
Indonesia, dengan segala keindahan dan keanekaragaman hayatinya yang tak tertandingi nomor dua setelah Brazil (National Geographic, 2019), menghadapi tantangan serius dalam menjaga kelestarian lingkungannya akhir-akhir ini. Contohnya kebakaran di ekosistem savanna yang didominasi oleh padang rerumputan di Gunung Bromo. Negara ini, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, telah menjadi saksi perubahan dramatis dalam lingkungannya. Kerusakan hutan dan lingkungan, polusi air dan udara, serta perubahan iklim semakin mengancam keberlanjutan ekosistem di Indonesia.
Kehidupan seorang muslim tidak hanya terbatas pada aspek keagamaan, tetapi ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW juga tersirat untuk menekankan tanggung jawab manusia dalam menjaga ciptaan Allah dengan tidak merusaknya. Hal tersebut mencakup juga bertanggung jawab terhadap alam dan lingkungannya. Keberadaan pendidikan lingkungan termasuk sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupan modern saat ini, terlebih lagi jika menilik pada keterkaitannya dengan Islam dan Muhammadiyah.
Islam adalah agama yang sangat peduli terhadap lingkungan alam dan Muhammadiyah, yang merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, melalui keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-45 hingga ke-47 (Malang-Yogyakarta-Makassar), memiliki pandangan yang positif terhadap pendidikan lingkungan. Pandangan ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang mendorong umat Islam untuk menjadi pelindung dan pengelola bumi serta memahami betapa pentingnya menjaga alam semesta sebagai ciptaan Allah. Pendidikan lingkungan dalam Islam melibatkan pemahaman tentang hakikat lingkungan, tanggung jawab sebagai khalifah (pengelola) bumi, dan pentingnya pelestarian alam.
Hakikat lingkungan dalam konteks Islam merujuk pada terpenuhinya “hak-hak alam semesta” yang harus dihormati oleh manusia, terutama mencakup menjaga keseimbangan dan tidak mengalami kerusakan akibat tindakan manusia. Ini mencakup tindakan seperti menjaga kebersihan, menghindari pemborosan, dan menghormati makhluk hidup lainnya. Dalam kebijakannya, Muhammadiyah telah memasukkan pendidikan lingkungan dan mengintegrasikannya ke dalam kurikulum sekolah dan lembaga pendidikan yang mereka kelola. Siswa diajarkan mengenai konsep-konsep lingkungan dalam Islam (aspek spiritual), seperti:
- Amanah (tanggung jawab), Allah mengingatkan manusia bahwa alam semesta ini adalah ciptaan-Nya dan manusia bertanggungjawab dan berperan untuk merawat dan bukan merusaknya (Al Baqarah (2):164 dan Al Baqarah (2):205).
- Tauhid (keesaan Allah), kepercayaan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan alam semesta dan segala isinya, karena itu menjaga dan merawat ciptaan-Nya (menaati ketentuan/perintah-Nya) merupakan bagian dari iman dalam tauhid (Ali Imran (3):102).
- Fitrah (keberadaan alam semesta), Islam mengajarkan, alam semesta dan kondisi yang ada telah diciptakan dengan seimbang dan harmonis (Al-Waqi’ah (56):7-8).
- Larangan pemborosan dan bijak dalam penggunaan, utamanya dalam hal sumberdaya alam. Karena muslim diajarkan untuk menghindari melakukan hal-hal yang berlebihan (Al-An-am (6):141).
- Rahmatan lil alamin, Islam bukan hanya untuk satu atau komunitas tertentu tetapi untuk seluruh umat manusia, seluruh makhluk hidup, dan bahkan alam semesta seluruh ciptaan-Nya (Al Anbiya (21):107).
Tangungjawab Manusia
Selain melibatkan aspek spiritual, pendidikan lingkungan dalam lingkup Muhammadiyah juga berperan dan ambil bagian penting dalam membentuk karakter siswa serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang tanggung jawab manusia terhadap alam kedepannya. Muhammadiyah telah lama mendedikasikan diri untuk pendidikan dan kesejahteraan umat Islam. Pendidikan lingkungan merupakan bagian integral dari visi Muhammadiyah dalam menciptakan generasi muslim yang peduli terhadap alam. Karena Muhammadiyah ingin berperan sebagai pionir model dalam praktik lingkungan yang berkelanjutan.
Pendidikan lingkungan yang diberikan oleh Muhammadiyah melalui kegiatan pelaksanaan yang dilakukan oleh Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah ataupun dari institusi pendidikan Muhmmadiyah juga mencakup tindakan nyata dan melibatkan anggota beserta masyarakat umum, seperti kegiatan penanaman pohon, program daur ulang, dan kegiatan kebersihan lingkungan. Hal ini bertujuan untuk mengubah pemahaman menjadi tindakan nyata yang membantu melindungi bumi. Bagi seorang muslim, pendidikan lingkungan yang didasarkan pada nilai-nilai Islam adalah jalan kehidupan yang utuh.
Keterkaitan pendidikan lingkungan, Islam, dan peran Muhammadiyah dalam kehidupan seorang muslim adalah sebuah jalan yang membimbing menuju kehidupan yang seimbang dan bermanfaat. Ini bukan hanya tentang menjaga alam semesta, tetapi juga tentang menjaga nilai-nilai Islam dalam tindakan sehari-hari. Dengan pendidikan lingkungan yang berakar dalam Islam dan dukungan dari organisasi seperti Muhammadiyah, seorang muslim dapat menjadi agen perubahan yang positif untuk bumi dan umat manusia secara keseluruhan.
Sumber : Buletin Tajdid Pendidikan MPI PDM Solo, edisi 9/2023
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...





