Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Memahami Gerakan Sosial Muhammadiyah

Arif Yudistira, Editor: Sholahuddin
Rabu, 24 April 2024 18:44 WIB
Memahami Gerakan Sosial Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Arif Yudistira

Ada dialog pendek penuh makna. Dialog ini adalah dialog antara Kiai Dahlan dengan cantriknya. Dialog ini cukup populer, tetapi selalu aktual untuk mengajak kita bercermin untuk menggali makna keberagamaan kita. “Dalam kuliah subuh, berulangkali Kiai mengadjarkan tafsir surah Ma’un, hingga beberapa pagi tidak ditambah-tambah, Kiai! Mengapa peladjarannja tidak ditambah-tambah?” Pak H. Soedja’ bertanja. Kita sudah apal semua, Kiai”. Djawab pak Soedja’. “Kalau sudah apal, apa sudah kamu amalkan?”, tanja Kiai. ,”Apanja jang diamalkan? Bukankah surat Ma’un pun berulangkali kami batja untuk rangkapan Fatihah dikala kami salat?” Djawab Pak H. Soedja.”

“Bukan itu jang saja maksudkan. Diamalkan, artinya dipraktekkan, dikerdjakan. Rupanja saudara-saudara belum mengamalkannja. Oleh karena itu mulai pagi ini, saudara-saudara agar pergi berkeliling mentjari seorang miskin. Kalau sudah dapat, bawa pulanglah ke rumahmu masing-masing. Berilah mereka mandi dengan sabun jang baik, berilah pakaian jang bersih, berilah makan dan minum, serta tempat tidur di rumahmu. Sekarang djuga pengadjian saja tutup, dan saudara-saudara melakukan petundjuk-petundjuk saja tadi, djawab Kiai.” [Salam, Solichin, 1960 :79]

Siapa sangka, dialog sederhana ini yang menggerakkan murid Kiai Dahlan Dahlan melakukan perubahan dan gerakan sosial kemanusiaan melalui organisasi Muhammadiyah. Cerita singkat itu akan tetap dikenang dan terus dibincangkan, saat agama mampat tidak mampu menjawab soal-soal sosial kemanusiaan.

Dahlan kala itu ragu. Ia gelisah melihat masyarakatnya. Kaum papa semakin banyak, sementara belum ada gerakan sosial yang mampu menjawab soal-soal sosial kemanusiaan saat itu. Masyarakat terkungkung dalam kebodohan dan miskin (ilmu) pemahaman agama. Melalui Muhammadiyah,  Kiai Dahlan mendorong dan menginisiasi gerakan amal, gerakan sosial dan pendidikan yang terus berkembang hingga kini.

Islam memandang hubungan manusia dengan Allah, serta hubungan manusia dengan manusia sebagai satu kesatuan. Islam tidak memisahkan aspek ritual ibadah dengan amal sosial. Dalam firman Allah Surah Al-Baqarah ayat 43, Aqiimissolaah Waa tuzzakah , yang artinya, “Dan tegakkanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Ayat ini secara tersirat menegaskan, urusan sosial kemanusiaan lekat dan amat dekat dengan praktik ibadah [ritual]. Saleh individu, harus beriringan dengan saleh sosial, meminjam istilah Amien Rais—tauhid individu harus juga berimplikasi terhadap tauhid sosial.

Keindahan Islam yang tidak memisahkan aspek ritual dengan aspek sosial ini tercermin dalam hadis Rasul. Dikisahkan, ada seorang sahabat bertanya kepada Rasul, “Wahai Rasul Allah, orang yang bagaimana yang lebih dicintai oleh Allah?”, Beliau menjawab, “orang yang lebih dicintai oleh Allah adalah orang yang berguna bagi masyarakat dan bermanfaat bagi kepentingan umum.” [Khalid, Muhammad, 1984 :269]. Hadis di atas menyiratkan, ritual individu memang penting, tetapi kemuliaan hamba adalah yang mampu berdaya guna, bermanfaat, dan dirasakan perannya oleh orang lain. Gerakan sosial Muhammadiyah turut mengajak kita kepada kesalehan sosial yang membuat peran kita bisa dirasakan oleh orang lain.

Laku Agama, Laku Kemanusiaan

Derap langkah Muhammadiyah dalam mengamalkan Al Maun ini tidak bisa dilepaskan dari keadaan masyarakat kala itu. Kisah kemiskinan, penderitaan masyarakat kala itu terekam apik dalam Majalah Soeara Moehammadijah Edisi Oktober 1923. “Pada hari itoelah hati kaoem miskin terasa betoel atas nasibnja. Sebab meliat beberapa manoesia jang sepadan djoega dengan dirinja sama klihatan makan enak, dengan berpakaian serba bagoes, dan meliat djoega beberapa manoesia bersalaman dengan temannja, tapi si miskin pada hari itoe kebetulan minta bekal hidoepnja kepada PKO, dengan berpakaian serba sobek, dan klihatan sama koeroes-koeroes jang menambah kejakinan kita, kalau di dalam kesehari-harinja merika koerang tentang makannja”

Hadirnya Muhammadiyah kala itu sampai hari ini menjadi harapan dan penyelamat para kaum miskin. Muhammadiyah sejak pendiriannya memang menjadi gerakan sosial yang mumpuni yang menjadi pengejewantahan misi Islam.

Dua Sisi Mata Uang

Muhammadiyah dan misinya yang peduli terhadap kaum mustad’afin ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Di mana ada gerakan Muhammadiyah, di situ pula muncul gerakan kepedulian terhadap kaum mustad’afin.  Gerakan sosial Muhammadiyah yang lekat dengan kepeduliannya terhadap kaum mustad’afin kala itu tidak selalu mulus, bahkan ditertawakan.

“Ada peristiwa menarik saat Kiai Dahlan dan Kiai Sudja’ muridnya sedang berdialog dalam rapat Anggota Istimewa pada Juni 1920. Sudja’ waktu itu ditunjuk oleh Kiai Dahlan menjadi Ketua Bagian PKO. Ia ditanya Kiai Dahlan mengenai apa yang akan dilakukannya ketika mempimpin bagian ini. Sudja’ menjawab, “Hendak membangun hospital untuk menolong kepada umum yang menderita sakit.” Kiai bertanya lagi “Selain daripada itu hendak membangun apa lagi?”. Sudja’ menjawab, “Hendak membangun Armhuis (rumah miskin). Kemudian diajukan pertanyaan yang sama, Sudja’ menjawab “Hendak mendirikan weeshuis (rumah yatim). Jawaban Sudja’ justru disambut gelak tawa meremehkan dari para peserta rapat.

Sudja’ merasa tersinggung dan meminta izin kepada Kiai Dahlan berbicara. Sudja’ pun melontarkan ulang gagasan dan ajaran Kiai Dahlan mengenai Surah Al-Ma’un yang diiringi dengan optimisme terhadap gerakan Muhammadiyah.”

Bukan Gerakan Sinterklas

 Gerakan Muhammadiyah bukanlah gerakan ala sinterklas. Gerakan Muhammadiyah dalam bidang sosial adalah gerakan pemberdayaan. Gerakan Dahlan mencoba mengangkat kaum Dhuafa’ baik dari kebodohan maupun dari kemiskinan. Mengutip Jalaluddin Rakhmat [2002], “Dalam Al-Qur’an, yang dimaksud dhu’afa bukan saja lemah dari sisi materi tapi juga ilmu”.

Zakat, infak, sedekah, wakaf, dan aneka gerakan filantropi lain termasuk rumah sakit dan juga panti asuhan adalah motor penggerak gerakan sosial Muhammadiyah. Melalui organisasi dan pengorganisasian kekuatan sosial yang ada, Muhammadiyah telah menjelma sebagai gerakan sosial keagamaan yang masif, kokoh dan dinamis.

Pikiran Dahlan yang futuristik kala itu membuahkan gerakan amal dan gerakan sosial keagamaan yang diakui dunia, turut serta berkontribusi dalam mengentaskan kemiskinan, memberdayakan kaum dhuafa dan terus berkontribusi terhadap bangsa kita.

Ketua MPKSDI Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gantiwarno, Klaten.  Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...