
Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan dari orang yang pertama kali dipanggil “Ayah” dan “Ibu”. Anehnya, luka seperti ini sering kali tidak mendapat ruang untuk diceritakan karena masyarakat telah lama menganggap orang tua selalu benar, sementara anak harus selalu patuh.
Akibatnya, ketika seorang anak mencoba menceritakan penderitaannya, yang ia terima justru kalimat, “Kamu durhaka, bagaimanapun itu orang tuamu.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian anak, ia menjadi vonis yang mengubur seluruh perjuangan hidupnya.
Bayangkan seorang anak perempuan yang sejak kecil hanya memperoleh hak paling dasar untuk bertahan hidup. Ia disusui ketika bayi, tetapi setelah itu dibiarkan berjuang sendiri. Pendidikan tidak dibiayai, kebutuhan hidup tidak dipenuhi sebagaimana mestinya, bahkan masa depannya dianggap bukan tanggung jawab keluarga.
Ketika teman-temannya berangkat sekolah dengan dukungan orang tua, ia harus bekerja sambil belajar, mencari beasiswa, menahan lapar, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana dengan keringatnya sendiri.
Namun setelah berhasil berdiri di atas kakinya sendiri, ia tidak dipeluk sebagai anak yang membanggakan, melainkan dituduh sebagai anak durhaka karena mulai menjaga jarak dari luka yang selama bertahun-tahun menggerogoti jiwanya.
Lebih berat lagi ketika ayah telah meninggal dunia. Kehilangan seorang ayah bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga menyisakan ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi. Di sisi lain, hubungan dengan ibu terus dipenuhi konflik, tuntutan, atau kata-kata yang melukai.
Anak perempuan pertama itu akhirnya memikul dua beban sekaligus: kehilangan figur ayah dan mempertahankan kewarasannya di tengah hubungan yang terus menguras batin. Tidak semua orang mampu memahami betapa berat memikul luka seperti ini.
Padahal Islam adalah agama yang sangat menjunjung keluarga. Namun Islam juga agama yang menjunjung keadilan. Ketika kita hanya berbicara tentang kewajiban anak kepada orang tua, tetapi menutup mata terhadap kewajiban orang tua kepada anak, maka kita sedang membaca agama secara tidak utuh.
Islam Tidak Hanya Memerintahkan Anak Berbakti, tetapi Juga Orang Tua Berlaku Adil
Al-Qur’an memang memerintahkan anak untuk berbuat baik kepada orang tua. Allah berfirman:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra’: 23)
Ayat ini adalah fondasi birrul walidain yang tidak boleh diabaikan. Akan tetapi, Al-Qur’an juga memerintahkan orang tua untuk menjaga amanah anak-anak mereka. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang tua tidak hanya memiliki kehormatan, tetapi juga tanggung jawab. Mereka berkewajiban memberikan pendidikan, kasih sayang, perlindungan, dan nafkah sesuai kemampuan. Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari No. 893 dan Muslim No. 1829).
Artinya, orang tua kelak tidak hanya ditanya apakah anaknya berbakti, tetapi juga apakah mereka telah menjalankan amanah sebagai ayah dan ibu dengan adil.
Ketika Label “Anak Durhaka” Menjadi Bentuk Gaslighting
Dalam psikologi modern dikenal istilah gaslighting, yaitu bentuk manipulasi yang membuat seseorang meragukan pengalaman dan perasaannya sendiri. Dalam keluarga, gaslighting bisa muncul ketika anak yang telah lama diabaikan justru dipersalahkan karena mengungkapkan luka yang dialaminya.
Kalimat seperti, “Kamu terlalu sensitif,” “Ibu sudah melakukan yang terbaik,” atau “Kamu durhaka karena berani membantah orang tua,” sering kali membuat anak merasa bersalah atas penderitaan yang sebenarnya nyata.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Child Abuse & Neglect menunjukkan bahwa pengabaian emosional (emotional neglect) memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan, trauma kompleks, rendah diri, hingga kesulitan membangun hubungan yang sehat saat dewasa.
Dampaknya bahkan dapat bertahan lebih lama dibanding beberapa bentuk kekerasan fisik karena luka emosional sering tidak dikenali dan tidak pernah dipulihkan.
Yang menyakitkan, sebagian orang tua menggunakan dalil agama sebagai tameng untuk menghindari evaluasi diri. Potongan ayat tentang birrul walidain disebarkan tanpa diiringi pembahasan mengenai amanah orang tua kepada anak. Agama akhirnya berubah fungsi, bukan lagi menjadi cahaya yang menenangkan, tetapi menjadi alat untuk membungkam suara anak yang sedang terluka.
Padahal Rasulullah ﷺ pernah menegur seorang ayah yang memperlakukan anak-anaknya secara tidak adil. Beliau bersabda:
“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anakmu.”
(HR. Bukhari No. 2587 dan Muslim No. 1623).
Hadis ini menunjukkan bahwa keadilan dalam keluarga adalah kewajiban dua arah, bukan hanya kewajiban anak kepada orang tua.
Mengambil Jarak Sementara Bukan Berarti Durhaka
Dalam beberapa kondisi, psikolog menyarankan seseorang membangun healthy boundaries atau batas yang sehat ketika hubungan keluarga terus-menerus melukai kesehatan mental dan semua upaya komunikasi tidak membuahkan hasil. Mengambil jarak sementara bukan bertujuan menghukum orang tua, melainkan memberi ruang agar luka batin tidak semakin parah. Ini berbeda dengan memutus silaturahmi karena kebencian.
Bagi anak perempuan pertama dalam kisah ini, menjaga jarak mungkin bukan pilihan yang mudah. Ia tetap mencintai ibunya. Ia tetap mendoakan ibunya. Tetapi ia juga menyadari bahwa jika terus berada dalam hubungan yang penuh tekanan, ia bisa kehilangan kesehatan mental, kehilangan pekerjaan, bahkan kehilangan masa depannya. Maka menjaga jarak menjadi cara untuk bertahan hidup, bukan bentuk pembangkangan.
Dalam Islam, tetap menjaga adab kepada orang tua sangat penting. Walaupun seseorang harus mengambil jarak, ia tetap dapat mendoakan, berbicara dengan santun, membantu ketika mampu, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. Menjaga batas bukan berarti menghapus bakti; menjaga batas adalah usaha agar bakti yang dilakukan kelak lahir dari hati yang sehat, bukan dari rasa takut atau tekanan.
Yang paling penting, keputusan seperti ini sebaiknya diambil setelah mempertimbangkan kondisi secara matang dan, bila memungkinkan, berdiskusi dengan psikolog atau konselor yang memahami dinamika keluarga. Tidak semua konflik keluarga memerlukan jarak, tetapi ada kondisi tertentu ketika batas yang sehat justru menjadi jalan untuk mencegah luka semakin dalam.
Untuk Anak Perempuan yang Sedang Membaca Artikel Ini
Jika hari ini kamu adalah anak perempuan yang berjuang sendiri hingga menjadi sarjana, sementara sejak kecil merasa tidak memperoleh dukungan yang layak, ketahuilah bahwa rasa lelahmu adalah sesuatu yang nyata. Jika ayahmu telah meninggal dan kamu masih harus memikul beban emosional yang berat, tidak apa-apa jika sesekali kamu merasa rapuh. Menjadi kuat setiap hari bukanlah kewajiban manusia.
Jangan biarkan label “anak durhaka” membuatmu membenci dirimu sendiri. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh tuduhan orang lain, tetapi oleh bagaimana kamu tetap berusaha menjadi pribadi yang baik di hadapan Allah. Tetaplah mendoakan orang tuamu, tetaplah menjaga adabmu, tetapi jangan merasa berdosa karena ingin melindungi kesehatan mentalmu dari hubungan yang terus menyakitimu.
Ingatlah, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya (QS. Al-Baqarah: 286). Ayat ini bukan hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang kehidupan. Allah mengetahui luka yang tidak pernah mampu kamu ceritakan kepada siapa pun. Air mata yang tidak dipahami manusia tetap diketahui oleh-Nya.
Dan jika hari ini kamu memilih memberi jarak sementara agar dapat sembuh, lakukanlah dengan hati yang tetap dipenuhi doa, bukan kebencian. Sebab tujuanmu bukan memutus kasih sayang, melainkan memutus rantai luka agar suatu hari nanti, ketika Allah mempercayakanmu menjadi seorang ibu, anak-anakmu tidak perlu menulis kisah yang sama tentang rumah mereka.
Bukan semua anak yang memilih menjauh dan membenci orang tuanya. Sebagian hanya sedang berusaha menyelamatkan dirinya agar tidak kehilangan masa depannya.
Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)
Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...
Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain
Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...
Dingin…
Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...
Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas
Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...
Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...
Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...
Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...






