
Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah dan Nasyiatul ‘Aisyiah yang melahirkan tokoh seperti Siti Walidah, Siti Munjiyah, Siti Bariyah, Elida Djazman, dan lain sebagainya. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) juga merupakan salah satu ortom yang mencetak kader-kader perempuan di kalangan Mahasiswa.
Namun, seiring berkembangnya zaman, IMM justru semakin menonjol aspek maskulinitasnya dengan minimnya profil kader perempuan yang sering disebut IMMawati ini. Bahkan harus menghadirkan bidang khusus membahas problem-problem keperempuanan yaitu Bidang IMMawati. Hanya saja dalam implementasinya, masih minim sekali dampak yang benar-benar menghasilkan profil konkrit IMMawati yang berani mengambil risiko, berkontestasi, dan bersuara tanpa ketakutan.
Saya mencoba merefleksikan proses pengeran perempuan di Pimpinan Cabang (PC) IMM Kota Solo. Dengan adanya Bidang IMMawati, Korps IMMawati, dan Diksuswati sebenarnya sudah menunjukkan concern IMM Surakarta terhadap keberadaan perempuan. Sedikit demi sedikit mulai bermunculan profil-profil IMMawati dengan berbagai identitas khususnya. Banyak juga yang mulai bersuara bahkan para IMMawan sering sekali memberi ruang untuk IMMawati bersuara, berkembang, dan berkontribusi lebih. Women support women juga saya rasa sudah massif dilakukan di berbagai forum perkaderan di IMM Surakarta dengan mulai bermunculan para ketua umum perempuan di dua periode terakhir, dari 14 komisariat se-Surakarta terdapat tiga ketua umum perempuan.
Namun, apa yang menyebabkan masih minimnya perempuan yang berani berkontestasi di IMM? Apalagi dalam dua tahun terakhir kontestasi Musyawarah Cabang (Musycab) di IMM Surakarta masih didominasi oleh laki-laki? Bahkan, di Musycab ke XLIII hanya terdapat dua calon formatur perempuan. Bahkan, pada Musycab ke XLIV justru tidak ada perempuan di daftar calon formatur? Mari kita analisis bersama.
Perkaderan Inklusif tapi Stigma Masih Patriarkis
Pengaderan di IMM sudah sangat terbuka baik untuk laki-laki maupun perempuan. Tapi, bukan berarti stigma patriarkis ini bisa hilang begitu saja. Saya sering menemukan forum-forum yang membahas ketimpangan gender yang berujung pada perdebatan yang tak ada habisnya. Kondisi fisik, psikologis, emosional, dan peran-peran yang tidak setara selalu ditabrakkan dengan kasus mayoritas, bukan dicari solusinya.
Perkaderan di tingkat pimpinan cabang seperti LAMO Madya, DAM, dan pengaderan tingkat komisariat seperti sekolah politik yang diadakan beberapa komisariat di IMM Surakarta juga menghadirkan all male speakers seakan tidak ada perempuan yang berkompeten untuk menjadi bagian dari pemateri di agenda pengaderan tersebut. Apapun alasannya, ini jelas bukti ketimpangan akibat stigma patriarkis yang sudah lama hidup di masyarakat, sekalipun perlahan sudah mulai memudar tapi tetap saja masih terasa ada ketimpangan.
Seharusnya IMM melalui diskusi-diskusi gender yang diadakan itu berfokus bagaimana menciptakan solusi untuk memberikan hak yang sama untuk keduanya. Nah, untuk menciptakannya, perlu peran dari kedua belah pihak baik laki-laki maupun perempuan. Tradisi maskulinitas organisasi yang bisa dibilang masih cukup kental di IMM menjadi hambatan bagi para IMMawati untuk mengambil peran terutama saat kontestasi politis seperti Musycab.
Fakta sejarah juga membuktikan bahwa PC IMM Kota Surakarta belum pernah memiliki ketua umum dan sekretaris umum perempuan. Hal ini memvalidasi bahwa memang masih sangat minim IMMawati yang mau dan siap untuk tampil untuk berkontestasi. Selain itu, faktor lainnya seperti politik jaringan, dukungan struktural, dan beban sosial perempuan juga mempengaruhi tingkat keberanian IMMawati untuk maju dan berkontestasi.
Lingkungan yang Tidak Ramah Perempuan
Selain stigma patriarkis yang merajalela di masyarakat, ruang-ruang yang diberikan oleh IMM seakan sulit untuk diciptakan ramah bagi perempuan seperti adanya asap rokok, rapat larut malam, dan habit lainnya yang sebenarnya berpotensi tidak ramah untuk semua kalangan. Apa karena yang merokok mayoritas laki-laki sehingga laki-laki tidak berhak mendapatkan ruang tanpa asap rokok? Ya enggak juga. Apa karena laki-laki lebih kuat begadang sehingga rapat larut malam hanya dinormalisasikan untuk laki-laki? Ya seharusnya tidak begitu.
Pernyataan ini muncul lagi-lagi karena kondisi tubuh laki-laki dan perempuan memang didesain oleh Tuhan berbeda. Hidup sehat itu hak keduanya baik sehat fisik maupun mental. Jika lingkungan itu tidak ramah perempuan hanya karena habit yang dianggap normal untuk laki-laki, maka angka harapan hidup panjang umur bagi laki-laki juga bisa menurun. Ini hanya tentang sistem pertahanan diri dan kepedulian sesama untuk menciptakan ruang yang lebih sehat serta ramah untuk semuanya tanpa menyiksa satu sama lain.
IMM seharusnya mulai menciptakan habit yang lebih sehat baik secara fisik maupun mental sehingga forum pengaderan semakin terasa ramah untuk semua kalangan baik pengaderan formal, kutural, maupun struktural. Karena cara berpikir, kecerdasan emosional, soft skill, maupun hard skill adalah hak belajar keduanya sehingga akan muncul kesetaraan peran di sana dan kondisi tubuh yang merupakan fitrah dari Tuhan tidak lagi disalahkan.
Menurut saya, ketiadaan IMMawati dalam calon formatur Musycab XLIV IMM Surakarta merupakan efek domino dari beberapa faktor yang sudah saya sebutkan di atas tadi. Walaupun begitu, kesadaran perempuan untuk berdaya dan bersuara juga perlu ditingkatkan agar ekosistem organisasi semakin inklusif untuk semua kalangan. Selain itu, pengaderan politik untuk perempuan juga harus mulai dimasifkan sehingga politik tidak tabu untuk perempuan. Kuota representasi perempuan juga harus mulai ditegaskan, mungkin minimal 30% seperti kuota perempuan pada partai politik agar suara perempuan tetap bisa dijaga keberadaannya.
Saya rasa, IMM Surakarta tidak kekurangan kader perempuan yang potensial. Hanya saja masih sedikit IMMawati yang mau dan siap untuk berani mengambil peran di ruang kontestasi, walaupun ada yang sudah vokal dan berani tampil tapi tetap masih dipertimbangkan untuk didukung berkontestasi. Semoga ini menjadi refleksi bagi IMM Surakarta untuk lebih aware lagi terhadap krisis peran perempuan yang terjadi.
Penulis adalah Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Surakarta Periode 2025/2026
Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka
Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...
Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)
Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...
Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain
Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...
Dingin…
Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...
Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas
Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...
Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...
Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...






