Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan yang menghujam batin “Apakah ini cara Tuhan menghukumku atas dosa-dosa masa lalu?”.
Pandangan bahwa penyakit adalah azab sering kali menghantui, namun jika kita menyelam lebih dalam, kita akan menemukan bahwa di balik rintihan sakit, terdapat narasi kasih sayang yang sangat luar biasa. Secara medis, penyakit kronis degeneratif seperti diabetes atau hipertensi adalah bahasa tubuh yang paling jujur. Tubuh kita layaknya sebuah mesin yang memiliki manual pengoperasian. Jika kita memasukkan bahan bakar yang salah, semisal terlalu banyak gula atau kurang gerak, maka sistem akan aus. Ini adalah hukum kausalitas murni, sebuah ketetapan alam atau sunnatullah. Namun, muncul pertanyaan filosofis yang lebih dalam: Jika Tuhan memang Maha Pengasih, mengapa Dia mengadakan sakit bagi hamba yang dicintai-Nya?
Menganggap penyakit sekadar “azab” atau hukuman karena ingkar pada Tuhan rasanya terlalu menyederhanakan kasih sayang-Nya. Sebab, kasih sayang Tuhan tidak selalu berbentuk kenyamanan fisik. Terkadang, cinta-Nya hadir dalam bentuk “Sistem Keamanan”. Tanpa rasa sakit, manusia akan menjadi makhluk yang tidak terkendali. Penyakit hadir sebagai “rem” biologis agar kita tidak hancur oleh kelalaian kita sendiri. Ia adalah alarm amanah yang mengingatkan bahwa tubuh ini hanyalah titipan yang harus dijaga.
Lebih jauh lagi, sakit adalah sebuah proses purifikasi atau pembersihan. Layaknya emas yang harus dibakar dalam api panas untuk memisahkan kotoran agar menjadi murni dan berkilau, penyakit sering kali menjadi “jalur cepat” bagi seorang hamba untuk membersihkan noda spiritual seperti kesombongan dan keras hati yang mungkin tidak bisa dibasuh hanya dengan ibadah ritual biasa. Tuhan ingin hamba-Nya kembali kepada-Nya dalam keadaan seringan dan sebersih mungkin.
Sakit juga merupakan cara Tuhan memecah ilusi keabadian. Saat sehat, manusia sering kali merasa berkuasa dan lupa pada hakikat keberadaannya yang ringkih. Penyakit “memaksa” kita untuk menanggalkan kesombongan dan kembali berdialog mesra dengan Sang Pencipta.
Dalam sunyinya ruang perawatan, setiap tarikan napas berubah menjadi dzikir, dan setiap rintihan menjadi bentuk kepasrahan yang tulus. Di sinilah kasih sayang-Nya bekerja: Dia tidak membiarkan hamba-Nya tersesat dalam kelalaian duniawi, sehingga Dia memberikan “undangan” berupa sakit agar kita kembali pulang ke pelukan-Nya.
Jika kita melihat dari perspektif kekekalan, penderitaan yang bersifat sementara di dunia ini adalah investasi untuk kedudukan yang tinggi di akhirat sesuatu yang mungkin tidak bisa dicapai hanya melalui amal salat kita. Secara spiritual, ada “buah” yang hanya bisa tumbuh di musim hujan (kesedihan), dan tidak bisa tumbuh di musim panas (kebahagiaan).
Jadi, ketika penyakit itu menyapa, jangan terburu-buru merasa sedang dikutuk. Penyakit bukan hadir untuk menghancurkan, melainkan untuk mendewasakan jiwa, menghapus beban dosa, dan melatih empati. Penyakit adalah pengingat bahwa sehat itu mahal, namun kedekatan dengan Sang Pencipta yang lahir dari sebuah kesabaran jauh lebih berharga. Pada akhirnya, menjaga kesehatan adalah bentuk syukur atas amanah, sementara menerima ketetapan sakit dengan sabar adalah bentuk cinta kita kembali kepada Sang Pemilik Nyawa. Bagi saudaraku yang sedang sakit semoga Allah mengaruniakan sabar, dan dengan kesabaran itu semoga Allah hadiahkan kesembuhan dengan kesembuhan yang sempurna, sembuh dengan tidak meninggalkan sakit lagi. Syafakallah. Amin
Penulis adalah psikolog, dosen Fakultas Psikologi UMS
Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka
Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...
Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)
Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...
Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain
Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...
Dingin…
Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...
Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas
Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...
Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...
Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...







