Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Atha Dzaky Ismail, Editor: Sholahuddin
Rabu, 15 April 2026 13:48 WIB
Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Atha Dzaky Ismail

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis apa yang berkecamuk di dalam benaknya saat itu. Tapi satu hal yang hampir pasti — ia sedang membawa beban yang terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Kita berduka. Tapi lebih dari sekadar berduka, kita perlu bicara.

Ada sebuah kesalahpahaman besar yang tumbuh subur di masyarakat kita, khususnya di kalangan pemuda Muslim. Bahwa mengeluh itu lemah. Bahwa menangis itu cengeng. Bahwa merasa hancur berarti iman sedang bermasalah. Padahal tidak begitu. Nabi Ayyub menangis dan merintih bertahun-tahun dalam penderitaannya. Nabi Yunus merasa sesak hingga berdoa dalam kegelapan perut ikan. Nabi Ibrahim merasakan kesepian luar biasa ketika harus meninggalkan istri dan anaknya di lembah yang tandus tanpa bekal yang cukup.

Mereka semua — para nabi pilihan Allah — pernah berada di titik yang paling gelap dalam hidup mereka. Al-Qur’an tidak menyebut mereka lemah. Al-Qur’an justru mengabadikan kisah mereka sebagai teladan sepanjang zaman. Jadi dari mana datangnya stigma bahwa seorang Muslim tidak boleh merasa lelah? Jawabannya mungkin ada pada cara kita memahami agama secara turun-temurun. Kita terlalu sering diajarkan untuk tampak kuat, sementara apa yang ada di dalam dibiarkan membusuk perlahan. Kita dibesarkan dengan ungkapan sabar yang kadang diucapkan tanpa empati, tanpa pelukan, tanpa usaha sungguh-sungguh untuk memahami apa yang sedang dirasakan orang lain.

Yang Al-Qur’an Katakan tentang Beban Jiwa

Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Ayat ini sering dikutip sebagai penghibur. Tapi mari kita renungkan lebih dalam. Allah yang Maha Tahu menegaskan bahwa ada batas kemampuan manusia. Ada titik di mana jiwa memang bisa kelelahan. Dan Allah mengakui itu — bukan menyalahkannya. Ini bukan sekadar kata-kata indah. Ini adalah pernyataan teologis yang sangat penting: manusia memiliki kapasitas yang terbatas, dan itu bukan aib. Itu fitrah.

Di surah lain, Az-Zumar ayat 53, Allah menyeru dengan nada yang terasa begitu hangat dan personal:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ

“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”

Perhatikan — ayat ini justru ditujukan kepada mereka yang merasa sudah terlalu jauh, terlalu berdosa, terlalu hancur untuk kembali. Bukan kepada orang yang sempurna. Allah menyapa justru mereka yang sedang berdiri di ujung keputusasaan. Seolah Allah mengenal betul perasaan itu, dan memilih untuk tidak pergi.

Kesehatan Mental adalah Urusan Agama

Saya pribadi percaya bahwa salah satu krisis terbesar yang dihadapi generasi muda Muslim hari ini bukan soal akidah atau fikih — melainkan soal bagaimana kita memperlakukan diri sendiri dan sesama yang sedang sakit jiwanya. Terlalu banyak pemuda yang datang ke masjid dengan hati yang remuk, lalu pulang dengan tambahan rasa bersalah karena dibilang “kurang bersyukur” atau “kurang salat”. Padahal yang mereka butuhkan bukan ceramah. Mereka butuh didengar. Mereka butuh merasa bahwa keberadaannya di dunia ini berarti. Islam sesungguhnya tidak pernah mengajarkan kita untuk meremehkan penderitaan orang lain. Rasulullah ﷺ adalah pendengar yang luar biasa. Beliau duduk bersama sahabat yang menangis. Beliau tidak langsung memberikan solusi — beliau hadir sepenuhnya. Dan kehadiran itu sendiri sudah menjadi obat yang luar biasa ampuhnya. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin juga membahas panjang lebar soal penyakit hati dan jiwa. Beliau tidak menyederhanakan masalah batin hanya dengan “perbanyak zikir” — beliau mengakui kompleksitas jiwa manusia dan menawarkan pendekatan yang menyeluruh. Ini bukti bahwa tradisi keilmuan Islam sejak dulu sudah memberi perhatian serius pada kesehatan jiwa.

Lelah itu Manusiawi, Menyerah itu Pilihan

Saya ingin bicara langsung kepada siapa pun yang sedang membaca ini dalam kondisi tidak baik-baik saja. Jika kamu sedang lelah — lelah berjuang, lelah berpura-pura baik-baik saja, lelah tersenyum di depan orang-orang yang tidak tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan — kamu tidak sendirian. Kelelahan itu tidak membuatmu lemah. Tidak membuatmu gagal sebagai manusia. Tidak membuatmu jauh dari Allah. Al-Qur’an surah Asy-Syarh menyebut dua kali dalam jarak yang sangat berdekatan: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Para ulama tafsir menjelaskan, pengulangan ini bukan kebetulan. Ini penegasan. Seolah Allah ingin kita benar-benar percaya — bahwa jalan buntu itu tidak ada. Yang ada hanya jalan yang belum terlihat, tikungan yang belum sampai. Tapi juga — dan ini sangat penting untuk digarisbawahi — bertahan bukan berarti harus sendirian. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan iman. Pergi ke psikolog bukan berarti tidak percaya kepada Allah. Minum obat untuk gangguan mental tidak berbeda dengan minum obat untuk sakit fisik. Tubuh bisa patah tulang. Jiwa pun bisa terluka. Keduanya butuh penanganan, bukan penghakiman.

Apa yang Bisa Kita Lakukan

Jika kamu adalah orang yang sedang baik-baik saja hari ini, peranmu tidak kalah penting dari mereka yang sedang berjuang. Perhatikan orang-orang di sekitarmu. Terkadang yang paling tenang di luar adalah yang paling berisik di dalam. Yang selalu tertawa di grup WhatsApp, bisa jadi menangis sendirian di kamarnya malam-malam. Tanyakan kabar dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar basa-basi. “Kamu baik-baik aja?” bukan pertanyaan basa-basi — itu bisa menjadi pintu. Jadilah ruang yang aman bagi orang lain untuk jujur, tanpa takut dihakimi, tanpa khawatir langsung dinasihati. Kadang orang tidak butuh solusi. Mereka butuh seseorang yang mau duduk dan berkata, “Aku di sini.” Jika ada seseorang di sekitarmu yang menunjukkan tanda-tanda putus asa — jangan abaikan. Jangan anggap lebay atau mencari perhatian. Duduklah bersamanya. Dengarkan tanpa agenda. Jika perlu, temani ia mencari bantuan profesional. Satu langkah kecil yang kamu ambil bisa menjadi perbedaan antara seseorang yang bertahan dan seseorang yang menyerah.

Penutup

Kematian seorang pemuda di ujung jembatan itu seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Cermin tentang bagaimana kita membangun komunitas, bagaimana kita berbicara tentang kesehatan mental, dan bagaimana kita menafsirkan ajaran agama — apakah sebagai beban tambahan yang menghimpit, atau sebagai pelukan yang menopang ketika kaki sudah hampir tidak kuat berdiri. Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menghukum jiwa yang lelah. Ia diturunkan sebagai syifa — penyembuh. Sebagai rahmah — kasih sayang yang tidak bersyarat. Sebagai cahaya bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan, bukan sebagai hakim yang menunggu dengan daftar kesalahan. Jiwa yang lelah bukan jiwa yang lemah. Jiwa yang lelah adalah jiwa yang masih berjuang. Dan selama masih ada yang berjuang, selalu ada alasan untuk berharap.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka

Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...

Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)

Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...

Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain

Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...

Dingin…

Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...

Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas

Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...

Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...

Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...

Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan

Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....

Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah

Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...

Peta Mutu Pendidikan Kota Solo

Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....

Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing

Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...

Politeisme Politik Indonesia

Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...