Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati. Fenomena ini menjadi renungan bagi kita semua, terutama para guru dan ustaz.
Rasulullah Saw. tidak hanya mewariskan ilmu, tetapi juga SOP (Standar Operasional Perilaku) kehidupan yang penuh adab. Beliau mengajarkan bagaimana seorang muslim menjalani setiap aktivitas dengan tuntunan yang mulia.
Ada adab sebelum tidur, adab bangun tidur, adab masuk dan keluar rumah, adab makan dan minum, adab mandi, adab berpakaian, adab bersiwak, adab bertamu, adab bermajelis, adab berbicara, adab kepada orang tua, adab kepada guru, adab kepada tetangga, hingga adab ketika berinteraksi dengan sesama.
Semua itu bukan sekadar sunnah yang indah dipelajari, tetapi warisan Nabi SAW yang seharusnya menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa hari ini banyak generasi yang kurang beradab? Tentu penyebabnya beragam. Namun, salah satu yang perlu kita renungkan adalah apakah kita sebagai guru, ustaz, dan orang tua sudah benar-benar menjadi teladan dalam mengamalkan adab-adab tersebut?
Peserta didik belajar bukan hanya dari apa yang kita sampaikan, tetapi lebih banyak dari apa yang mereka lihat. Mereka meniru cara kita berbicara, menghormati orang lain, berpakaian, duduk di majelis, menyapa, tersenyum, hingga bagaimana kita memuliakan Al-Qur’an dan masjid.
Guru bukan sekadar pengajar mata pelajaran, tetapi pendidik akhlak. Ustaz bukan hanya menyampaikan dalil, tetapi juga menghadirkan contoh nyata dalam kehidupan. Ketika guru menjaga adab, murid akan belajar adab. Ketika guru menghidupkan sunnah, murid akan mencintai sunnah.
Sekolah Islam tidak cukup hanya unggul dalam akademik. Keunggulan sejatinya adalah ketika setiap sudut sekolah dipenuhi budaya adab. Salam menjadi kebiasaan, senyum menjadi karakter, sopan santun menjadi identitas, dan akhlak mulia menjadi kebanggaan.
Mari kita mulai dari diri sendiri. Hidupkan kembali SOP warisan Rasulullah Saw. dalam setiap aktivitas. Jadilah guru yang menginspirasi melalui keteladanan, bukan sekadar nasihat.
Saatnya kita menjunjung tinggi adab. Karena ilmu tanpa adab kehilangan cahaya, sedangkan adab yang baik akan mengantarkan ilmu menjadi berkah. “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad)
Semoga Allah Swt. menjadikan kita para pendidik yang mampu mewariskan ilmu sekaligus adab kepada generasi penerus, sehingga lahir generasi yang saleh, cerdas, berprestasi, dan berakhlak mulia.
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...
Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...
Belajar Bernapas di Tengah Sesak
Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...
Sang Pencari Makna
“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...
Menolak Politeisme Politik
Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...
Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta
Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...
Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku
“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...
Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental
Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...







