Memasuki usia abad ke-2, Muhammadiyah punya komitmen memperkuat gerakan pemberdayaan, keberpihakan kepada kaum duafa dan mustad’afin atau kaum tertindas. Tak ketinggalan, penguatan gerakan kemanusiaan. Penguatan itu termuat dalam “Pokok Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua” hasil Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta tahun 2010.
Dalam pandangan mantan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hajriyanto Y. Thohari, persyarikatan mengusung gerakan “trisula baru” Muhammadiyah di usia 100 tahun kedua dalam perjalanannya. Trisula baru itu mewujud melalui lembaga amil zakat Lazismu, lembaga resiliensi kebencanaan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) serta Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM). Pada abad pertama, Muhammadiyah sesungguhnya juga mengusung trisula. Oleh Hajriyanto, hal itu disebutnya sebagai “trisula lama”. Tiga trisula lama itu berpusat pada gerakan pendidikan, kesehatan, dan dialog antaragama dan peradaban untuk kemerdekaan, keadilan sosial, dan perdamaian abadi.
Tentu kita tidak perlu terjebak pada segregasi antara “trisula lama” dan “trisula baru”. Kesemuanya merupakan gerakan persyarikatan untuk membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sesungguhnya gerakan keberpihakan kepada kaum duafa itu bukan hal baru bagi Muhammadiyah. Teologi Al Maun yang menjadi basis ideologi persyarikatan bagian dari gerakan pemberdayaan melalui pendidikan, sosial dan kesehatan yang sumbernya dari Q.S. Al Maun. Di surat itu menyeru kepada umat Islam untuk berpihak kepada anak yatim dan fakir miskin. Bahkan, orang-orang yang mengabaikan hak-hak mereka digolongkan sebagai orang yang “mendustakan agama”. Trisula baru merupakan ijtihad untuk menyempurnakan gerakan pemberdayaan yang dirintis persyarikatan sejak 1912. Ijtihad itu penting seiring perkembangan, kebutuhan, dan tuntutan zaman.
Baca juga artikel : Memahami Gerakan Sosial Muhammadiyah
Di Solo, kiprah “trisula baru” yang mewujud melalui Lazismu dan MDMC itu begitu nyata. Ribuan orang menerima manfaat langsung kehadiran dua organisasi itu. Lazismu Solo menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Pengumpulan dana baik dalam bentuk infak, zakat, sedekah maupun dana kebajikan lain selalu meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan melebihi target. Kita bisa memaknai kepercayaan warga Muhammadiyah maupun anggota masyarakat lainnya kepada Lazismu terus membaik. Hal ini menjadi modal sosial yang sangat baik untuk terus memacu kinerja Lazismu membersamai orang yang kurang beruntung.
Kesadaran Bersama
Demikian pula peran MDMC Solo sebagai lembaga resiliensi bencana milik persyarikatan. Setiap ada musibah bencana, baik di Kota Solo maupun di kawasan lain, MDMC selalu siap menerjunkan tim relawan untuk membantu para korban. Tidak terhitung berapa ribu orang yang berhasil diselamatkan relawan MDMC. Menariknya, organisasi ini tidak asal bekerja. MDMC bekerja sesuai prosedur secara profesional. Ini yang menyebabkan organisasi ini mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
Baca juga: Seminar Nasional Rakernas MPM
Sebagai lahan perjuangan yang relatif baru di Muhammadiyah Kota Solo, Lazismu dan MDMC tidak bisa bekerja sendirian. Butuh kolaborasi dan kesadaran bersama. Lazismu dan MDMC akan maju bila mendapatkan dukungan penuh dari semua stakeholders persyarikatan. Karena itu, Lazismu punya program untuk terus meningkatkan literasi zakat baik di kalangan Muhammadiyah maupun masyarakat umum. Kita berharap kesadaran warga untuk menyalurkan dana zakat, infak, sedekah kepada Lazismu juga terus meningkat. Lazismu bertekad menerapkan manajemen satu atap di semua tingkatan layanan Lazismu. Ini untuk menjamin akuntabilitas dan transparansi pengelolaan dana masyarakat, sekaligus menyesuaikan ketentuan perundang-undangan. Manajemen satu atap membutuhkan proses dan kesadaran pimpinan Muhammadiyah, majelis/lembaga, organisasi otonom, maupun amal usaha Muhammadiyah.
Kerja Kebencanaan
MDMC juga menerapkan program One Muhammadiyah, One Response (OMOR) yang akan menyatukan semua unsur di persyarikatan untuk terlibat dalam kerja-kerja kebencanaan. Ada pimpinan Muhammadiyah di segala tingkatan, ada Kokam, Tapak Suci, rumah sakit Muhammadiyah & ‘Aisyiyah, Hizbul Wathan, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), sekolah, perguruan tinggi, dan sebagainya akan bergerak bersama saat melakukan respons bencana. Tentu ini akan menjadi kekuatan luar biasa. MDMC akan menjadi leader untuk menyiapkan sistem, SDM maupun kelengkapan lainnya. Sedangkan relawan bisa dari unsur lain di Muhammadiyah-Aisyiyah maupun dari elemen anggota masyarakat lainnya. Sekali lagi, semua butuh kesamaan persepsi dan kesadaran bersama.
Mari kita satukan langkah memperkuat gerakan Lazismu dan MDMC. Bukan hanya untuk kepentingan Muhammadiyah, melainkan untuk kemanusiaan universal, tanpa batas. Insya Allah…
Sumber: Majalah Langkah Baru, edisi Maret-Juni 2024.
Turun ke Bawah, Rangkul Anak Muda
Proses pengaderan Persyarikatan di arus bawah, di Cabang dan Ranting, masih menjadi persoalan serius, khususnya di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Umumnya, pengurus...
Jangan Antikritik
Pesan jangan antikritik ini sampaikan Pak Marpuji Ali saat acara “Silaturahim dan Buka Bersama” yang diikuti oleh seluru GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Perguruan Muhammadiyah...
Kompak Menyongsong Kemajuan
Memasuki abad kedua perjalanannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa awal kelahirannya. Pada era Kiai Haji Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah kebodohan, kemiskinan, dan...
Selamat Datang SMP Muhammadiyah PKBS Kota Solo
Dalam AD/ART Persyarikatan Muhammadiyah tentang identitas organisasi disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan...
Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah
Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk...
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...







