Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Kepala Sekolah, Lokomotif Kemajuan Sekolah

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 15 Juli 2024 00:01 WIB
Kepala Sekolah, Lokomotif Kemajuan Sekolah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Mohamad Ali

Kemajuan, kemandekan, ataupun kemunduran suatu sekolah (dan madrasah) sangat bergantung pada kapasitas kepemimpinan (leadhership) kepala sekolah dalam menahkodai guru dan tenaga kependidikan. Ibarat laju kereta api, lokomotif bergerak dan menggerakkan gerbang-gerbang lain untuk melaju menuju tempat tujuan. Apabila lokomotif mandek atau mogok, maka perjalanan kereta api terganggu dan rangkaian gerbong juga terhenti.

Demikian pula perjalanan suatu sekolah. Bila kepala sekolah tidak memiliki visi yang jelas, atau tidak berani mengingatkan teman-teman guru dan tenaga kependidikan yang tidak disiplin, maka perjalanan sekolah bisa terhenti, mengalami stagnasi. Bahkan mengalami kemunduran yang ditandai dengan terus merosotnya jumlah siswa.

Kesadaran akan pentingnya peran kepala sekolah dalam memajukan ataupun memundurkan sekolah benar-benar dipahami oleh seluruh anggota pimpinan Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo yang beranggotakan delapan (8) orang dan sebagian besar merupakan muka-muka baru, yaitu: Mohamad Ali, Supraptono, Fajar Kurniawan, Widi Wardoyo, Kartono, Harminto, Subandrio, dan Hakam Faruk. Kesadaran inilah yang memotivasi kita untuk memilih kepala sekolah yang benar-benar tangguh, visioner, dan humanis.

Keinginan untuk memilih kepala sekolah yang tangguh, visioner, dan humanis menghadapi tantangan yang serius di lapangan. Tantangan besar yang dihadapi adalah minimnya stok atau persediaan guru untuk dipilih, karena sejumlah guru senior banyak yang tertarik dan eksodus menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) yang dalam rentang waktu tiga tahun terakhir terus digencarkan oleh pemerintah tanpa menghiraukan kondisi sekolah swasta.

Baca juga: Orientasi Pengembangan Sekolah Muhammadiyah

Dihadapkan dengan pilihan yang sangat terbatas, Majelis Pendidikan berusaha memperbaiki sistem rekrutmen dan proses seleksi kepala sekolah. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya instrumen seleksi meliputi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, administrasi, dan portofolio, maka pada periode ini lebih disempurnakan dengan melihat kapasitas kepemimpinan dari sudut keilmuan. Kami bekerja sama dengan Biro Konsultasi dan Pemeriksaan Psikologi (BPKPP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Setelah lolos tahapan-tahapan itu, maka langkah selanjutnya adalah proses pemagangan ke sekolah-sekolah Muhammadiyah unggul baik di Solo maupun daerah lain.

Objektif dan Transparan

Sejak awal pimpinan Majelis Pendidikan memiliki komitmen, dalam proses rekrutmen kepala sekolah dilakukan secara objektif dan transparan dengan meminimalisir kepentingan-kepentingan subjektif-pribadi, ataupun tekanan-tekanan dari luar maupun dari dalam yang potensial mengganggu jalannya seleksi. Dalam pandangan Majelis Pendidikan, proses seleksi dan penetapan kepala sekolah adalah pertaruhan besar yang harus dipertanggungjawabkan bukan hanya di dunia ini, tetapi juga di hari akhir nanti.

Setelah penetapan maupun pelantikan kepala sekolah, pun tidak dibiarkan tetapi terus didampingi untuk menjamin perannya sebagai lokomotif kemajuan sekolah benar-benar berjalan. Proses pendampingan mulai dari proses perencanan, pelaksanaan, sampai evaluasi. Dengan cara demikian kepala sekolah di lingkungan sekolah Muhammadiyah sebagai lokomotif diharapkan dapat menahkodai laju perkembangan sekolah dengan kecepatan tinggi. Selain itu mereka mampu mengakselerasi kualitas pembelajaran dan layanan secara prima.

Kunci kemajuan sekolah terletak pada layanan prima dan kualitas pembelajaran.  Apabila hal demikian sudah menjadi habitus sekolah-sekolah Muhammadiyah, maka mereka akan dicari dan dirindukan siswa. Bukan malah sebaliknya, sekolah sibuk mencari siswa. Kepala sekolah berperan penting dalam mentransformasikan diri dari sekolah yang “sibuk mencari siswa” menjadi “sekolah yang dicari dan dirindukan siswa”.

Berita Terbaru

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka

“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...

Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton

Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...

Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu

Daftar IsiDakwah yang Kehilangan AkhlakKenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?Candaan Boleh, Tapi Jangan BerlebihanKrisis Ilmu di Tengah Budaya ViralDari Popularitas ke PencerahanKembali ke Akhlak dan HikmahFenomena...

MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup

Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...

Leave a comment