Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Sholahuddin
Kamis, 19 Maret 2026 12:35 WIB
Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Hanif Syairafi Wiratama (dok.pribadi).

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan sederhana berubah menjadi diskursus panjang: kapan 1 Syawal 2026?

Sebagian sudah bersiap takbiran, sebagian lain masih menunggu hasil sidang isbat. Di antara mereka, ada kegelisahan yang tidak sederhana bukan soal tanggal semata, tetapi tentang siapa yang paling benar.

Namun,  di tengah hiruk-pikuk itu, bayangkan sebuah ruang imajiner terbuka. Sebuah majelis sunyi, tempat dua tokoh besar bangsa ini K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari duduk bersama rakyat. Mereka tidak datang untuk memperuncing perbedaan, tetapi untuk menjernihkan cara kita memandangnya.

Ahmad Dahlan memulai percakapan dengan tenang. Wajahnya teduh, matanya tajam penuh pemikiran. Ia berbicara tentang pentingnya ilmu dalam menentukan waktu ibadah.

“Agama ini tidak bertentangan dengan akal,” seolah ia berkata. “Hisab adalah bentuk ikhtiar manusia memahami keteraturan ciptaan Allah.”

Ia mengingatkan firman Allah:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.”
(QS. Ar-Rahman: 5)

Ayat ini, bagi Ahmad Dahlan, bukan sekadar informasi kosmik. Ia adalah legitimasi bahwa perhitungan astronomi (hisab) adalah bagian dari sunnatullah. Bahwa Islam tidak anti-terhadap ilmu, bahkan justru mendorongnya.

Di sisi lain, Hasyim Asy’ari tersenyum. Ia tidak membantah, tetapi melengkapi. Dengan suara yang dalam dan penuh kewibawaan, ia mengingatkan tentang tradisi rukyat melihat hilal secara langsung.

Ia mengutip sabda Nabi ﷺ:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
“Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Baginya, rukyat bukan sekadar metode, tetapi juga warisan praksis dari Nabi. Ia menjaga dimensi spiritual dan kebersamaan umat dalam menentukan waktu ibadah.

Di ruang itu, tidak ada pertentangan. Yang ada hanyalah dua cara memahami wahyu: satu melalui perhitungan, satu melalui pengamatan.

Di hadapan dua tokoh itu, rakyat mulai berbicara. Seorang bapak mengeluh, “Kenapa setiap tahun kita harus berbeda? Bukankah ini memecah belah umat?”

Seorang pemuda menambahkan, “Kadang kami jadi bingung. Harus ikut yang mana? Bahkan dalam satu keluarga pun bisa berbeda hari raya.”

Kegelisahan itu nyata. Di dunia nyata, perbedaan sering kali tidak berhenti pada perbedaan metode. Ia merembet menjadi perdebatan emosional, bahkan saling menyalahkan.

Ahmad Dahlan memandang dengan lembut. Ia berkata, “Perbedaan bukanlah masalah, jika kita memahami ilmunya. Yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak mau memahami, tetapi ingin menang sendiri.”

Hasyim Asy’ari mengangguk. “Umat ini besar. Tidak mungkin semua dipaksa seragam dalam hal ijtihadiyah. Yang penting adalah adab dalam berbeda.”

Keduanya seakan sepakat pada satu hal: yang rusak bukan perbedaannya, tetapi cara kita menyikapinya.

Dalil yang Sama, Jalan yang Berbeda

Diskusi semakin dalam. Ahmad Dahlan menjelaskan bahwa hisab memberikan kepastian dan konsistensi. Ia membantu umat untuk merencanakan ibadah dengan lebih teratur. Dalam konteks modern, hisab menjadi sangat relevan karena didukung oleh sains yang semakin akurat.

Sementara itu, Hasyim Asy’ari menekankan bahwa rukyat menjaga dimensi kehati-hatian (ihtiyat). Ia mengajarkan umat untuk tetap rendah hati di hadapan fenomena alam, tidak sepenuhnya bergantung pada hitungan manusia.

Menariknya, keduanya sebenarnya berangkat dari dalil yang sama, tetapi menempuh pendekatan yang berbeda. Di sinilah letak keindahan fiqh Islam: ia memberikan ruang bagi ijtihad.

Dalam kaidah fikih disebutkan:

الاجتهاد لا ينقض بالاجتهاد
“Ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad yang lain.”

Artinya, selama keduanya memiliki dasar yang kuat, maka tidak ada yang berhak mengklaim kebenaran mutlak sambil menafikan yang lain.  Percakapan di ruang imajiner itu mulai mengarah pada satu kesadaran. Bahwa penentuan 1 Syawal bukan hanya soal tanggal, tetapi tentang bagaimana umat belajar bersikap dewasa.

Ahmad Dahlan berkata, “Jika hisab membuatmu yakin, maka jalankan dengan penuh tanggung jawab. Tapi jangan merendahkan yang berbeda.”

Hasyim Asy’ari menambahkan, “Jika rukyat yang kau pegang, maka jalankan dengan penuh keyakinan. Tapi jangan memaksakan kepada yang lain.”

Rakyat mulai terdiam. Mereka menyadari bahwa selama ini energi terlalu banyak dihabiskan untuk memperdebatkan hal yang sebenarnya memiliki ruang toleransi dalam Islam.

Padahal, Ramadhan yang baru saja dilalui telah mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan keikhlasan.

Di akhir majelis, kedua tokoh itu seakan menyampaikan pesan yang sama kepada umat Islam hari ini: jangan biarkan perbedaan teknis merusak persaudaraan yang substansial.

Idul Fitri adalah momen kembali kepada fitrah. Fitrah itu bersih, tidak dipenuhi prasangka, tidak dipenuhi ego ingin menang sendiri. Jika perbedaan 1 Syawal justru membuat hati penuh amarah, maka ada yang salah dengan cara kita beragama.

Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kalian semua kepada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini tidak menuntut keseragaman mutlak, tetapi menuntut persatuan dalam prinsip.

Ruang imajiner itu perlahan menghilang. Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari tidak benar-benar hadir secara fisik, tetapi gagasan mereka tetap hidup di tengah umat.

Kini, keputusan ada di tangan kita. Apakah kita akan terus memperdebatkan perbedaan hingga melukai persaudaraan? Ataukah kita belajar menjadikannya sebagai ruang kedewasaan?

Karena pada akhirnya, 1 Syawal mungkin berbeda, tetapi Idul Fitri seharusnya tetap sama: hari kemenangan bagi hati yang mampu menerima perbedaan.  Dan mungkin, di situlah letak kemenangan yang sebenarnya bukan pada siapa yang paling benar menentukan tanggal,  tetapi pada siapa yang paling bijak menjaga persaudaraan.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...

Belajar Bernapas di Tengah Sesak

Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...

TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba

Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...

Sang Pencari Makna

“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...

Menolak Politeisme Politik

Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...

Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta

Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...