Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Pujiono, Editor: Alan Aliarcham
Jumat, 2 Januari 2026 14:22 WIB
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Guru SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Dyah Ayu Ratnaningsih, saat mengajari siswa menyetrika pakaian. [Humas].

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan lembaga pendidikan yang makin ketat, guru sekolah swasta tidak bisa lagi berperan seperti pramuniaga yang diam menunggu pembeli datang ke toko.

Apalagi jika sekolah kita belum sepenuhnya dipercaya publik. Menunggu dalam kondisi seperti itu sama dengan memperkecil harapan. Kepercayaan masyarakat tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari perjumpaan, komunikasi, dan keyakinan yang tumbuh karena melihat kesungguhan.

Maka guru hari ini dituntut banyak bergerak: turun ke masyarakat, hadir di forum wali murid, aktif di kegiatan sosial, menyapa, menjelaskan, dan menawarkan program sekolah dengan penuh keyakinan. Bukan sekadar promosi, tapi menyampaikan nilai, visi, dan keberpihakan sekolah pada masa depan anak-anak mereka.

Logikanya sederhana. Jika kita menemui 100 calon wali murid, sangat mungkin tidak semuanya tertarik. Namun hampir pasti ada yang “nyantol”. Ada yang mulai percaya, ada yang ingin mencoba, ada yang merekomendasikan ke tetangganya. Peluang selalu lahir dari gerak.

Tanggung Jawab Bersama

Sebaliknya, jika kita hanya “jaga gawang”, menunggu murid datang sendiri, sementara reputasi belum kuat, maka peluang itu sangat tipis—bahkan nyaris tidak ada. Guru yang bergerak menjemput murid bukan berarti merendahkan martabat profesi. Justru di situlah letak kemuliaannya.

Guru sedang memperjuangkan keberlangsungan pendidikan, menjaga dapur sekolah tetap mengepul, dan memastikan ruang-ruang kelas tetap hidup. Ini bukan soal marketing semata, tapi soal tanggung jawab bersama membesarkan lembaga.

Sekolah besar hari ini, dulunya juga sekolah kecil yang gurunya mau bergerak, mau capek, mau turun langsung. Mereka tidak menunggu dipercaya, tapi bekerja sampai pantas dipercaya. Dari langkah-langkah kecil itulah, kepercayaan publik tumbuh.

Maka sudah saatnya guru sekolah swasta mengubah mindset: dari “menunggu murid” menjadi “menjemput masa depan”. Karena masa depan pendidikan tidak pernah datang kepada mereka yang hanya diam di tempat.

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Sepucuk Surat untuk Raja Juli Antoni

Pernahkah kita bertanya, dari mana datangnya gelondongan kayu raksasa yang terbawa arus banjir di Aceh hingga Sumatera Barat? Mengapa setiap hujan besar selalu berujung pada...