Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan

Pujiono, Editor: Alan Aliarcham
Jumat, 31 Juli 2026 14:08 WIB
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi membaca Al-Qur'an.

Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati. Fenomena ini menjadi renungan bagi kita semua, terutama para guru dan ustaz.

Rasulullah Saw. tidak hanya mewariskan ilmu, tetapi juga SOP (Standar Operasional Perilaku) kehidupan yang penuh adab. Beliau mengajarkan bagaimana seorang muslim menjalani setiap aktivitas dengan tuntunan yang mulia.

Ada adab sebelum tidur, adab bangun tidur, adab masuk dan keluar rumah, adab makan dan minum, adab mandi, adab berpakaian, adab bersiwak, adab bertamu, adab bermajelis, adab berbicara, adab kepada orang tua, adab kepada guru, adab kepada tetangga, hingga adab ketika berinteraksi dengan sesama.

Semua itu bukan sekadar sunnah yang indah dipelajari, tetapi warisan Nabi SAW yang seharusnya menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa hari ini banyak generasi yang kurang beradab? Tentu penyebabnya beragam. Namun, salah satu yang perlu kita renungkan adalah apakah kita sebagai guru, ustaz, dan orang tua sudah benar-benar menjadi teladan dalam mengamalkan adab-adab tersebut?

Peserta didik belajar bukan hanya dari apa yang kita sampaikan, tetapi lebih banyak dari apa yang mereka lihat. Mereka meniru cara kita berbicara, menghormati orang lain, berpakaian, duduk di majelis, menyapa, tersenyum, hingga bagaimana kita memuliakan Al-Qur’an dan masjid.

Guru bukan sekadar pengajar mata pelajaran, tetapi pendidik akhlak. Ustaz bukan hanya menyampaikan dalil, tetapi juga menghadirkan contoh nyata dalam kehidupan. Ketika guru menjaga adab, murid akan belajar adab. Ketika guru menghidupkan sunnah, murid akan mencintai sunnah.

Sekolah Islam tidak cukup hanya unggul dalam akademik. Keunggulan sejatinya adalah ketika setiap sudut sekolah dipenuhi budaya adab. Salam menjadi kebiasaan, senyum menjadi karakter, sopan santun menjadi identitas, dan akhlak mulia menjadi kebanggaan.

Mari kita mulai dari diri sendiri. Hidupkan kembali SOP warisan Rasulullah Saw. dalam setiap aktivitas. Jadilah guru yang menginspirasi melalui keteladanan, bukan sekadar nasihat.

Saatnya kita menjunjung tinggi adab. Karena ilmu tanpa adab kehilangan cahaya, sedangkan adab yang baik akan mengantarkan ilmu menjadi berkah. “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad)

Semoga Allah Swt. menjadikan kita para pendidik yang mampu mewariskan ilmu sekaligus adab kepada generasi penerus, sehingga lahir generasi yang saleh, cerdas, berprestasi, dan berakhlak mulia.

Berita Terbaru

Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka

Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...

Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)

Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...

Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain

Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...

Dingin…

Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...

Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas

Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...

Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...

Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...

Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah

Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...

Peta Mutu Pendidikan Kota Solo

Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....

Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing

Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...

Politeisme Politik Indonesia

Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...

Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...