Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 5 Februari 2026 17:07 WIB
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi perundungan. (Humas)

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi sederhana tentang masa depan. Namun tanggal 29 Januari 2026 justru menjadi saksi bisu ketika mimpi kecil itu berhenti sebelum sempat tumbuh.

Seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada ditemukan tak bernyawa setelah diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena. Nilai yang dibutuhkan sebenarnya tak besar kurang dari sepuluh ribu rupiah. Tetapi bagi keluarga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, angka sekecil itu pun terasa seperti jarak yang tak terjangkau.

Ibunya bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima anak, sebuah perjuangan sunyi yang jarang dilihat dunia. Bahkan demi meringankan beban, sang anak tinggal bersama neneknya yang sudah lanjut usia di sebuah pondok sederhana.

Di dekat pondok itulah tubuh kecil itu ditemukan tergantung pada dahan pohon. Polisi menduga korban bunuh diri dan menemukan surat perpisahan yang ditulis dengan tangannya sendiri. Surat itu bukan sekadar tulisan anak kecil, melainkan jeritan sunyi tentang putus asa yang tak sempat didengar siapa pun. Tragedi ini pun disebut banyak pihak sebagai tamparan keras bagi kemanusiaan kita bersama.

Ketika Kemiskinan Membunuh Imajinasi

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa masa kanak-kanak adalah fase pembentukan harapan. Anak yang tumbuh dengan dukungan emosional dan kebutuhan dasar yang terpenuhi akan membangun rasa aman terhadap masa depan.

Sebaliknya, tekanan ekonomi ekstrem dapat merampas kemampuan anak untuk bermimpi sebelum ia sempat memahami arti hidup. Dalam kondisi seperti itu, keputusasaan bisa muncul jauh lebih dini daripada yang dibayangkan orang dewasa.

Seorang akademisi menyebut kemiskinan ekstrem sering kali membunuh imajinasi anak untuk bahagia. Anak-anak yang hidup dalam keterbatasan akut tidak lagi melihat masa depan sebagai ruang kemungkinan, melainkan lorong sempit tanpa cahaya. Ketika harapan hilang, keputusan tragis bisa tampak seperti satu-satunya jalan keluar yang mereka pahami.

Lebih menyedihkan lagi, anak-anak kini hidup di era arus informasi tanpa saringan. Paparan konten media sosial dapat memperkenalkan mereka pada pilihan-pilihan gelap sebelum kedewasaan emosi terbentuk. Tanpa pendampingan, imitasi terhadap tindakan berbahaya menjadi risiko nyata. Dan di titik inilah tragedi sosial bertemu dengan kegagalan perlindungan kolektif.

Negara, Sekolah, dan Kita Semua

Konstitusi Indonesia menegaskan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Kalimat itu terdengar mulia, tetapi tragedi ini memaksa kita bertanya: sejauh mana pemeliharaan itu benar-benar hadir? Jika seorang anak harus kehilangan nyawa hanya karena alat tulis, maka ada celah besar antara janji dan kenyataan. Bukan sekadar kegagalan individu, melainkan kegagalan sistemik.

Sekolah sering dipahami sebagai ruang harapan sosial. Di sanalah mimpi anak-anak seharusnya dilindungi, bukan runtuh diam-diam. Namun realitas menunjukkan bahwa pendidikan masih menyisakan jurang bagi mereka yang lahir dalam kemiskinan. Ketika biaya kecil saja menjadi beban, pendidikan berubah dari jembatan masa depan menjadi pengingat keterbatasan.

Masyarakat pun tak bisa sepenuhnya lepas dari tanggung jawab. Kita hidup berdampingan, tetapi sering gagal benar-benar melihat. Empati kerap kalah oleh kesibukan, dan kepedulian baru muncul setelah tragedi terjadi. Padahal satu perhatian kecil mungkin cukup untuk menyelamatkan satu kehidupan.

Surat yang ditinggalkan anak itu berisi kalimat sederhana namun menghancurkan hati. Ia meminta ibunya tidak menangis dan mengucapkan selamat tinggal. Kata-kata yang seharusnya belum dikenal oleh seorang anak usia sepuluh tahun. Dalam psikologi, pesan seperti ini menunjukkan keputusasaan mendalam yang telah lama dipendam.

Bayangkan betapa sunyinya ruang batin seorang anak hingga kematian terasa lebih ringan daripada hidup. Bukan karena ia tak mencintai ibunya, justru mungkin karena terlalu mencintai dan tak ingin menjadi beban. Cara berpikir seperti ini sering muncul pada individu dengan tekanan emosional tinggi dan rasa tak berharga. Dan ketika itu terjadi pada anak kecil, dunia seharusnya berhenti sejenak untuk berkaca.

Kesedihan terbesar bukan hanya pada kematian itu sendiri, melainkan pada kemungkinan bahwa tragedi ini bisa dicegah. Mungkin dengan bantuan kecil, perhatian guru, atau pelukan yang lebih lama. Hal-hal sederhana yang sering kita tunda karena merasa masih ada waktu.

Luka Kolektif yang Harus Disembuhkan

Peristiwa ini bukan sekadar kisah duka satu keluarga. Ia adalah cermin retak yang memantulkan wajah sosial kita sendiri. Di balik angka kemiskinan, ada mimpi anak-anak yang rapuh. Di balik statistik pendidikan, ada hati kecil yang berjuang diam-diam.

Jika tragedi ini hanya berlalu sebagai berita, maka kita sedang menuju kehilangan berikutnya. Tetapi jika ia menggerakkan empati, mungkin masih ada harapan. Harapan bahwa tak ada lagi anak yang merasa hidupnya lebih murah daripada harga buku tulis. Harapan bahwa mimpi sederhana tak lagi patah di ujung tali.

Kita sibuk berdebat sana-sini tapi lupa dengan anak ini, sibuk dengan mengenyangkan perut tapi tak diperhatikan sederhananya alat tulis untuk siswa yang kurang mampu, ke mana Pendidikan perginya? Apakah lupa tujuannya untuk mencerdaskan bangsa? Ini muhasabah Bersama terkhusus ma usia yang duduk di kursi nyamannya, Dan mungkin, di situlah kemanusiaan kita diuji bukan pada seberapa keras kita berduka, tetapi pada seberapa sungguh kita berubah.

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Sepucuk Surat untuk Raja Juli Antoni

Pernahkah kita bertanya, dari mana datangnya gelondongan kayu raksasa yang terbawa arus banjir di Aceh hingga Sumatera Barat? Mengapa setiap hujan besar selalu berujung pada...