Forum yang diselenggarakan oleh sejumlah elemen Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kota Solo, Jumat (16/5/2025), di Balai Muhammadiyah Kota Solo, sejatinya merupakan bagian dari dinamika positif dalam ekosistem gerakan civil society, khususnya dalam konteks keterlibatan pemuda Muhammadiyah dalam ruang-ruang strategis publik. Forum tersebut menjadi ruang perjumpaan gagasan lintas organisasi kepemudaan (okp) dan organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah, bukan sekadar ajang dukungan terhadap satu figur calon Ketua KNPI Kota Solo mendatang. Realitas itu harus dilihat sebagai momentum refleksi politik kebangsaan dari perspektif kader muda Islam.
Penting untuk dicatat bahwa keterlibatan organisasi otonom seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Nasyiatul Aisyiyah, dan Pemuda Muhammadiyah dalam forum tersebut merupakan ekspresi independen dan sah dalam sistem demokrasi. Organisasi-organisasi ini memiliki hak otonom untuk menentukan sikap politik berdasarkan pertimbangan internal dan kedekatan ideologis maupun visi kebangsaan yang sejalan. Maka, mengaitkan sikap mereka dengan tuduhan memanfaatkan situasi atau terjebak dalam politik transaksional adalah bentuk penyederhanaan yang tidak konstruktif.
Mengenai figur yang diusung dalam forum tersebut, meskipun tidak menjalani seluruh jenjang pengaderan secara struktural di Persyarikatan Muhammadiyah, tidak serta-merta hal tersebut menafikan kontribusinya dalam gerakan Muhammadiyah. Kita harus terbuka mengakui, kontribusi seseorang pada Muhammadiyah bisa hadir dalam banyak bentuk — baik melalui struktur formal maupun peran-peran substantif di lapangan. “Pengaderan” tidak boleh dipahami secara sempit sebagai serangkaian ritus formal belaka, tetapi juga mencakup proses internalisasi nilai dan loyalitas terhadap gerakan, yang terkadang tidak terikat pada struktur.
Adapun istilah “Muhammadiyah Dadakan” (Muda) yang digunakan untuk mendeligitimasi figur tertentu justru dapat menciptakan polarisasi dan eksklusivisme yang tidak sehat. Sebab dalam realitas gerakan, banyak kader yang baru bertumbuh dalam semangat ke-Muhammadiyahan di tengah jalan, tetapi kemudian menunjukkan integritas, loyalitas, dan kontribusi yang nyata. Apakah mereka lantas tidak layak diberi ruang hanya karena tidak melalui jalur yang sama dengan kita?
Posisi Beda IMM
Sikap Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang memilih posisi berbeda tentu sah secara organisatoris dan patut dihargai sebagai bagian dari dinamika berpikir kritis. Namun, seharusnya hal itu tidak digunakan untuk menggeneralisasi forum sebagai inkonsistensi ideologis atau bentuk penyalahgunaan identitas. Justru forum seperti ini harus dilihat sebagai ruang dialog untuk mempertemukan berbagai pandangan dalam semangat ukhuwah dan tajdid, bukan saling menyalahkan atau mempertentangkan narasi.
Tudingan bahwa forum ini menjadi preseden buruk karena “mengomodifikasi” nama Muhammadiyah terlalu jauh dan cenderung menciptakan ketakutan yang berlebihan. Muhammadiyah adalah gerakan besar dengan sistem yang kokoh. Justru tantangan kita hari ini adalah bagaimana membuka ruang partisipasi lebih luas bagi kader maupun simpatisan yang memiliki integritas dan kapasitas, bukan malah membangun tembok ideologis yang tinggi dan eksklusif.
Pada akhirnya, keterlibatan dalam ruang publik, termasuk dalam kontestasi politik, adaah bagian dari jihad sosial yang tidak bisa dihindari. Selama dijalankan dengan akhlak dan nilai dakwah, maka itu adalah jalan strategis untuk memastikan nilai-nilai Muhammadiyah masuk dalam kebijakan publik. Kita membutuhkan kader dan simpatisan yang bisa menjadi jembatan antara gerakan dan realitas kekuasaan, dengan tetap menjaga idealisme dan etika gerakan.
Oleh karena itu, mari kita lihat forum AMM bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari dinamika sehat dalam gerakan pemuda Islam. Perbedaan sikap adalah keniscayaan, namun semangat kolaborasi dan saling menghargai harus tetap dikedepankan. Jangan sampai perbedaan pendekatan dalam pengaderan menjadi alat untuk saling menghakimi, melainkan jadi pintu untuk memperluas jalan dakwah dan memperkuat posisi umat dalam ruang-ruang strategis bangsa.
Penulis adalah kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...






