Ada dialog pendek penuh makna. Dialog ini adalah dialog antara Kiai Dahlan dengan cantriknya. Dialog ini cukup populer, tetapi selalu aktual untuk mengajak kita bercermin untuk menggali makna keberagamaan kita. “Dalam kuliah subuh, berulangkali Kiai mengadjarkan tafsir surah Ma’un, hingga beberapa pagi tidak ditambah-tambah, Kiai! Mengapa peladjarannja tidak ditambah-tambah?” Pak H. Soedja’ bertanja. Kita sudah apal semua, Kiai”. Djawab pak Soedja’. “Kalau sudah apal, apa sudah kamu amalkan?”, tanja Kiai. ,”Apanja jang diamalkan? Bukankah surat Ma’un pun berulangkali kami batja untuk rangkapan Fatihah dikala kami salat?” Djawab Pak H. Soedja.”
“Bukan itu jang saja maksudkan. Diamalkan, artinya dipraktekkan, dikerdjakan. Rupanja saudara-saudara belum mengamalkannja. Oleh karena itu mulai pagi ini, saudara-saudara agar pergi berkeliling mentjari seorang miskin. Kalau sudah dapat, bawa pulanglah ke rumahmu masing-masing. Berilah mereka mandi dengan sabun jang baik, berilah pakaian jang bersih, berilah makan dan minum, serta tempat tidur di rumahmu. Sekarang djuga pengadjian saja tutup, dan saudara-saudara melakukan petundjuk-petundjuk saja tadi, djawab Kiai.” [Salam, Solichin, 1960 :79]
Siapa sangka, dialog sederhana ini yang menggerakkan murid Kiai Dahlan Dahlan melakukan perubahan dan gerakan sosial kemanusiaan melalui organisasi Muhammadiyah. Cerita singkat itu akan tetap dikenang dan terus dibincangkan, saat agama mampat tidak mampu menjawab soal-soal sosial kemanusiaan.
Dahlan kala itu ragu. Ia gelisah melihat masyarakatnya. Kaum papa semakin banyak, sementara belum ada gerakan sosial yang mampu menjawab soal-soal sosial kemanusiaan saat itu. Masyarakat terkungkung dalam kebodohan dan miskin (ilmu) pemahaman agama. Melalui Muhammadiyah, Kiai Dahlan mendorong dan menginisiasi gerakan amal, gerakan sosial dan pendidikan yang terus berkembang hingga kini.
Islam memandang hubungan manusia dengan Allah, serta hubungan manusia dengan manusia sebagai satu kesatuan. Islam tidak memisahkan aspek ritual ibadah dengan amal sosial. Dalam firman Allah Surah Al-Baqarah ayat 43, Aqiimissolaah Waa tuzzakah , yang artinya, “Dan tegakkanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Ayat ini secara tersirat menegaskan, urusan sosial kemanusiaan lekat dan amat dekat dengan praktik ibadah [ritual]. Saleh individu, harus beriringan dengan saleh sosial, meminjam istilah Amien Rais—tauhid individu harus juga berimplikasi terhadap tauhid sosial.
Keindahan Islam yang tidak memisahkan aspek ritual dengan aspek sosial ini tercermin dalam hadis Rasul. Dikisahkan, ada seorang sahabat bertanya kepada Rasul, “Wahai Rasul Allah, orang yang bagaimana yang lebih dicintai oleh Allah?”, Beliau menjawab, “orang yang lebih dicintai oleh Allah adalah orang yang berguna bagi masyarakat dan bermanfaat bagi kepentingan umum.” [Khalid, Muhammad, 1984 :269]. Hadis di atas menyiratkan, ritual individu memang penting, tetapi kemuliaan hamba adalah yang mampu berdaya guna, bermanfaat, dan dirasakan perannya oleh orang lain. Gerakan sosial Muhammadiyah turut mengajak kita kepada kesalehan sosial yang membuat peran kita bisa dirasakan oleh orang lain.
Laku Agama, Laku Kemanusiaan
Derap langkah Muhammadiyah dalam mengamalkan Al Maun ini tidak bisa dilepaskan dari keadaan masyarakat kala itu. Kisah kemiskinan, penderitaan masyarakat kala itu terekam apik dalam Majalah Soeara Moehammadijah Edisi Oktober 1923. “Pada hari itoelah hati kaoem miskin terasa betoel atas nasibnja. Sebab meliat beberapa manoesia jang sepadan djoega dengan dirinja sama klihatan makan enak, dengan berpakaian serba bagoes, dan meliat djoega beberapa manoesia bersalaman dengan temannja, tapi si miskin pada hari itoe kebetulan minta bekal hidoepnja kepada PKO, dengan berpakaian serba sobek, dan klihatan sama koeroes-koeroes jang menambah kejakinan kita, kalau di dalam kesehari-harinja merika koerang tentang makannja”
Hadirnya Muhammadiyah kala itu sampai hari ini menjadi harapan dan penyelamat para kaum miskin. Muhammadiyah sejak pendiriannya memang menjadi gerakan sosial yang mumpuni yang menjadi pengejewantahan misi Islam.
Dua Sisi Mata Uang
Muhammadiyah dan misinya yang peduli terhadap kaum mustad’afin ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Di mana ada gerakan Muhammadiyah, di situ pula muncul gerakan kepedulian terhadap kaum mustad’afin. Gerakan sosial Muhammadiyah yang lekat dengan kepeduliannya terhadap kaum mustad’afin kala itu tidak selalu mulus, bahkan ditertawakan.
“Ada peristiwa menarik saat Kiai Dahlan dan Kiai Sudja’ muridnya sedang berdialog dalam rapat Anggota Istimewa pada Juni 1920. Sudja’ waktu itu ditunjuk oleh Kiai Dahlan menjadi Ketua Bagian PKO. Ia ditanya Kiai Dahlan mengenai apa yang akan dilakukannya ketika mempimpin bagian ini. Sudja’ menjawab, “Hendak membangun hospital untuk menolong kepada umum yang menderita sakit.” Kiai bertanya lagi “Selain daripada itu hendak membangun apa lagi?”. Sudja’ menjawab, “Hendak membangun Armhuis (rumah miskin). Kemudian diajukan pertanyaan yang sama, Sudja’ menjawab “Hendak mendirikan weeshuis (rumah yatim). Jawaban Sudja’ justru disambut gelak tawa meremehkan dari para peserta rapat.
Sudja’ merasa tersinggung dan meminta izin kepada Kiai Dahlan berbicara. Sudja’ pun melontarkan ulang gagasan dan ajaran Kiai Dahlan mengenai Surah Al-Ma’un yang diiringi dengan optimisme terhadap gerakan Muhammadiyah.”
Bukan Gerakan Sinterklas
Gerakan Muhammadiyah bukanlah gerakan ala sinterklas. Gerakan Muhammadiyah dalam bidang sosial adalah gerakan pemberdayaan. Gerakan Dahlan mencoba mengangkat kaum Dhuafa’ baik dari kebodohan maupun dari kemiskinan. Mengutip Jalaluddin Rakhmat [2002], “Dalam Al-Qur’an, yang dimaksud dhu’afa bukan saja lemah dari sisi materi tapi juga ilmu”.
Zakat, infak, sedekah, wakaf, dan aneka gerakan filantropi lain termasuk rumah sakit dan juga panti asuhan adalah motor penggerak gerakan sosial Muhammadiyah. Melalui organisasi dan pengorganisasian kekuatan sosial yang ada, Muhammadiyah telah menjelma sebagai gerakan sosial keagamaan yang masif, kokoh dan dinamis.
Pikiran Dahlan yang futuristik kala itu membuahkan gerakan amal dan gerakan sosial keagamaan yang diakui dunia, turut serta berkontribusi dalam mengentaskan kemiskinan, memberdayakan kaum dhuafa dan terus berkontribusi terhadap bangsa kita.
Ketua MPKSDI Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gantiwarno, Klaten. Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






