Kabar menyenangkan sekaligus membanggakan dari SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo. Salah satu muridnya telah menorehkan prestasi dalam bidang literasi, dengan keberhasilannya menyelesaikan karya buku. Di usianya yang masih beliau, siswa yang bernama Hafizha Addina Aisy Syahri ini baru saja merampungkan bukunya yang ke sembilan.
Buku-bukunya sebagian besar adalah buku cerita, tetapi tentu bukan perkara sepele bisa konsisten menelurkan buku dalam rentang waktu yang masih belia tersebut. Butuh kemauan yang kuat dari yang bersangkutan dalam menumbuhkan proses kreatif di dalam dirinya. Menumbuhkan budaya literasi di kalangan anak-anak sekarang atau generasi Z menjadi tantangan yang tidak ringan. Apalagi di tengah godaan kehadiran teknologi informasi yang banyak menyajikan tontonan audio visual yang sekarang banyak dikonsumsi generasi muda kita karena mudah dan instan.
Kabar dari anak SMP Muhammaiyah PK Kottabarat Solo itu tentu menjadi kabar yang menyejukkan di tengah problematika literasi di tanah air. Misalnya, bangsa kita dinilai sebagai bangsa yang memiliki ketertinggalan dalam soal budaya baca dan menulis. Kita dikelompokkan dalam kelompok masyarakat yang terjebak pada budaya menonton. Kemudian, bangsa kita juga pernah menyandang predikat rendah untuk persoalan literasi. Indonesia pernah menempati ranking ke-62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi (baca, tulis), atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Itu kalau mengacu pada survei yang pernah dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019.
Dalam riset itu disebutkan, total jumlah bahan bacaan dengan total jumlah penduduk Indonesia memiliki rasio nasional 0,09. Artinya satu buku ditunggu oleh 90 orang setiap tahun, sehingga Indonesia memiliki tingkat terendah dalam indeks kegemaran membaca. Sementara standar Unesco, minimal 3 buku baru untuk setiap orang setiap tahun. Di negara Asia Timur seperti Korea, Jepang, China, rata-rata memiliki 20 buku baru bagi setiap orang setiap tahun. Kalau dari penilaian berdasarkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), skor Indonesia pada tahun 2022 sebesar 64,48 dari skala 1-100. Angka tersebut dinilai masih menyedihkan dan terus menjadi masalah nasional yang sangat memprihatinkan. Ini menjadi tantangan bagi negara.
Kabarnya, peringkat kita beranjak naik meski tetap saja berada di lapisan bawah untuk negara-negara yang memiliki budaya literasi. Masyarakat Indonesia masih terus dihakimi sebagai masyarakat yang rendah budaya bacanya. Budaya baca tak bisa dipisahkan dengan budaya tulis, atau sebaliknya. Orang yang biasa atau suka menulis sudah dipastikan akan memiliki budaya baca yang tinggi.
Modal Penting
Stigma rendahnya budaya literasi kita, sudah tentu menunjukkan rendahnya daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Maka butuh upaya kuat semua pihak khususnya yang bergerak di dunia pendidikan untuk membangun budaya literasi di kalangan generasi bangsa ini. Terutama peran negara yang memiliki jangkauan menyeluruh kepada masyarakat di tanah air dengan menghadirkan fasilitas bacaan dan kemudahan menulis.
Menjadi pertanyaan mendasar mengapa budaya membaca menulis di Indonesia rendah? Sementara, budaya literasi (membaca dan menulis) adalah modal penting dalam menciptakan generasi yang unggul. Mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki daya saing dimulai dari gerakan literasi, khususnya membaca. Dengan literasi tinggi akan bisa melahirkan manusia yang bisa berinovasi dan berdaya saing tinggi. Tanpa literasi tinggi tidak akan bisa menciptakan SDM yang inovatif dan kompetitif.
Tidak banyak generasi muda sekarang yang konsen terhadap tradisi menulis apalagi menulis buku. Maka apa yang dilakukan oleh siswa SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta dengan produktifnya menghasilkan buku, bisa menular kepada yang lain. Prestasi itu harus bisa menjadi pemnatik bagi yang lain. Lingkungan juga punya peran yang penting untuk membangun dan menjaga budaya literasi. Anak-anak harus kita didik untuk membiasakan diri dekat dengan budaya membaca dan menulis.
Baca juga: Akhlaqul Sosmediyah
Tradisi menulis buku juga semakin jarang dilakukan di kalangan wartawan. Padahal, mengutip omongan wartawan senior Boerhanuddin Mohammad (BM) Diah, buku adalah mahkota wartawan. “Bila membuat berita besar, seorang wartawan berumur sehari, karena esok ada berita besar lainnya. Jika menghasilkan headline artikel, ia berusia sepekan, karena pada pekan berikutnya muncul headline lain. Tapi, bila menulis buku, namanya akan abadi,” itulah pesan BM Diah. Maka membaca dan menulis buku juga jadi tantangan semua elemen masyarakat.
Organisasi Berkemajuan
Persyarikatan Muhammadiyah yang memiliki tradisi kecendekiawan yang tinggi terbukti dengan banyak perguruan tinggi, sekolah dan pesantren, maka harus bisa terus merawat tradisi literasi (baca dan tulis) di kalangan ummatnya. Apalagi, persyarikatan ini punya slogan yang mentereng sebagai organisasi yang terus mengedepankan berkemajuan. Maka budaya literasi dengan berbagai macam sarana harus dijaga, termasuk dengan sarana media dan teknologi informasi. Jangan justru malah mengesampingkan literasi yang berbasis teknologi kekinian serta media massa.
Membangun budaya literasi sejak dini merupakan dasar penentu keberhasilan selanjutnya. Selain meningkatkan daya saing SDM, budaya membaca dan menulis ternyata juga punya manfaat mencegah dari kepikunan, terutama menjalang usia manula. Membaca dan menulis juga bermanfaat membuat otak bekerja dengan baik. Salah satu mencegah kesehatan otak yang termurah dan mudah adalah dengan membaca serta menulis. Selain berdiskusi dan melukis. Saat kesehatan otak terjaga, akan membantu seseorang terhindar dari risiko pikun. Ini juga membuat seseorang terhindar dari masalah otak lain seperti penurunan kinerja otak atau melambatnya daya pikir. Seseorang yang menjaga kesehatan otaknya dengan baik juga berpotensi memiliki kebahagiaan yang baik dan terhindar dari stres.
baca juga: Siswa SMP Muhammadiyah PK Terbitkan Buku Kesembilan
Rendahnya indeks literasi mengakibatkan Indonesia menjadi rendah daya saingnya, rendah indeks pembangunan SDM-nya, rendah inovasinya, rendah income per kapitanya, hingga rendah rasio gizinya. Bahkan dengan kondisi tersebut dikhawatirkan mempengaruhi rendahnya indeks kebahagiaan warga Indonesia.
Maka, kalau Anda ingin bahagia, membaca dan menulislah. Begitu juga, kalau Anda ingin tidak mudah pikun, maka membaca dan menulislah. Selamat berbahagia dan tidak pikun!.
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...
Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…
Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...
Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah
Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...
Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara
Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...
Inovasi atau Mati
Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...
Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam
SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...






