“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan, sebagian dari kita justru lebih sering mengenal Tuhan sebagai sosok yang menakutkan. Tuhan digambarkan sebagai hakim yang siap menghukum, mengazab, dan mengintai kesalahan sekecil apa pun.
Padahal, dalam Al-Qur’an, sifat kasih sayang Tuhan selalu disebut lebih dulu daripada murka-Nya. Setiap awal surat dibuka dengan basmalah yang menegaskan rahmat-Nya. Tetapi dalam praktik kehidupan sehari-hari, narasi ketakutan justru lebih dominan. Seolah-olah iman hanya bisa tumbuh melalui ancaman.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari cara agama diajarkan dan disampaikan. Ceramah, nasihat, bahkan pendidikan agama sering kali menekankan aspek dosa dan hukuman. Neraka digambarkan dengan detail yang mengerikan, sementara surga hanya disinggung sekilas. Akibatnya, hubungan manusia dengan Tuhan menjadi relasi yang penuh kecemasan.
Di titik inilah muncul kegelisahan yang jarang diungkapkan secara jujur: bagaimana jika Tuhan yang kita kenal bukan sepenuhnya Tuhan yang sebenarnya, melainkan versi yang dibentuk oleh ketakutan? Dan lebih jauh lagi, bagaimana jika nama Tuhan justru dipakai untuk menakut-nakuti manusia?
Agama yang Mengancam: Ketika Dakwah Kehilangan Kelembutan
Dalam banyak ruang keagamaan, kita sering menemukan pendekatan dakwah yang keras. Nada tinggi, kata-kata tajam, dan ancaman azab menjadi senjata utama. Tujuannya mungkin baik, yaitu mengingatkan umat agar tidak lalai. Namun cara yang digunakan justru sering menimbulkan jarak, bukan kedekatan.
Ketika agama disampaikan dengan cara menakut-nakuti, yang lahir bukanlah cinta kepada Tuhan, melainkan ketakutan yang dangkal. Orang beribadah bukan karena rindu, tetapi karena takut dihukum. Ini adalah bentuk keberagamaan yang rapuh, karena tidak berakar pada kesadaran, melainkan pada tekanan.
Lebih berbahaya lagi, narasi seperti ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Nama Tuhan dijadikan alat legitimasi untuk menghakimi, mengontrol, bahkan menekan orang lain. Siapa yang berbeda dianggap sesat, siapa yang tidak sejalan dianggap berdosa. Agama yang seharusnya membebaskan justru berubah menjadi alat pengekangan.
Padahal jika kita melihat bagaimana Nabi Muhammad berdakwah, yang ditonjolkan adalah kelembutan dan kasih sayang. Bahkan kepada mereka yang menolak, beliau tetap menunjukkan akhlak yang mulia. Ini menjadi pengingat bahwa dakwah bukan soal menakut-nakuti, tetapi mengajak dengan hikmah.
Ketakutan yang Menjauhkan: Saat Iman Kehilangan Makna
Ketakutan memang bisa menjadi salah satu jalan menuju kesadaran. Namun jika berlebihan, ia justru bisa menjauhkan. Banyak orang yang akhirnya merasa tidak pantas mendekat kepada Tuhan karena merasa terlalu berdosa. Mereka memilih menjauh, bukan karena tidak ingin beriman, tetapi karena takut tidak diterima.
Fenomena ini sering terjadi, terutama di kalangan anak muda. Mereka tumbuh dengan narasi agama yang keras, tanpa ruang untuk bertanya atau memahami. Ketika melakukan kesalahan, mereka tidak menemukan pelukan, tetapi justru hukuman. Akibatnya, agama terasa menyesakkan, bukan menenangkan.
Padahal, dalam ajaran Islam, pintu taubat selalu terbuka. Tuhan tidak pernah menutup kesempatan bagi hamba-Nya untuk kembali. Bahkan disebutkan bahwa rahmat-Nya lebih luas daripada murka-Nya. Namun pesan ini sering kalah oleh narasi yang menekankan hukuman.
Jika iman hanya dibangun di atas rasa takut, maka ia tidak akan bertahan lama. Ia mudah runtuh ketika dihadapkan pada realitas kehidupan yang kompleks. Sebaliknya, iman yang dibangun atas cinta dan pemahaman akan lebih kuat dan tahan uji.
Muhasabah: Mengembalikan Tuhan sebagai Sumber Cinta
Sudah saatnya kita melakukan muhasabah, bukan hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap cara kita memahami dan menyampaikan agama. Apakah kita selama ini lebih sering menakut-nakuti daripada menenangkan? Apakah kita menghadirkan Tuhan sebagai sumber kasih sayang, atau justru sebagai ancaman?
Muhasabah ini penting agar kita tidak terjebak dalam keberagamaan yang kering. Agama seharusnya menjadi sumber ketenangan, bukan kecemasan. Ia harus mampu menjawab kegelisahan manusia, bukan menambah beban yang sudah ada.
Kita juga perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang berbeda. Tidak semua orang bisa menerima pendekatan yang sama. Oleh karena itu, dakwah harus dilakukan dengan bijak, mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.
Mengembalikan Tuhan sebagai sumber cinta bukan berarti mengabaikan aspek hukum dan larangan. Namun, semuanya harus ditempatkan dalam kerangka yang seimbang. Ada rasa takut, tetapi juga ada harapan. Ada peringatan, tetapi juga ada pelukan.
Takut yang Menuntun, Bukan Menenggelamkan
“Tuhan, aku takut jika Engkau dipakai untuk menakutiku.” Kalimat ini bukan bentuk pembangkangan, melainkan kegelisahan yang lahir dari kerinduan akan Tuhan yang penuh kasih. Ia adalah doa agar kita tidak salah memahami-Nya.
Ketakutan dalam beragama seharusnya menuntun, bukan menenggelamkan. Ia harus menjadi pengingat, bukan penghalang. Jika ketakutan justru membuat kita menjauh, maka ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita beragama.
Pada akhirnya, Tuhan tidak membutuhkan kita untuk menakut-nakuti sesama. Yang dibutuhkan adalah menghadirkan nilai-nilai kasih sayang, keadilan, dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Di situlah agama menemukan maknanya yang sejati.
Dan mungkin, di titik itulah kita bisa benar-benar berkata dengan tenang: aku mengenal Tuhan bukan karena takut, tetapi karena cinta.
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...
Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...
Belajar Bernapas di Tengah Sesak
Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...
Sang Pencari Makna
“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...
Menolak Politeisme Politik
Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...
Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta
Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...
Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental
Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...
Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah
Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...
Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia
Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...







