Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Soleh Amini Yahman, Editor: Sholahuddin
Minggu, 12 April 2026 12:56 WIB
Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Soleh Amini Yahman. [Dok. pribadi].

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan yang menghujam batin  “Apakah ini cara Tuhan menghukumku atas dosa-dosa masa lalu?”.

Pandangan bahwa penyakit adalah azab sering kali menghantui, namun jika kita menyelam lebih dalam, kita akan menemukan bahwa di balik rintihan sakit, terdapat narasi kasih sayang yang sangat luar biasa. Secara medis, penyakit kronis degeneratif seperti diabetes atau hipertensi adalah bahasa tubuh yang paling jujur. Tubuh kita layaknya sebuah mesin yang memiliki manual pengoperasian. Jika kita memasukkan bahan bakar yang salah, semisal terlalu banyak gula atau kurang gerak, maka sistem akan aus. Ini adalah hukum kausalitas murni, sebuah ketetapan alam atau sunnatullah. Namun, muncul pertanyaan filosofis yang lebih dalam: Jika Tuhan memang Maha Pengasih, mengapa Dia mengadakan sakit bagi hamba yang dicintai-Nya?

Menganggap penyakit sekadar “azab” atau hukuman karena ingkar pada Tuhan rasanya terlalu menyederhanakan kasih sayang-Nya. Sebab, kasih sayang Tuhan tidak selalu berbentuk kenyamanan fisik. Terkadang, cinta-Nya hadir dalam bentuk “Sistem Keamanan”. Tanpa rasa sakit, manusia akan menjadi makhluk yang tidak terkendali. Penyakit hadir sebagai “rem” biologis agar kita tidak hancur oleh kelalaian kita sendiri. Ia adalah alarm amanah yang mengingatkan bahwa tubuh ini hanyalah titipan yang harus dijaga.

Lebih jauh lagi, sakit adalah sebuah proses purifikasi atau pembersihan. Layaknya emas yang harus dibakar dalam api panas untuk memisahkan kotoran agar menjadi murni dan berkilau, penyakit sering kali menjadi “jalur cepat” bagi seorang hamba untuk membersihkan noda spiritual seperti kesombongan dan keras hati yang mungkin tidak bisa dibasuh hanya dengan ibadah ritual biasa. Tuhan ingin hamba-Nya kembali kepada-Nya dalam keadaan seringan dan sebersih mungkin.

Sakit juga merupakan cara Tuhan memecah ilusi keabadian. Saat sehat, manusia sering kali merasa berkuasa dan lupa pada hakikat keberadaannya yang ringkih. Penyakit “memaksa” kita untuk menanggalkan kesombongan dan kembali berdialog mesra dengan Sang Pencipta.

Dalam sunyinya ruang perawatan, setiap tarikan napas berubah menjadi dzikir, dan setiap rintihan menjadi bentuk kepasrahan yang tulus. Di sinilah kasih sayang-Nya bekerja: Dia tidak membiarkan hamba-Nya tersesat dalam kelalaian duniawi, sehingga Dia memberikan “undangan” berupa sakit agar kita kembali pulang ke pelukan-Nya.

Jika kita melihat dari perspektif kekekalan, penderitaan yang bersifat sementara di dunia ini adalah investasi untuk kedudukan yang tinggi di akhirat sesuatu yang mungkin tidak bisa dicapai hanya melalui amal salat kita. Secara spiritual, ada “buah” yang hanya bisa tumbuh di musim hujan (kesedihan), dan tidak bisa tumbuh di musim panas (kebahagiaan).

Jadi, ketika penyakit itu menyapa, jangan terburu-buru merasa sedang dikutuk. Penyakit bukan hadir untuk menghancurkan, melainkan untuk mendewasakan jiwa, menghapus beban dosa, dan melatih empati. Penyakit adalah pengingat bahwa sehat itu mahal, namun kedekatan dengan Sang Pencipta yang lahir dari sebuah kesabaran jauh lebih berharga. Pada akhirnya, menjaga kesehatan adalah bentuk syukur atas amanah, sementara menerima ketetapan sakit dengan sabar adalah bentuk cinta kita kembali kepada Sang Pemilik Nyawa. Bagi saudaraku yang sedang sakit semoga Allah mengaruniakan sabar, dan dengan kesabaran itu semoga Allah hadiahkan kesembuhan dengan kesembuhan yang sempurna, sembuh dengan tidak meninggalkan sakit lagi. Syafakallah. Amin

Penulis adalah psikolog, dosen Fakultas Psikologi UMS

Berita Terbaru

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...