“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan
Kutipan di atas adalah kalimat yang tertulis di buku Krisis Kebebasan karya Albert Camus. Sebuah kalimat epik dari filsuf terkemuka di Prancis kala itu. Ia seakan-akan menantang sebuah kehidupan, dengan kata absurd juga tiada makna. Manusia terlahir, kemudian dikutuk dengan kebebasan yang ia punya. Manusia lahir, kemudian mencari makna yang telah ada.
Absurditas dan Pergulatan Manusia Modern
Kehidupan yang kini kita jalani, telah menjelma bagai sungai besar dengan arus deras yang akan membawa kita entah ke mana. Kebimbangan dan keraguan telah hinggap di segenap diri manusia. Di tengah gemerlap kehidupan modern, manusia dituntut untuk bersaing dalam segala hal. Dalam pekerjaan, mereka berlomba-lomba dalam hal keuangan dan kemewahan, dalam pendidikan mereka berlomba-lomba dalam peringkat juga ketenaran di kelas, dalam rumah tangga, mereka berlomba-lomba untuk membuktikan siapa yang paling sukses.
Modernitas telah menyeret manusia dalam pergulatan batin tiada henti juga absurditas yang telah lama menyelimuti. Manusia kini, hidup bukan untuk mencari makna atau sesuatu untuk diperjuangkan, melainkan untuk bertahan demi memenuhi kebutuhan yang terus meningkat di era modern, sehingga tidak mungkin untuk menemukan suatu arti yang paling bermakna dalam menjalani kehidupan.
Pergulatan manusia di era modern seringkali dimanfaatkan oleh para elite untuk melanggengkan kekuasaannya juga bisnis yang ia jalankan. Kenapa bisa terjadi seperti itu? karena manusia di era modern tidak tahu menahu apa makna, juga manfaat dari kehidupannya. Meskipun manusia di era modern ini tampak gagah juga cerdas, namun di baliknya ada variabel lain yang mengontrol segala lini kehidupannya. Terlihat begitu buruk dan naif, namun seperti ini lah ralitanya.
Kebebasan sebagai Kutukan Eksistensial
Jean-Paul Sartre, filsuf asal Prancis, pernah menggagas teori tentang eksistensialisme. Dalam teori tersebut ia menyebutkan bahwa; “manusia dikutuk untuk bebas” (man is condemned to be free). Sekilas kalimat ini menimbulkan suatu keanehan dan kontradiksi. Bukankah kebebasan itu adalah anugerah bukan kutukan? Bukankah dengan bebas manusia bisa memilih dan menjalani kehidupan yang ia sukai?
Kebebasan dalam pandangan eksistensialisme bukan sekadar hak untuk memilih, melainkan sebuah kenyataan mendasar yang melekat pada manusia. Manusia dianggap memiliki kebebasan radikal, yakni kebebasan penuh untuk menentukan pilihan, sikap, dan tindakannya tanpa dikendalikan oleh takdir, norma mutlak, maupun hakikat bawaan yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam konsep ini, eksistensi mendahului esensi; manusia hadir terlebih dahulu ke dunia, lalu membentuk jati dirinya melalui tindakan yang ia pilih sendiri. Dengan demikian, manusia menjadi pencipta makna atas hidupnya sendiri, bukan sekadar menjalani peran yang sudah digariskan.
Namun, kebebasan itu justru disebut sebagai kutukan karena manusia tidak pernah meminta untuk dilahirkan bebas. Ia “terlempar” ke dalam kehidupan dan dipaksa menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa pedoman absolut yang benar-benar pasti. Dari sinilah muncul tanggung jawab penuh atas setiap keputusan yang diambil. Manusia tidak dapat menyalahkan Tuhan, nasib, ataupun lingkungan atas pilihan hidupnya. Kesadaran bahwa dirinya sepenuhnya bertanggung jawab atas hidup yang dijalani melahirkan kecemasan eksistensial, yakni rasa takut, gelisah, sekaligus keterasingan ketika berhadapan dengan kebebasan yang tak memiliki batas pasti.
Mencari Makna di Tengah Kehampaan
Acuh tak acuh untuk memaknai kehidupan akan menimbulkan kehampaan dalam menjalaninya. Kehampaan itu juga akan menimbulkan ketersesatan dalam kehidupan itu sendiri. Dalam aliran-aliran filsafat, menyebutkan pentingnya akan pencarian makna dalam kehidupan. Seperti; eksistensialisme, nihilisme, juga absurdisme yang dibahas dalam tulisan ini. Kemudian timbullah suatu pertanyaan, seberapa penting kebermaknaan dalam menjalani kehidupan?
Mencari makna dalam kehidupan sangatlah penting. Mengapa seperti itu, karena dalam kehidupan manusia yang serba absurd ini, terdapat berbagai macam makna di baliknya. Tanpa disadari makna itu telah mengerumuninya sejak ia lahir. Tapi makna itu tidak datang begitu saja kepada manusia, ia harus dicari dan senantiasa diusahakan.
Usaha dalam menemukan makna inilah yang menjadikan sosok manusia menjadi penting. Tanpanya makna tidak akan ada, karena sejatinya manusia adalah sang pencari makna.
Albert Camus dan Pemberontakan atas Kehidupan
Seperti dalam kutipan paling atas dalam tulisan ini, aku (manusia) adalah yang paling berarti dalam kehidupan ini, makna tidak akan terlahir tanpa adanya manusia. Manusia menjalai kehidupan dengan benar karena dibaliknya ada makna yang senantiasa menemaninya.
Seperti contoh; ketika manusia dalam suatu perjalanan, kemudian melihat orang gelandangan yang tak terurus di pinggir jalan, hatinya akan tersentuh, batinnya akan memberontak untuk ikut serta dalam menolong gelandangan itu. Makna dalam konteks ini adalah tolong menolong antar-sesama manusia, karena manusia adalah makhluk sosial. Namun, jika manusia itu tidak pernah ada, maka tiada pula makna yang membersamainya. Inilah yang dimksudkan oleh Albert Camus sebagai makna yang paling berarti yakni manusia.
Bagi Albert Camus, kehidupan memang dipenuhi absurditas, yakni pertentangan antara harapan manusia untuk menemukan makna dengan kenyataan dunia yang sering kali sunyi dan tidak memberi jawaban apa pun. Namun, kesadaran atas absurditas itu bukan alasan untuk menyerah ataupun tenggelam dalam keputusasaan. Camus justru mengajarkan sikap pemberontakan terhadap kehampaan hidup. Pemberontakan yang dimaksud bukan perlawanan dengan kekerasan, melainkan keberanian manusia untuk tetap hidup, berpikir, mencipta, dan mencari arti meskipun dunia tampak tanpa tujuan. Dalam kondisi itulah manusia menunjukkan martabatnya; ia sadar hidup tidak selalu memberikan kepastian, tetapi tetap memilih berjalan, mencintai, dan memberi makna pada keberadaannya sendiri.
Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...
Menolak Politeisme Politik
Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...
Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta
Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...
Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku
“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...
Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental
Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...
Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah
Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...
Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia
Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...
Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone
Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...
Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026
Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...
Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan
Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...
Puasa Sepanjang Tahun
Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...







