bukan multitasking, melainkan task-switching—perpindahan fokus yang cepat namun tetap menguras energi mental (Ophir, Nass & Wagner, 2009). Ketika membaca Al-Qur’an di aplikasi dengan smartphone terus berdering, otak tidak sedang “dua jalur”, melainkan terus-menerus terganggu dan dipaksa memulai ulang konsentrasi.

Dalam khazanah Islam, kondisi fokus penuh saat membaca Al-Qur’an dikenal dengan istilah tadabur—merenungi makna ayat secara mendalam. Al-Qur’an sendiri memerintahkan ini dalam Surah Shad ayat 29: “Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka merenungkan ayat-ayatnya.” Tadabur mustahil terjadi ketika pikiran terbelah antara ayat Allah dan notifikasi sosial media.

Penelitian Sari & Hidayat (2021) yang melibatkan mahasiswa di beberapa perguruan tinggi Islam Indonesia menemukan bahwa 68% responden mengaku lebih mudah kehilangan konsentrasi saat membaca Al-Qur’an digital dibanding mushaf fisik. Alasannya konsisten: godaan aplikasi lain terlalu dekat.

Bukan Salah Teknologinya

Penting untuk tidak terjebak dalam sikap anti-teknologi. Mushaf digital bukan masalah—cara kita menggunakannya yang perlu dievaluasi. Sejarah Islam sendiri mencatat bahwa umat ini selalu adaptif terhadap teknologi baru. Percetakan mushaf massal di era modern pun sempat diperdebatkan, namun akhirnya diterima karena manfaatnya lebih besar (Fauzi, 2020).

Yang diperlukan bukan penolakan, melainkan digital literacy berbasis nilai spiritual. Beberapa strategi praktis yang bisa diterapkan antara lain: mengaktifkan mode Do Not Disturb khusus waktu tilawah, menggunakan aplikasi Al-Qur’an offline agar tidak terhubung internet, menetapkan “waktu Al-Qur’an” yang sakral bebas notifikasi, serta sesekali kembali ke mushaf fisik untuk melatih fokus mendalam.

Ritual Kecil yang Mengubah Segalanya

Ada sesuatu yang berbeda ketika tangan menyentuh lembaran mushaf fisik. Secara psikologis, ritual fisik seperti berwudhu lalu membuka mushaf menciptakan contextual cue—sinyal bagi otak bahwa ini adalah waktu ibadah, bukan waktu hiburan (Deci & Ryan, 2000). Mushaf digital memang praktis, tapi ia hadir dalam konteks yang sama dengan YouTube dan e-commerce, sehingga otak kesulitan membedakan mode “ibadah” dan mode “scrolling“.

Ini bukan berarti mushaf digital inferior. Justru dengan kesadaran ini, pengguna bisa secara sadar membangun ritual baru: wudu sebelum membuka aplikasi, mematikan notifikasi, menaruh ponsel di tempat khusus, dan berniat dengan sungguh-sungguh sebelum mulai. Kekhusyukan bukan soal medium—melainkan soal niat dan manajemen perhatian.

Generasi Qur’ani di Era Algoritma

Tantangan terbesar generasi Muslim saat ini bukan soal akses terhadap Al-Qur’an—itu sudah terjawab oleh teknologi. Tantangan sesungguhnya adalah membangun relasi yang bermakna dan mendalam dengan firman Allah di tengah dunia yang dirancang untuk mencuri perhatian kita setiap detik.

Platform digital didesain menggunakan prinsip persuasive technology—algoritma yang secara aktif bersaing memperebutkan waktu dan fokus pengguna (Fogg, 2003). Dalam kompetisi perhatian ini, Al-Qur’an tidak akan mengirimkan notifikasi, tidak ada fitur “like”, dan tidak ada konten rekomendasi otomatis. Ia hanya diam—menunggu kita yang memilih untuk datang.

Maka menjaga kekhusyukan di era digital adalah sebuah perjuangan aktif, bukan kondisi yang datang sendiri. Ia adalah pilihan yang harus dibuat ulang setiap hari: mematikan notifikasi, menutup aplikasi lainnya, dan hadir sepenuhnya di hadapan kalam Allah.

Teknologi boleh semakin canggih. Tapi kekhusyukan tetap hanya bisa dibangun oleh satu hal: hati yang memilih untuk hadir.

Wallahu A’laam

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Daftar Pustaka

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.

Fauzi, A. (2020). Teknologi dan Transformasi Keagamaan Islam Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fogg, B. J. (2003). Persuasive Technology: Using Computers to Change What We Think and Do. Morgan Kaufmann Publishers.

Musa, M. A., & Hassan, M. S. (2019). Digital Qur’an and its impact on Muslim reading practice. Journal of Islamic Studies and Culture, 7(2), 45–58.

Ophir, E., Nass, C., & Wagner, A. D. (2009). Cognitive control in media multitaskers. Proceedings of the National Academy of Sciences, 106(37), 15583–15587.

Sari, R., & Hidayat, T. (2021). Pengaruh penggunaan Al-Qur’an digital terhadap kekhusyukan tilawah mahasiswa. Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 6(1), 112–128.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...