Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan sederhana berubah menjadi diskursus panjang: kapan 1 Syawal 2026?
Sebagian sudah bersiap takbiran, sebagian lain masih menunggu hasil sidang isbat. Di antara mereka, ada kegelisahan yang tidak sederhana bukan soal tanggal semata, tetapi tentang siapa yang paling benar.
Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, bayangkan sebuah ruang imajiner terbuka. Sebuah majelis sunyi, tempat dua tokoh besar bangsa ini K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari duduk bersama rakyat. Mereka tidak datang untuk memperuncing perbedaan, tetapi untuk menjernihkan cara kita memandangnya.
Ahmad Dahlan memulai percakapan dengan tenang. Wajahnya teduh, matanya tajam penuh pemikiran. Ia berbicara tentang pentingnya ilmu dalam menentukan waktu ibadah.
“Agama ini tidak bertentangan dengan akal,” seolah ia berkata. “Hisab adalah bentuk ikhtiar manusia memahami keteraturan ciptaan Allah.”
Ia mengingatkan firman Allah:
الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.”
(QS. Ar-Rahman: 5)
Ayat ini, bagi Ahmad Dahlan, bukan sekadar informasi kosmik. Ia adalah legitimasi bahwa perhitungan astronomi (hisab) adalah bagian dari sunnatullah. Bahwa Islam tidak anti-terhadap ilmu, bahkan justru mendorongnya.
Di sisi lain, Hasyim Asy’ari tersenyum. Ia tidak membantah, tetapi melengkapi. Dengan suara yang dalam dan penuh kewibawaan, ia mengingatkan tentang tradisi rukyat melihat hilal secara langsung.
Ia mengutip sabda Nabi ﷺ:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
“Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Baginya, rukyat bukan sekadar metode, tetapi juga warisan praksis dari Nabi. Ia menjaga dimensi spiritual dan kebersamaan umat dalam menentukan waktu ibadah.
Di ruang itu, tidak ada pertentangan. Yang ada hanyalah dua cara memahami wahyu: satu melalui perhitungan, satu melalui pengamatan.
Di hadapan dua tokoh itu, rakyat mulai berbicara. Seorang bapak mengeluh, “Kenapa setiap tahun kita harus berbeda? Bukankah ini memecah belah umat?”
Seorang pemuda menambahkan, “Kadang kami jadi bingung. Harus ikut yang mana? Bahkan dalam satu keluarga pun bisa berbeda hari raya.”
Kegelisahan itu nyata. Di dunia nyata, perbedaan sering kali tidak berhenti pada perbedaan metode. Ia merembet menjadi perdebatan emosional, bahkan saling menyalahkan.
Ahmad Dahlan memandang dengan lembut. Ia berkata, “Perbedaan bukanlah masalah, jika kita memahami ilmunya. Yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak mau memahami, tetapi ingin menang sendiri.”
Hasyim Asy’ari mengangguk. “Umat ini besar. Tidak mungkin semua dipaksa seragam dalam hal ijtihadiyah. Yang penting adalah adab dalam berbeda.”
Keduanya seakan sepakat pada satu hal: yang rusak bukan perbedaannya, tetapi cara kita menyikapinya.
Dalil yang Sama, Jalan yang Berbeda
Diskusi semakin dalam. Ahmad Dahlan menjelaskan bahwa hisab memberikan kepastian dan konsistensi. Ia membantu umat untuk merencanakan ibadah dengan lebih teratur. Dalam konteks modern, hisab menjadi sangat relevan karena didukung oleh sains yang semakin akurat.
Sementara itu, Hasyim Asy’ari menekankan bahwa rukyat menjaga dimensi kehati-hatian (ihtiyat). Ia mengajarkan umat untuk tetap rendah hati di hadapan fenomena alam, tidak sepenuhnya bergantung pada hitungan manusia.
Menariknya, keduanya sebenarnya berangkat dari dalil yang sama, tetapi menempuh pendekatan yang berbeda. Di sinilah letak keindahan fiqh Islam: ia memberikan ruang bagi ijtihad.
Dalam kaidah fikih disebutkan:
الاجتهاد لا ينقض بالاجتهاد
“Ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad yang lain.”
Artinya, selama keduanya memiliki dasar yang kuat, maka tidak ada yang berhak mengklaim kebenaran mutlak sambil menafikan yang lain. Percakapan di ruang imajiner itu mulai mengarah pada satu kesadaran. Bahwa penentuan 1 Syawal bukan hanya soal tanggal, tetapi tentang bagaimana umat belajar bersikap dewasa.
Ahmad Dahlan berkata, “Jika hisab membuatmu yakin, maka jalankan dengan penuh tanggung jawab. Tapi jangan merendahkan yang berbeda.”
Hasyim Asy’ari menambahkan, “Jika rukyat yang kau pegang, maka jalankan dengan penuh keyakinan. Tapi jangan memaksakan kepada yang lain.”
Rakyat mulai terdiam. Mereka menyadari bahwa selama ini energi terlalu banyak dihabiskan untuk memperdebatkan hal yang sebenarnya memiliki ruang toleransi dalam Islam.
Padahal, Ramadhan yang baru saja dilalui telah mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan keikhlasan.
Di akhir majelis, kedua tokoh itu seakan menyampaikan pesan yang sama kepada umat Islam hari ini: jangan biarkan perbedaan teknis merusak persaudaraan yang substansial.
Idul Fitri adalah momen kembali kepada fitrah. Fitrah itu bersih, tidak dipenuhi prasangka, tidak dipenuhi ego ingin menang sendiri. Jika perbedaan 1 Syawal justru membuat hati penuh amarah, maka ada yang salah dengan cara kita beragama.
Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kalian semua kepada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini tidak menuntut keseragaman mutlak, tetapi menuntut persatuan dalam prinsip.
Ruang imajiner itu perlahan menghilang. Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari tidak benar-benar hadir secara fisik, tetapi gagasan mereka tetap hidup di tengah umat.
Kini, keputusan ada di tangan kita. Apakah kita akan terus memperdebatkan perbedaan hingga melukai persaudaraan? Ataukah kita belajar menjadikannya sebagai ruang kedewasaan?
Karena pada akhirnya, 1 Syawal mungkin berbeda, tetapi Idul Fitri seharusnya tetap sama: hari kemenangan bagi hati yang mampu menerima perbedaan. Dan mungkin, di situlah letak kemenangan yang sebenarnya bukan pada siapa yang paling benar menentukan tanggal, tetapi pada siapa yang paling bijak menjaga persaudaraan.
Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan
Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...
Puasa Sepanjang Tahun
Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....
Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka
Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...
Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”
Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...
Muhammadiyah dan Rokok…
Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...
Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka
“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...






