Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Rivaldi Tamapedung, Editor: Sholahuddin
Kamis, 19 Maret 2026 12:23 WIB
Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai tanda kembali kepada fitrah. Namun, di tengah gema takbir dan hangatnya silaturahmi, ada satu fenomena yang semakin terasa mengganggu: Lebaran berubah menjadi ajang pamer diri.

Rumah-rumah terbuka bukan lagi sekadar tempat bermaaf-maafan, tetapi sering kali menjadi panggung sosial yang penuh perbandingan. Siapa yang pakai baju paling mahal, siapa yang hidangannya paling mewah, siapa yang terlihat paling “sukses” semuanya diam-diam dinilai.

Lebaran yang seharusnya menyatukan hati, justru perlahan berubah menjadi ruang kompetisi yang tidak pernah diumumkan, tetapi sangat terasa.

Silaturahmi dalam Islam memiliki makna yang sangat dalam. Ia bukan sekadar kunjungan fisik, tetapi penyambung kasih sayang, penghapus dendam, dan penguat ukhuwah. Namun hari ini, silaturahmi sering kali kehilangan ruhnya.

Banyak orang datang ke rumah saudara bukan untuk benar-benar menyambung hubungan, tetapi sekadar memenuhi kewajiban sosial. Senyum dipaksakan, obrolan basa-basi diulang, dan hati tetap jauh.

Yang lebih ironis, setelah pulang, yang dibicarakan bukan kehangatan pertemuan, tetapi isi rumah orang lain. “Ternyata rumahnya sekarang besar ya,” atau “wah, anaknya sudah sukses semua.” Silaturahmi berubah menjadi observasi sosial yang penuh penilaian.

Padahal Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa silaturahmi adalah tentang hati, bukan tampilan.

Tradisi memakai baju baru saat Lebaran memang tidak salah. Ia bahkan menjadi simbol kegembiraan dan pembaruan diri. Namun, masalah muncul ketika baju baru tidak lagi sekadar simbol, tetapi menjadi alat untuk menunjukkan status sosial.

Di banyak tempat, Lebaran menjadi semacam “fashion show tahunan”. Orang merasa tidak percaya diri jika tidak memakai pakaian terbaiknya. Bahkan ada yang rela berhutang demi terlihat “layak” di hari raya.

Pertanyaannya sederhana tapi menusuk: apakah kita merayakan Idulfitri, atau sedang merayakan ego kita sendiri?

Lebih menyedihkan lagi, mereka yang tidak mampu sering kali merasa terpinggirkan. Anak-anak yang tidak punya baju baru merasa minder, orang tua merasa gagal, dan kebahagiaan Lebaran menjadi tidak merata.

Padahal Idulfitri seharusnya menjadi momen yang paling inklusif, di mana semua orang merasa sama di hadapan Tuhan.

Media Sosial: Panggung Baru Kesombongan

Jika dulu pamer hanya terjadi dalam lingkup terbatas, hari ini ia memiliki panggung yang jauh lebih luas: media sosial. Foto keluarga dengan outfit seragam, video rumah yang dihias mewah, hingga unggahan amplop THR semuanya dipertontonkan dengan bangga.

Tidak ada yang salah dengan berbagi kebahagiaan. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kebahagiaan itu berubah menjadi validasi sosial. Kita tidak lagi cukup bahagia dengan apa yang kita miliki, kecuali orang lain melihat dan mengakuinya.

Lebaran akhirnya tidak lagi menjadi momen spiritual, tetapi menjadi konten. Bahkan silaturahmi pun kadang terasa seperti latar belakang foto, bukan inti dari pertemuan.

Fenomena ini secara halus menggeser niat. Yang awalnya ingin berbagi, berubah menjadi ingin dipuji. Dalam Islam, riya adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Ia tidak terlihat, tetapi mampu merusak amal dari dalam. Ironisnya, riya sering kali datang dalam bentuk yang sangat halus termasuk dalam tradisi yang tampak baik seperti Lebaran.

Memberi THR bisa menjadi ibadah, tetapi juga bisa menjadi ajang pamer jika disertai niat ingin dipuji. Menyediakan makanan untuk tamu bisa menjadi amal, tetapi juga bisa berubah menjadi kompetisi sosial jika tujuannya adalah menunjukkan kemewahan.

Rasulullah Saw. pernah mengingatkan bahwa amal yang paling berbahaya adalah yang tercampur dengan riya. Karena ia membuat seseorang merasa sudah berbuat baik, padahal sebenarnya sedang mencari pengakuan manusia.

Lebaran yang seharusnya menjadi puncak keikhlasan setelah Ramadan, justru berisiko menjadi panggung terbesar bagi riya jika tidak dijaga dengan hati-hati. Idulfitri secara harfiah berarti kembali kepada fitrah kepada kesucian jiwa. Namun realitas hari ini justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Banyak orang kembali kepada kebiasaan lama: membandingkan diri, mencari pengakuan, dan mengejar citra.

Kita mungkin berhasil menahan lapar dan dahaga selama Ramadan, tetapi gagal menahan keinginan untuk dipuji saat Lebaran. Kita mungkin menahan diri dari amarah, tetapi tidak menahan diri dari kesombongan yang halus.  Inilah ironi terbesar: Ramadan melatih kita untuk menundukkan ego, tetapi Lebaran justru menjadi ajang untuk membangunkannya kembali.

Lebaran yang Seharusnya

Lebaran yang sejati tidak membutuhkan kemewahan. Ia tidak diukur dari mahalnya pakaian atau banyaknya hidangan. Lebaran yang sejati hadir dalam hati yang ringan untuk memaafkan, dalam tangan yang tulus untuk berbagi, dan dalam jiwa yang tidak lagi haus akan pengakuan.

Silaturahmi yang tulus tidak membutuhkan dekorasi yang berlebihan. Ia cukup dengan kehadiran yang jujur dan niat yang bersih. Bahkan secangkir teh sederhana bisa terasa lebih hangat daripada hidangan mewah jika disertai ketulusan.

Mungkin sudah saatnya kita bertanya dengan jujur pada diri sendiri:
apakah kita benar-benar merayakan Idulfitri, atau hanya sedang memainkan peran dalam panggung sosial bernama Lebaran? Karena pada akhirnya, yang dinilai bukanlah apa yang terlihat oleh manusia, tetapi apa yang tersembunyi di dalam hati.

Dan bisa jadi, Lebaran yang paling bermakna bukanlah yang paling meriah,  melainkan yang paling sunyi dari riya, dan paling dekat dengan keikhlasan.

Share:

Berita Terbaru

Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan

Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....

Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah

Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...

Peta Mutu Pendidikan Kota Solo

Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....

Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing

Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...

Politeisme Politik Indonesia

Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...

Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...

Belajar Bernapas di Tengah Sesak

Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...

TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba

Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...

Sang Pencari Makna

“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...

Menolak Politeisme Politik

Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...

Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta

Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...