Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai tanda kembali kepada fitrah. Namun, di tengah gema takbir dan hangatnya silaturahmi, ada satu fenomena yang semakin terasa mengganggu: Lebaran berubah menjadi ajang pamer diri.
Rumah-rumah terbuka bukan lagi sekadar tempat bermaaf-maafan, tetapi sering kali menjadi panggung sosial yang penuh perbandingan. Siapa yang pakai baju paling mahal, siapa yang hidangannya paling mewah, siapa yang terlihat paling “sukses” semuanya diam-diam dinilai.
Lebaran yang seharusnya menyatukan hati, justru perlahan berubah menjadi ruang kompetisi yang tidak pernah diumumkan, tetapi sangat terasa.
Silaturahmi dalam Islam memiliki makna yang sangat dalam. Ia bukan sekadar kunjungan fisik, tetapi penyambung kasih sayang, penghapus dendam, dan penguat ukhuwah. Namun hari ini, silaturahmi sering kali kehilangan ruhnya.
Banyak orang datang ke rumah saudara bukan untuk benar-benar menyambung hubungan, tetapi sekadar memenuhi kewajiban sosial. Senyum dipaksakan, obrolan basa-basi diulang, dan hati tetap jauh.
Yang lebih ironis, setelah pulang, yang dibicarakan bukan kehangatan pertemuan, tetapi isi rumah orang lain. “Ternyata rumahnya sekarang besar ya,” atau “wah, anaknya sudah sukses semua.” Silaturahmi berubah menjadi observasi sosial yang penuh penilaian.
Padahal Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa silaturahmi adalah tentang hati, bukan tampilan.
Tradisi memakai baju baru saat Lebaran memang tidak salah. Ia bahkan menjadi simbol kegembiraan dan pembaruan diri. Namun, masalah muncul ketika baju baru tidak lagi sekadar simbol, tetapi menjadi alat untuk menunjukkan status sosial.
Di banyak tempat, Lebaran menjadi semacam “fashion show tahunan”. Orang merasa tidak percaya diri jika tidak memakai pakaian terbaiknya. Bahkan ada yang rela berhutang demi terlihat “layak” di hari raya.
Pertanyaannya sederhana tapi menusuk: apakah kita merayakan Idulfitri, atau sedang merayakan ego kita sendiri?
Lebih menyedihkan lagi, mereka yang tidak mampu sering kali merasa terpinggirkan. Anak-anak yang tidak punya baju baru merasa minder, orang tua merasa gagal, dan kebahagiaan Lebaran menjadi tidak merata.
Padahal Idulfitri seharusnya menjadi momen yang paling inklusif, di mana semua orang merasa sama di hadapan Tuhan.
Media Sosial: Panggung Baru Kesombongan
Jika dulu pamer hanya terjadi dalam lingkup terbatas, hari ini ia memiliki panggung yang jauh lebih luas: media sosial. Foto keluarga dengan outfit seragam, video rumah yang dihias mewah, hingga unggahan amplop THR semuanya dipertontonkan dengan bangga.
Tidak ada yang salah dengan berbagi kebahagiaan. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kebahagiaan itu berubah menjadi validasi sosial. Kita tidak lagi cukup bahagia dengan apa yang kita miliki, kecuali orang lain melihat dan mengakuinya.
Lebaran akhirnya tidak lagi menjadi momen spiritual, tetapi menjadi konten. Bahkan silaturahmi pun kadang terasa seperti latar belakang foto, bukan inti dari pertemuan.
Fenomena ini secara halus menggeser niat. Yang awalnya ingin berbagi, berubah menjadi ingin dipuji. Dalam Islam, riya adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Ia tidak terlihat, tetapi mampu merusak amal dari dalam. Ironisnya, riya sering kali datang dalam bentuk yang sangat halus termasuk dalam tradisi yang tampak baik seperti Lebaran.
Memberi THR bisa menjadi ibadah, tetapi juga bisa menjadi ajang pamer jika disertai niat ingin dipuji. Menyediakan makanan untuk tamu bisa menjadi amal, tetapi juga bisa berubah menjadi kompetisi sosial jika tujuannya adalah menunjukkan kemewahan.
Rasulullah Saw. pernah mengingatkan bahwa amal yang paling berbahaya adalah yang tercampur dengan riya. Karena ia membuat seseorang merasa sudah berbuat baik, padahal sebenarnya sedang mencari pengakuan manusia.
Lebaran yang seharusnya menjadi puncak keikhlasan setelah Ramadan, justru berisiko menjadi panggung terbesar bagi riya jika tidak dijaga dengan hati-hati. Idulfitri secara harfiah berarti kembali kepada fitrah kepada kesucian jiwa. Namun realitas hari ini justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Banyak orang kembali kepada kebiasaan lama: membandingkan diri, mencari pengakuan, dan mengejar citra.
Kita mungkin berhasil menahan lapar dan dahaga selama Ramadan, tetapi gagal menahan keinginan untuk dipuji saat Lebaran. Kita mungkin menahan diri dari amarah, tetapi tidak menahan diri dari kesombongan yang halus. Inilah ironi terbesar: Ramadan melatih kita untuk menundukkan ego, tetapi Lebaran justru menjadi ajang untuk membangunkannya kembali.
Lebaran yang Seharusnya
Lebaran yang sejati tidak membutuhkan kemewahan. Ia tidak diukur dari mahalnya pakaian atau banyaknya hidangan. Lebaran yang sejati hadir dalam hati yang ringan untuk memaafkan, dalam tangan yang tulus untuk berbagi, dan dalam jiwa yang tidak lagi haus akan pengakuan.
Silaturahmi yang tulus tidak membutuhkan dekorasi yang berlebihan. Ia cukup dengan kehadiran yang jujur dan niat yang bersih. Bahkan secangkir teh sederhana bisa terasa lebih hangat daripada hidangan mewah jika disertai ketulusan.
Mungkin sudah saatnya kita bertanya dengan jujur pada diri sendiri:
apakah kita benar-benar merayakan Idulfitri, atau hanya sedang memainkan peran dalam panggung sosial bernama Lebaran? Karena pada akhirnya, yang dinilai bukanlah apa yang terlihat oleh manusia, tetapi apa yang tersembunyi di dalam hati.
Dan bisa jadi, Lebaran yang paling bermakna bukanlah yang paling meriah, melainkan yang paling sunyi dari riya, dan paling dekat dengan keikhlasan.
Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026
Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...
Puasa Sepanjang Tahun
Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....
Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka
Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...
Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”
Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...
Muhammadiyah dan Rokok…
Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...
Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka
“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...





